Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 27 Juli 2018   15:36 WIB
Serumpun3

Serumpun3

Tak ada sapaan basa-basi ataupun senyuman ramah diwajah perempuan India yang duduk di meja resepsionis ketika saya memasuki hostel mungil ini. Pertanyaannya langsung straight to the poin, booking atas nama siapa?

Proses check in berlangsung secepat kilat. Gadis India berambut hitam legam namun bercat merah marun ini kemudian menunjukkan saya female dorm tempat dimana saya akan tidur malam ini. Seperti kebanyakan orang India yang sudah saya kenal, bicaranya cepat dan aksen khusus ketika dia berbicara bahasa Inggris dan tentu saja sedikit goyangan kepala nya. Dia menerangkan semua hal dengan singkat dan efisien.

“This is your bed. Good night”

Itulah kalimat yang menutup pertemuan kami. Kamar yang didominasi warna putih ini adalah kamar ukuran memanjang dengan dengan delapan ranjang susun yang terisi penuh termasuk dengan kedatangan saya. Hampir semuanya sudah tertidur pulas karena memang sudah tengah malam. Saya meletakkan backpack dan secepatnya bertukar baju dan mencuci muka.

Kelelahan tadi malam membuat saya tersadar ketika seorang perempuan cantik menyalakan mesin pengering rambut. Dia tersenyum kalem dengan hair dryer ditangan dan bathrobe putihnya. Saya tanpa ba bi bu langsung ke toilet dan berwudhu untuk shalat subuh.

“You should face there. The kiblat is there”

Gadis cantik berambut kriwil itu berbicara pelan sambil menunjuk suatu arah yang bertentangan dengan arah shalat yang sudah saya tunaikan.

“But its okay, you have finished”

Kami tak sempat berbasa-basi karena hari masih terlalu pagi dan aku tak mau mengganggu yang lain. Gadis cantik yang lain, tepat berada didepanku sibuk merapikan ransel backpacker nya. Posturnya mengingatkan aku akan sosok penyanyi Katy Perry, cantik sekali dia. Sama halnya seperti si wanita kriwil diapun hanya tersenyum. Tidur di dorm  benar-benar mengajarkan saya arti privacy ketika kita berada diarea komunal. Ini adalah pengalaman pertama bagi saya tinggal di dorm, setelah sebelumnya saya selalu tinggal di kamar private.

Saya keluar kamar kira-kira jam sembilan untuk selanjutnya sarapan pagi dan berkemas menikmati cahaya pagi Singapura. Saya tidak punya itinerary yang saklek untuk Singapura. Saya hanya ingin menikmati Singapura, melihat warga nya dan mencoba alat transportasi MRT, seperti yang sering murid-murid saya ceritakan dikelas ketika mereka usai liburan di Singapura.

Ya, saya hanya penasaran dengan Singapura. Meskipun tujuan utama perjalanan ini  adalah Melaka namun touch down dan mencicipi Singapura dari dekat begitu menggelora. Seberapa modern kah dia hingga orang Indonesia senang melancong ke negara tetangga ini?

Dengan petunjuk abang resepsionis yang seorang Melayu, dia memberitahu aku terminal MRT terdekat dari Bugis Street. Matahari Singapura benar-benar hangat pagi ini. Jalanan ramai dengan para pekerja, mulai dari kulit putih para western, kulit cokelat hingga legam khas Asia dan Afrika, hingga para warga Melayu original.

Aku berjalan dengan riang gembira dengan bekal flyer River Cruise Singapura, maka disanalah aku berkenalan dengan seorang wanita tua penjaga loket karcis yang entertaining dan riang gembira namun tegas tak terkira.

Singapore River tenang dipagi hari. Sang surya ramah dan hangat menyapa. Aku memegang soya bean sebagai bekal perjalanan. Duduk sementara setelah berjalan cukup jauh meninggalkan stasiun Raffles Place, aku benar-benar berbahagia. Singapore River dikelilingi oleh gedung-gedung bertingkat. Orang-orang hilir mudik dengan segala kesibukan dan bahasa yang berbeda-beda. Tak jauh dari tempat aku duduk, serangkaian set peralatan syuting tengah digelar. Mungkin jika di rumahku hal ini sudah menjadi tontonan umat.

 

Karya : Irma Rahmatiana