Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Agustus 2018   11:54 WIB
Serumpun10

Serumpun 10

“Berapa hari di Melaka?”

“Dua hari”

“Langsung pulang ke Serpong?”

“Ke KL satu hari”

“Setelah itu pulang?”

“Yup”

“OK”

 

Percakapan singkat petugas imigrasi adalah bukti bahwa aku sudah resmi memasuki wilayah Malaysia. Sebelumnya mengantri didepanku pasangan Latina yang tak segan menebar romansa. Sang pria bertato gambaran hot guy pria-pria Latin yang tak segan meremas manja tangan dan rambut sang gadis blonde berpostur jangkung bak model. Lelaki ini seperti ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia sedang jatuh cinta. Diapun tak segan menciumi pipi gemas sang kekasih yang sedikit chubby. Kurasa sang wanita merasa tak enak hati, dia kelihatan kurang nyaman dengan perlakuan sang kekasih.

Sudah kualihkan pandanganku ke tempat lain namun aku tetap tak bisa menghindari pemandangan ini karena mereka tepat berada didepanku. Segerombolan wanita disebrang antrianku ternyata memperhatikan mereka juga. Sama seperti aku, mereka kelihatannya ingin membuang muka dari pandangan ini. Namun seperti tak peduli, sang pria tetap saja mempertontonkan PDA yang tak habis-habis, rupanya cewek blonde ingin “membungkam” tingkah sang kekasih dengan mendaratkan satu ciuman mesra di bibir nya. Sangat cepat dan singkat sekali. Sang lelaki kelihatan puas dan tersenyum bahagia.

Untuk traveller jomblo macam aku, pemandangan ini memang memuakkan namun kadang aku tertawa geli sendiri dengan para lovebirds yang biasa aku temui selama solo travelling. Ingatanku selalu mengingat pada Nicole, ex roomate ku asal Jerman. Bagi dia dan Simon, kekasihnya, life is about travelling and loving. Travelling sudah menjadi darah daging mereka. Mereka sudah berkeliling dunia berdua saja, termasuk di Indonesia. Aku sudah menjadi saksi cinta mereka ketika Simon memeluk Nicky dengan sempurna di puncak Bromo dan terkadang memegang tangannya dengan erat ketika di Pananjakan. Tuhan, meskipun Engkau telah menulis nasibku sejak Engkau meniup ruh dalam kandungan ibuku, tolong catatkan dalam Lauhul Mahfuz-Mu bahwa aku juga ingin seperti mereka dengan suamiku kelak! #doa pake serius :p

Baru kusadari ternyata didalam bis kami begitu beragam. Selain pasangan Latina tadi, pasangan suami istri asal Indonesia, penduduk lokal Melayu dan Chinese, ada juga traveller jomblo lainnya macam aku yang begitu asyik menikmati diri sendiri. Aku rasa, kami, para jomblowers tak mau sedikitpun terusik dengan dunia kami masing-masing. Dua lelaki kukira dari Brazil dan Perancis sibuk dengan gadget dan handphone di tangan. Sementara aku sibuk dengan cemilan yang aku beli diperbatasan tadi. Aku membeli sebotol air mineral, bakpau kelapa dan sebuah chicken burger bertuliskan “Ramly”. Ini adalah lunch on the go-ku.

Perasaan bahagia yang teramat sangat membuat aku lupa bahwa aku telah men skip makan siang ku di Singapura. Cacing perut meminta jatahnya ketika waktu hampir menunjukkan jam lima sore, kebetulan pula bis berhenti sejenak dan kami punya jatah ke kamar kecil dan mencari jajanan. Bis terus berlari dengan kencang. Melewati Johor Bahru (JB) kampung halaman Pakci cruise di Singapura dan tempat kediaman Daraz teman ex-intern ku di India, rasanya aku harus mengakui kemajuan Malaysia yang jauh meninggalkan negara kita dalam hal kenyamanan dan ketetapan transportasi dan infrastruktur.

Selepas perbatasan nyaris tak kurasakan lubang jalanan atau kemacetan. Semuanya lancar. Jalanan mulus dan bersih serta rapi. Sepanjang perjalanan sore hingga petang hari menjelang maghrib kami disuguhi breathaking view Johor Bahru. Daraz selalu bercerita bahwa Johor Bahru adalah kota kecil, tak ada yang special disana. Namun berbeda ketika Pedro yang mengatakannya.

Pedro yang menemuiku di Jakarta beberapa tahun yang lalu berkata bahwa Johor memang kota kecil namun orang-orang disana sangat luar biasa ramah. Pedro dan Daraz memang rendevouz di Malaysia, flatmate di India ini memang cocok meskipun saling bertentangan dalam karakter. Dan akupun tak sabar untuk menemui Daraz, ingin aku tanyakan pertanyaan yang dulu menggantung ketika kami berpisah di stasiun kereta di Chandigarh empat tahun yang lalu, sudahkah ia menemukan Tuhan yang selalu ia cari?  

Karya : Irma Rahmatiana