Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Agustus 2018   12:02 WIB
Serumpun12

Serumpun 12

Aku memencet bel disamping kiri ketika menyadari tak bisa membuka pintu kaca. Cahaya dari dalam hostel yang terang benderang memberikan banyak kontribusi temaramnya jalanan. Dari dinding kaca aku bisa melihat dengan jelas seorang wanita berambut pirang tengah mengotak ngatik PC didepan mukanya. Aku nylonong masuk dengan pede nya namun tetiba menciut ketika perempuan pirang itu menghardik dengan keras.

“Buka kasut!”

Kasut??? Aku masih melongo, apa yang salah denganku sampai dia harus berteriak begitu. Aku masih mencoba menerka, gerangan apa arti kata baru yang aku dapati, kasut! Ingatanku dengan cepat mengingat benda berwarna hitam yang pernah ngetrend ketika aku beranjak sekolah menengah pertama, K-Zoot! Mungkinkah maksudnya sepatu??? Belum lagi memori otakku berproses dengan sempurna, sang resepsionis langsung mengarahkan pandangan matanya kepaling bawah tubuhku.

“Simpan kasut diluar. Your shoes”

Okeh confirm, kasut adalah sepatu! Access valid!

Aku kemudian berbalik badan dan menyimpan sepatuku di rak yang berjajar rapi dengan beberapa sepeda di depannya.

“Bukti booking”

Yaelah, nih resepsionis kagak ada someah-someahnya pisan. Aku langsung menyerahkan selembar kertas kepada dia. Lama dia mengerutkan dahi, terlihat bingung.

“You tinggal berapa lama?”

“Dua malam”

“Hmm, kenapa di komputer cuma satu malam sahaja?”

Dia masih kelihatan bingung, aku biarkan saja, bahkan pura-pura tidak mengerti. Dalam hati aku sedikit jingkrak-jingkrak. Aku memang booking untuk satu malam awalnya, namun setelah difikir-fikir ngapain jauh-jauh dari Singapore cuman menikmati satu hari di Melaka, maka aku merevisi booking hostelku. Dia masih saja kutak-kutik antara bukti print bookingan ku dengan PC dihadapannya.

“You booking satu atau dua malam”

“Dua malam”

“AC atau fan?”

“Maksudnya?”

“Dikomputer booking AC tapi di kertas you booking fan”

“Apa bedanya?”

“Beda harganya. Pakai AC 40 ringgit, pakai fan 20 ringgit”

“Pakai fan saja”

“Okay okay”

“Dia manggut manggut sambil mengutak-ngutik PC nya kembali”

“Passport”

“Dia mulai menulis nota, lama sekali, untuk menuliskan namaku saja entah berapa lama bola matanya berkedip-kedip, dan kuperhatikan tulisannya tak bagus”

“40 ringgit”

 

Kuserahkan uang selembar 50 Ringgit dan menerima 10 ringgit kembalian. Entah mengapa setelah transaksi selesai dan dia melihat uang, air mukanya tiba-tiba berubah ramah. Dia pun berubah memanggil aku dari “you” menjadi “aka”.

“Aka boleh bawa kasutnya ke bilik. Simpan diatas saja, kalau diluar tak aman. Tapi kalau aka masih mau keluar lagi simpan saja dulu kasutnya diluar.”

Aku mengangguk-ngangguk menjelaskan penjelasannya, termasuk penjelasan mengenai kunci kamar, sepeda, kamar mandi dan balkon belakang yang menghadap ke riverside Melaka, termasuk jam berapa dia akan mengunci gerbang belakang. Aku sedikit tertegun di balkon belakang. Seorang lelaki tua tengah duduk menghadap riverside. Pria itu tinggi kurus, memakai celana pendek dan kemeja kotak-kotak. Kusapa hallo, namun dia hanya melihat kearahku acuh tak acuh, pun tak membalas sapaanku.

Hostel ini amat sangat sederhana dan minim hiasan. Tidak seperti Five Stones hostel yang begitu colorful, aku merasakan bulu kudukku agak berdiri ketika dibawa ke lantai atas, tempat bilik (kamar) ku, mendadak hostel ini menjelma menjadi lokasi syuting film horror versi Indonesia, spooky, itulah kesan pertamaku.

Aku melewati male dorm dimana berjejer lima ranjang kosong. Ada lelaki tua lagi dengan tatapan yang tajam kearahku.  Aku adalah pengagum coach bola Pep Guardiola karena dia cool dan berkepala plontos, namun pria tua dihadapanku tidak cool meskipun dia botak licin. Kembali kulemparkan senyum dan sapaan hallo kepadanya, bukan balasan sapaan hangat yang aku terima, dia malah menatapku dan melengos. Asyem! Senyum manis gue udah ditolak dua kali sama pria-pria tua itu. Salah juga sih harusnya aku tak usah tersenyum, namun gimana ya karakter orang Indonesia yang senang tersenyum ini selalu saja melekat kuat didadaku.

Aku terus membuntuti sang resepsionis menuju female dorm. Ternyata oh ternyata dia ada diujung! Ini semakin membuat aku tambah merinding. Lampu sepanjang lorong inipun temaram. Membayangkan nanti jika aku mau ke kamar mandi itu aku harus melewati dua orang pria tua yang asyem ditengah temaramnya pencahayaan membuat aku serasa menjadi aktris film horor! Lengkap sudah skenario di Malaka ini. Mungkin jika dibuat oleh sutradara jaman dulu, judulnya akan jadi seperti ini, “Misteri Hostel Malaka”.

 

 

 

 

Karya : Irma Rahmatiana