Serumpun9

Serumpun9

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Agustus 2018
Du2 SerumpuN

Du2 SerumpuN


Kali ini saya akan bercerita mengenai dua negara tetangga yang dekat dengan negara kita. Aku belajar banyak dari perjalanan kali ini, aku lebih banyak mengobrol dengan penduduk lokal dan belajar dari mereka.

Kategori Petualangan

203 Hak Cipta Terlindungi
Serumpun9

Serumpun 9

“Drama Random Check in” adalah hal yang paling banyak menghiasi wall group jalan-jalan belakangan ini. Singapura memang menetapkan system check in yang ketat. Masih segar dalam ingatanku ketika sampai di Imigrasi Singapura, seorang wanita tertahan begitu lama didepan petugas imigrasi yang ditanyai macam-macam, padahal dia berdiri terlebih dahulu dari aku dan satu orang antrian masih ada di depanku. Seorang petugas imigrasi, lelaki tua berseragam jaket kuning, menyuruh aku mundur sedikit karena aku menginjak garis kuning antrian.

Masih kuingat ketika touched down Singapura semalam yang lalu. Imigrasi adalah gerbang masuk suatu negara. Malam itu masih kuingat ketika seorang wanita telah selesai, petugas imigrasi didepanku memberikan isyarat agar aku maju. Petugas imigrasi di depanku adalah seorang ibu tua berkulit legam khas India atau Bangladesh. Dia menyebut namaku dan aku hanya menjawab “yes”. Dia kemudian meminta aku memindai sidik jari dan mempersilahkan aku enyah dari hadapannya.

Kini aku sudah berada diambang batas perbatasan Singapura-Malaysia. Aku duduk tepat dipojok sudut bis dan tak jauh dari tempat aku duduk adalah pasangan suami istri yang memberikan senyum manis khas orang Indonesia. Kami kemudian bercakap-cakap dengan hangat. Pasangan yang separuh baya ini hendak menghabiskan empat belas hari di Malaka untuk berlibur sekaligus berobat, menurut sang istri. Namun dengan cepat disanggah sang suami.

“Sebenarnya kami berobat sekalian berlibur”

Sang suami terkekeh-kekeh. Entah mana yang benar, yang jelas kami menghabiskan waktu bersama selama perjalanan dengan rasa senang dan gembira.

Kami bergegas mengantri kembali ketika bis berhenti untuk proses imigrasi keluar Singapura. Pasangan suami istri tak jauh dari hadapanku. Kami beriringan berdiri didepan petugas mengantri seperti tak mau berpisah kembali. Sungguh khas identitas negara kita.

Bis kembali melaju dengan kecepatan sedang.

Hanya sehari saja aku di negara Singa, namun begitu banyak yang aku pelajari. Ketaatan petugas kepada negara, menjadi warga negara yang baik dan benar, system transportasi yang cepat, efektif dan efisien juga petugas yang tanpa basa-basi namun helpful.

Singapura, bagiku adalah gambaran dari value diversity. Dia amat sangat terbuka dengan perbedaan dan amat sangat siap dengan kompetisi. Resepsionis hostel tempat aku menginap kukira adalah contoh dari diversity. Indian, Chinese dan Melayu. Ketika aku meninggalkan hostel, tiga-tiganya berkumpul dimeja resepsionis dan saling bercanda. Menyadari aku dari Indonesia, abang resepsionis yang seorang Melayu selalu menerjemahkan bahasa Inggris dua temannya yang India dan Chinese. Aku tak keberatan berbicara bahasa Melayu, meskipun aku lebih nyaman berbahasa Inggris karena percakapan akan lebih sigkat dan langsung dimengerti kedua belah fihak karena walau bagaimanapun meskipun kita serumpun dan satu akar, ada beberapa kata yang terkadang jauh berbeda arti dan makna.

Segerombolan anak sekolah yang aku temui di jembatan bebas berkendara dengan sigap dan seksama mendengarkan sang guru yang nyaman berbahasa tiga, Melayu, Mandarin dan Inggris ketika mengajak mereka menjaga kebersihan sungai Raffles. Para pengajar kulihat seorang laki-laki yang memegang corong mikrofon bermata kecil menyempit, seorang ibu berjilbab yang aku yakin adalah seorang Melayu dan seorang ibu-ibu India berkulit gelap.

Singapura begitu sibuk, tak ada waktu berbasa-basi. Semua diselesaikan dengan mesin. Jalanan tak perlu polisi karena dimana-mana ada cctv. Jalanan bersih, tak bersampah. Semua orang senang dengan kebersihan yang memang sebagian pengamalan dari iman. Namun, rasanya sekali saja cukup bertandang ke Singapura. Aku senang, tapi tak merasa betah disana. Aku ingin segera sampai Malaka...

 

 

  • view 12