Nature dan Nurture

Irma Susanti Irsyadi
Karya Irma Susanti Irsyadi Kategori Psikologi
dipublikasikan 01 Juli 2017
Nature dan Nurture

2500 tahun yang lalu, orang Yunani kuno percaya bahwa kepribadian seseorang banyak dipengaruhi oleh intensitas "cairan" yang ada dalam tubuh, seperti darah, lendir dan empedu.

jika seseorang memiliki darah yang berwarna menyala dan kental, maka diperkirakan orang tersebut berwatak berani.

Oleh karenanya, di awal abad 19, pengobatan bagi pasien gangguan jiwa banyak menggunakan metode lintah (menyedot dan mengeluarkan 'darah kotor' dari tubuh).

Orang-orang Babylonia yang pertamakali memperkenalkan astrologi percaya bahwa tindak tanduk manusia amat dipengaruhi oleh peredaran planet.

Dari sinilah awal mula kita memiliki 12 lambang zodiac yang menandai bulan kelahiran kita.

Saat ilmu Biologi berkembang, manusia dikejutkan kembali dengan teori bahwa kepribadian manusia ternyata diwariskan secara hereditas dari kedua orangtua.

Orangtua tidak hanya mewariskan warna mata, warna rambut atau karakteristik fisik lainnya, namun juga banyak yang percaya bahkan kepribadian pun dipengaruhi faktor genetis.

Jika kau termasuk anak yang ceria dan supel, mungkin ayahmu atau ibumu juga dulu begitu. Sehingga ketika kita menemukan ada anak yang berbeda jauh dari orangtuanya, seringkali kita mengatakan, "Ih beda ya sama ayahnya/ibunya ...".

Ketiga teori di atas yang disebut dengan teori Nature.

Pendukung teori ini percaya bahwa manusia mendapatkan sifat-sifatnya dari sejak ia dilahirkan. Seluruh perangkat yang melengkapi tindak tanduknya adalah merupakan kombinasi dari serangkaian gen yang diturunkan oleh kedua orangtuanya.

Teori ini sedikit banyak menjadi populer karena amat dipengaruhi oleh Darwinism.

Berlawanan dengan teori nature, adalah teori nurture.

Teori ini mengatakan bahwa sifat, tingkah dan kepribadian manusia semata-mata terbentuk akibat pola asuh dan lingkungan dimana manusia itu tinggal.

John Locke di awal abad 17 menamainya dengan tabula rasa atau blank slate. Sehingga, meskipun kamu terlahir sebagai anak dari keluarga baik-baik (misalnya), jika lingkunganmu tidak sebaik itu, maka kamu bisa saja tumbuh menjadi tidak baik sebaik orangtuamu.

Di luar kedua teori tersebut, ada pula yang menilai kepribadian manusia sama-sama dipengaruhi nature dan nurture.

Faktor gen dan pola asuh serta exposure dari lingkungan sekitar sama-sama berkontribusi terhadap pembentukan kepribadian.

Saya termasuk yang sedikit banyak setuju dengan nurture. Atas dasar pengalaman saja sih. Orang-orang yang saya lihat rata-rata 'terbentuk' akibat pola asuh, dengan siapa mereka bergaul, pengalaman masa lalu macam apa yang mereka miliki dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, sepaket lengkap pengalaman hidup pasca lahir ke dunia lah yang berpengaruh banyak. Sebab, sering saya saksikan bagaimana seorang anak yang ayah ibunya A, ternyata ia berkembang menjadi B, C, D dan seterusnya.

Sebagai seorang emak dan juga pendidik, saya banyak menyaksikan anak-anak remaja yang tumbuhnya macem-macem.

Pun ketika mereka terdidik di lingkungan yang sama, tinggal di kota yang sama, sekolah di sekolah yang sama, hasil akhir bisa jadi berbeda. Jangan dikira seorang anak yang kita masukkan ke sekolah tertentu yang hasil akhirnya diharapkan akan menjadi A, anak tersebut akan berakhir dengan A (ngerti ga sih? haha).

Saya kenal beberapa orang yang datang dari keluarga agamis, bersekolah di sekolah yang baik, berteman dengan orang-orang beragama, dan mereka ateis.

Apa yang terjadi? sepertinya ada banyak faktor tambahan yang luput dari teori nature dan nurture. Apakah karena buku-buku yang dibaca? apakah pengaruh film? apakah sekedar ikut-ikutan? Entahlah, tak ada jawaban pasti. Sebab pendirian seseorang bisa jadi perkembangannya hanya yang bersangkutan sendiri yang tahu.

Cerita dari teman, ada seorang anak yang ayah ibunya pintar secara akademis. Ia bersekolah di sekolah swasta bergengsi, nilainya selalu tinggi. Beres SMA, ia diterima tanpa tes di sebuah perguruan tinggi negeri yang amat bergengsi. Di semester 2, ia memutuskan berhenti kuliah dan tidak ingin melakukan apa-apa. Literally, hanya diam di rumah.

Ayah ibunya shock dan bingung, harus diapakan itu anak. Padahal secara genetis, ia sudah didukung 'perangkat canggih' sejak dari dalam kandungan. Ketika tumbuh, lingkungan diatur sedemikian rupa sehingga memberikan overall support. Hasil akhirnya tetap tidak sinkron.

Manusia memang bukan barang yang dari tahap produksi hingga distribusi bisa dicek secata menyeluruh. Manusia tidak bisa dinilai dari kecacatan dan tidak bisa disimpan dalam kategori 'reject', yang kemudian dijual setengah harga atau bahkan lebih murah.

Jika barang hanya butuh maintenance secara kasat mata, maka manusia jauh melebihi itu. Sebab yang kalian gerakkan setiap hari bukan hanya otot dan syaraf, bukan hanya menggunakan sinkronisasi otak dan sensor motorik.

Sebab di dalam batok kepala kalian ada yang disebut akal, yang tidak terjangkau oleh mesin canggih buatan Jerman.

Jangkaulah bagian dada kalian, di sana tersimpan hati. Yang ini bahkan jauh lebih misterius daripada novel suspense nya Stephen King. Sebab hati tak tertebak, tak teraba. Dalamnya laut bisa terukur, dalamnya hati siapa yang tahu, begitu ujar pepatah.

Salam.

 

 

  • view 74