Serumpun17

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 11 September 2018
Du2 SerumpuN

Du2 SerumpuN


Kali ini saya akan bercerita mengenai dua negara tetangga yang dekat dengan negara kita. Aku belajar banyak dari perjalanan kali ini, aku lebih banyak mengobrol dengan penduduk lokal dan belajar dari mereka.

Kategori Petualangan

467 Hak Cipta Terlindungi
Serumpun17

Serumpun 17

Badan yang mulai terasa lelah dan perut yang sudah terisi kenyang meminta haknya untuk diistirahkan dengan baik dan benar. Aku berjalan hati-hati, takut mengganggu dua orang laki-laki yang kulihat sudah terbujur di ranjang male dorm. Kutenteng sepatu supaya aku tak mengeluarkan suara dan kubuka pintu kamar dengan hati-hati.

Kosong.

Mana? Katanya ada teman baru.

Aku lihat ada onggokan baju dan sebuah tas perempuan. Cewek banget.

Kurebahkan badanku di ranjang tingkat dan memejamkan mata sejenak. Niat untuk membersihkan muka agak malas kutunaikan, namun teringat belum shalat isha memaksaku untuk segera bangkit dan meraih handuk beserta toiletries secepat kilat.

Jebar jebur aku mandi. Agak kurang nyaman juga, karena letak kamar mandi bersebelahan dengan male dorm. Saya curiga yang design hostel ini adalah orang asal, kurang praktis! Masa iya tiap kali ke mau ke kamar mandi harus lewatin male dorm nya. Ya mending ada sekat atau gimana? Ini nge blong aja male dorm nya. Jauh banget sama yang di Singapura. Ah, sudahlah. Toh aku juga punya hak ku untuk mandi dan membersihkan badan.

Aku kembali ke kamar.

Masih belum ada orang? Where’s my roommate?

Baiklah, aku langsung menggelar sajadah, menunaikan kewajiban.

Belum selesai aku menengok ke kanan dan ke kiri untuk salam, suara pintu kamar terbuka.

Setelah diam beberapa saat untuk berdoa, aku menoleh ke sisi kanan dan tersenyum kepada seorang wanita diatas ranjang. Bolehlah dia kutaksir sekitar empat puluh lima atau lima puluh tahunan. Fisiknya tinggi besar, rambutnya bergelombang lebat. Dia membalas senyumku.

Kuulurkan tangan sembari menyebutkan namaku.

“Dari mana?”

Pertanyaan pertama darinya.

“Indonesia”

Aku menjawab singkat seperti biasa.

“Wah tetangga kita”

Aku tahu dia pasti warga lokal. Kemudian obrolanpun mengalir dengan hangat. Kami saling bercerita, tepatnya dia yang lebih banyak bercerita. Aku memanggil dia dengan sebutan Kaka, Ka Izma namanya. Sama seperti halnya Pakci taksi yang aku temui di Singapura, Ka Izma juga sudah berkelana menjelajahi Indonesia. Malu rasanya aku yang hanya bisa dihitung dengan jari tempat-tempat yang sudah aku datangi ditanah airku sendiri. Ka Izma memiliki positive impression tentang Indonesia.

“Sayeu sukeu travelling di Indonesia. Orangnya baik dan tidak tipu-tipu. Teksi nya bisa dipercayeu. Sayeu selalu pake teksi warna biru. Di Malaysieu nih kalau bisa tak usah pake teksi.”

Ka Izma terus saja bercerita tentang Indonesia. Mendengar cerita Ka Izma aku merasa dia lebih kenal Indonesia daripada aku sendiri. Ceritanya semakin seru ketika dia berkisah tentang pengalamannya bepergian ke luar negeri. Dia banyak menyarankan aku pergi ke negara-negara yang menurut dia deserve to visit before you die. Aku semakin merasa tak berdaya.

Kapan aku bisa mengunjungi teman-teman ex intern ku yang tersebar hampir diseluruh jantung dunia. Nicky di Jerman, Amal dan Ben di Tunisia, Salma di Mesir yang baru saja hijrah ke Dubai, Ha di Vietnam, Mila dan Elena di Rusia, Iulia dan Costia di Kiev, Simona di Slovakia, Karolina di Poland, Irish di Perancis. Guy di Ivory Coast, Pedro, Victor dan Lali di Brazil, Mahhet di Ethiopia, belum lagi cewek-cewek eksotis dari Maurutius, hingga teman-teman dari Taiwan dan China. Mereka selalu bertanya, “When do you plan to visit.....” jika kami saling sapa di ruang chat. Aku hanya baru merintis visit ini ke tetangga terdekat, Daraz di Malaysia.

Ah, tiba-tiba ragaku yang masih terbungkus mukena sepertinya terbang meninggalkan female dorm ini dan bertamasya seorang diri menemui teman-teman masa silamku di India.

 

  • view 11