Intuisi

Irma Susanti Irsyadi
Karya Irma Susanti Irsyadi Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Juli 2017
Intuisi

 

Seorang teman pernah mengatakan,

"if prayers is the way you talk to God, then intuition is how God talks to you ..."

Maknanya kurang lebih, jika doa kita panjatkan untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan, maka intuisi adalah cara Tuhan berkomunikasi dengan kita.

Intuisi adalah lintasan hati, isyarat yang diberikan oleh hati. Dalam psikologi ia disebut "unconcious knowledge" sebab pengetahuan ini didapat tanpa sadar. Pernahkah kau merasa bahwa seseorang tidak menyukaimu padahal ia belum pernah mengatakan apa-apa? Boleh jadi itu intuisimu yang mengambil alih. Atau saat kita yakin pada sebuah pilihan padahal kita sama sekali tidak dibekali ilmu mengenai pilihan yang kita ambil.

Jika demikian, maka intuisi bersifat amat personal. Sesuatu yang bagimu biasa, mungkin tidak bagiku. Dalam perspektif budaya lokal, intuisi bisa diasosiasikan dengan "firasat". Saat hatimu merasa cocok atau tidak dengan sesuatu.

Teori ini mungkin saja benar mungkin tidak. Sebab tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana cara hati bekerja atau cara jiwa meraba. Namun satu yang saya yakini, bahwa hati tidak bisa berbohong. Sebab di kala melakukan dosa pun sejujurnya kita tahu, hanya kita pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu.

Situasi politik di Indonesia yang sudah merambah ke jendela kamar sosial media kita memerangkap saya dalam sebuah tatanan yang kemudian memiliki label. Dimana saya berpijak, condong ke arah mana pikiran saya, disitulah label saya akan disematkan.

Entah sudah kali ke berapa saya harus menjawab pesan atau sekedar komentar yang mempertanyakan dimana posisi ini. Tersirat maupun terang benderang. Berkali saya harus menghela napas hanya untuk sekedar mengeluh betapa dunia tidak sepolos yang dulu saya kenal. Betapa orang-orang tak setransparan itu lagi. Lelah hati untuk bisa menangkap kalimat-kalimat bersayap yang harus saya artikan secara harafiah maupun berkias.

Dan berulangkali pula mesti saya yakinkan mereka bahwa mungkin mereka menyangka saya begini dan begitu. Mungkin mereka ingin saya mengikuti cara yang mereka tahu. Mungkin mereka ingin mengkonfirmasi keikutsertaan saya dalam semangat kolektivitas mereka. Tapi jawaban saya tetap sama. Saya sandarkan hati dan akal ini hanya pada pemilik-Nya.

Sebab hati tak pernah bohong.

  • view 56