Serumpun5

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 27 Juli 2018
Du2 SerumpuN

Du2 SerumpuN


Kali ini saya akan bercerita mengenai dua negara tetangga yang dekat dengan negara kita. Aku belajar banyak dari perjalanan kali ini, aku lebih banyak mengobrol dengan penduduk lokal dan belajar dari mereka.

Kategori Petualangan

466 Hak Cipta Terlindungi
Serumpun5

Serumpun5

Karena cruise lama tak kunjung datang, kami meneruskan perbincangan kami.

“Ms.Dolly, can I ask you for a help”

“What is that?”

“My mobile phone is totally off, its running of the battery. May I borrow your charger and charge here?”

“No, I can’t help you”

Kukira dia akan berhenti sampai disini. Nyatanya tidak temans. Dia terus nyerocos. Sama seperti Pakci taksi tadi malam. Raut mukanya kini mulai menampakkan sinar kepatuhan dan ketegasan sebagai petugas negara. Tidak boleh melakukan kontak apapun dengan barang-barang milik customer, tidak meletakkan barang-barang yang bukan pada tempatnya, semuanya harus sesuai aturan.

“The cctv is everywhere. If do something which not include in job desc, the police will catch me.”

Kami mulai ngobrol serius sekarang. Tak ada lagi tertawa terbahak-bahak.

“Come here, follow me, I’ll show you where are the cctv” 

Aku mengekor dia dari belakang. Dia berjalan hampir ke tepian sungai. Kami saling berhadapan.

“Look, I can’t point the cctv, but follow my eyes”

Aku mengangguk dan mencoba mengikuti arah kedua matanya.

“That’s the first cctv”

Matanya bergerak kekanan atas. Aku mengikuti gerakan mata kecilnya. Dia kemudian mengulangi kalimat dan gerakan mata yang lainnya. Baru aku sadar bahwa memang cctv dimana-mana, bahkan ditempat yang tersembunyi sekalipun! Diarea tiket box dan vending machine sekalipun terpasang cctv. CCTV ini terhubung langsung dengan kantor kepolisian. Jadi jika kamu melakukan pelanggaran dan mencoba untuk mengelak, jelas kamu tak akan bisa.

“Now you understand? I cannot help you? So don’t angry to me lah, okay.”

[Nah! Aku baru mendengar aksen Singlish yang sering orang bicarakan. Gotcha!]

“Yes, I understand”

“Don’t angry lah”

Dia mengulangi kalimat Don’t angry dengan logat Singlish nya. Lama-lama aku menggandrungi logat original Singlishnya.

“No offence okay, don’t angry because I just working here.”

“Sure, I’m not angry. I definitely understand”

Entah karena darah Asia yang suka ga enakan, dia sepertinya merasa tidak nyaman dan terus-terusan berkata “Dont angry to me”. Padahal sih aku sudah biasa-biasa saja. Paling juga sedih ga bisa foto-foto selfi untuk bukti bahwa aku sudah sampai di negeri singa ini.

“You know, Singapore government is very strick with the rules. Be careful. Dont spit everywhere, dont damage public facilities, dont say bad words to the employee and many more. Otherwise the police will catch you based on cctv. All cctvs’ in Singapore link with police. Save your SGD 200 in your pocket, not in government pocket, okay. Understand?”

Sang biduanita mengakhiri ceramahnya ketika cruise yang kami nantikan datang menepi. Dia melepas kunci rantai mempersilahkan aku memasuki tangga menurun untuk menaiki cruise.

“Thank you for our nice conversation”, aku menjabat tangannya.

“You’re welcome. Enjoy the cruise”

Dia kemudian berbicara bahasa China dengan petugas cruise.

 

  • view 43