Serumpun8

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Agustus 2018
Du2 SerumpuN

Du2 SerumpuN


Kali ini saya akan bercerita mengenai dua negara tetangga yang dekat dengan negara kita. Aku belajar banyak dari perjalanan kali ini, aku lebih banyak mengobrol dengan penduduk lokal dan belajar dari mereka.

Kategori Petualangan

472 Hak Cipta Terlindungi
Serumpun8

Serumpun8

Waktu menunjukkan jam dua ketika aku berjalan kembali ke hostel. Bugis street mulai ramai dan makin ramai. Suasana ini seperti halnya kota besar Jakarta, orang-orang sibuk lalu lalang untuk makan siang. Di Singapura, kehidupan seperti melambat meskipun nyatanya bergerak amat sangat cepat. Satu jam perbedaan waktu dengan tanah air begitu signifikan. Ketika aku terbangun tadi pagi, aku begitu kaget mendapati jam tujuh yang masih gelap dan sunyi senyap. Akupun kaget sendiri karena jika dikamar kos ku jam tujuh sudah terlalu terlambat untuk shalat subuh.

Setelah duduk sejenak dan minum dua gelas air mineral aku meminta izin untuk melaksanakan shalat zuhur sekaligus jamak ashar diruang tamu karena aku sudah check out. Petugas resepsionis siang ini adalah seorang gadis Chinese berambut indah nan anggun. Duduk disampingnya sang gadis India yang menyambutku tadi malam.

Aku menanyakan jasa charging handphone karena adapterku tidak match dengan stop kontak.

“You can charge until fully charging for 30 dollars”

SGD 30??? Harga yang fantastis untuk sekedar charging handphone. Namun karena tak berdaya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun komunikasi amat sangat perlu. Aku menyerahkan 50 dollar Singapore. Jumlah yang harus dibayarkan termasuk untuk deposit.

Jam bergerak ke angka tiga. Ponselku sudah tujuh persen charging. Ada dua pilihan, menghubungi sang asisten cruise dan keliling Singapore atau mengikuti saran Pakci untuk langsung berangkat jam tiga on the way ke Malaka.

Aku mengetuk-ngetuk meja dengan jari jemariku. Jika aku pergi bersama sang asisten, aku akan ke Malaka sekitar jam lima an, perjalanan empat sampai lima jam, kira-kira tiba jam sepuluh malam di Malaka. Jika aku mengikuti saran Pakci, aku punya banyak waktu untuk berjalan sendiri dan sampai di Malaka dengan tanpa terburu-buru.

Waktu terus bergerak. Aku berdiri mendekati meja resepsionis.

“I want to return the adapter and do you know where the Queenstreet bus station?”

Sang gadis India dengan sigap mengambil adapter yang aku letakkan dan mengembalikan 20 dollar uang depositku.

“Okay, you go to the first red light, go straight and you will see Auston sign. The bus station is behind that building.”   

“Thank you.”

Aku mengambil backpack ku dan pamitan. Aku berjalan sesuai arahan sang gadis India sambil sesekali menikmati Bugis street yang makin ramai. Bugis street seperti jalan Braga bagiku. Mural arts dimana-mana. Jalanan kecil namun manis dan bersih. Seperti arahan sang gadis India, aku menemukan Queenstreet dengan mudah. Terminal bis ini kecil saja. Pun kegiatannya tak terlalu mencolok. Hanya ada beberapa counter buka. Counter rata-rata bertuliskan Mandarin, Inggris dan Melayu.

“Mahu kemana?”

“Malaka”

“Bila?”

“Sekarang”

“Berapa orang?”

“Satu orang”

Sesi tanya jawab singkat dan padat ini berlangsung tak kurang dari lima menit. Lelaki Chinese berperawakan lanky duduk didepan komputer disamping wanita tambun berbaju biru. Dengan cepat sang wanita menyerahkan aku selembar tiket Singapore-Malaka sambil menyebutkan sejumlah uang yang harus aku bayarkan.

“Tunggu dimana Pakci?”

“Tunggu disitu sajeu nanti bis nya datang”.

Tak sampai sepuluh menit no bis yang sesuai tiketku berhenti disebrang jalan aku berdiri. Aku menunjukkan tiket dan langsung mencari kursiku. Dalam beberapa jam kedepan aku akan meninggalkan Singapura dan menuju perbatasan Singapura-Malaysia untuk melihat Malaka, tepat yang sudah sangat lama ingin aku lihat.

 

  • view 29