Into the Wood

Into the Wood

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Wisata
dipublikasikan 26 Juli 2018
Into the Wood

Into the Wood

Seperti biasa, tiap liburan (ga peduli liburan apapun, mau weekend atau long holiday), krucils biasanya minta berenang. Saya sih okeh-okeh saja karena senang main air hihihihi. Catat ya main air bukan berolahraga :p

Tapi kali ini, my bro-in-law mengusulkan pergi ke suatu tempat wisata yang tersembunyi tapi konon sudah didatangi banyak orang bahkan sampai turis mancanegara. Tanpa fikir panjang, saya pun okeh (okeh melulu dah :p), padahal pandangan krucils belum okeh, mereka keukeuh kumeukeuh pengen berenang ajah! Maka dengan segala cara (dan sedikit pemaksaan) mereka pun akhirnya setuju (dengan syarat dan ketentuan berlaku). Syarat dan ketentuanpun disetujui. Maka kami sepakat akan pergi ke Curug Cibeureum, Gn. Gede Pangrango – Sukabumi.

Kami memulai perjalanan lumayan telat. Maklumlah pergi sama krucils yang mana dua diantaranya mulai beranjak abegeh banyak banget drama nya. Tapi tak apa karena kami memang mau santai, tak diburu-buru waktu. Perjalanan dimulai sekitar jam sebelas pagi. Kami tiba dilokasi teng jam 12 siang hari. Oya karena kami menggunakan transportasi umum (karena ga mungkin pake mobil tetangga :p), maka kami harus menuju ke objek Selabintana terlebih dahulu. Tidak ada transportasi umum menuju Pondok Halimun atau yang familiar orang sebut dengan PH. Akang angkot menghargai Rp. 15.000,- per orang untuk sampai ke sana. Tanpa tawar menawar kami langsung setuju, soalnya si Akang nya manis dan sopan pisan J

Untung kami tak menawar, malu rasanya kalo nawar karena jarak dari Selabintana ke Pondok Halimun lumayan jauh gaes. Sebenarnya kalo kamu bawa kendaraan pribadi bakalan lebih enak, karena kamu bisa berhenti dan futu-futu sejenak di spot-spot yang Instagrammable banget buat pamer di sosmed. Perjalanan menuju Pondok Halimun ini didominasi dengan kebun teh yang sejuk dan segar banget khas udara pegunungan.

Tak perlu basa-basi, kami langsung memulai perjalanan memasuki hutan ini. Namun sebelumnya tentu saja kamu harus mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk seharga Rp. 15.000,- per orang. Oya jangan lupa bawa air mineral ya guys kalo kamu mau jalan kesini. Di papan pengumuman jelas disarankan bahwa kamu harus membawa air minum sebanyak 4 liter/orang untuk persediaan sampai ke lokasi. Karena kami geng rempong, kami tak hanya membawa persediaan air minum guys, kami juga membawa bekal makan siang dan snacks beraneka macam hahahahaha, maklumlah pergi sama krucils harus selalu tersedia amunisi yang cukup.

Ga perlu khawatir kalo kamu cape, karena ada pos-pos untuk kamu beristirahat. Yang unik pengalaman pertama kami nanjak bareng adalah, baru sampe pos pertama, rombongan sudah berhenti untuk makan siang hahahaha. Baiklah, mari kita buka ransum dan menikmati bekal perjalanan kita. Makan siang bagus juga untuk mengurangi beban yang kita bawa. Tapi jangan lupa, jangan buang sampah sembarangan yaaaaaaaa, sayang banget kalo air yang herang ngagenclang (baca: jernih/bersih) kamu kotori dengan kemalasanmu membawa sampah sampai kamu bertemu tong sampah kemudian. Percayalah membawa sampah tak seberat membawa beban kehidupan ini wakakakakakakakak :p

Okeh, perjalanan kembali di lanjutkan. Krucils kadang-kadang semangat, kadang-kadang ngeluh. Kadang-kadang bernyanyi riang, bercanda, namun tak jarang grumbling mengekspresikan kekesalannya harus nanjak. Tak apa-apa nak, hidup memang begitu, kadang senang, tertawa, mengeluh, kesal, dan yang lainnya, its normal (ini apa sih :p)

Namun sebenarnya meskipun ini pengalaman pertama mereka nanjak tipis-tipis, harus aku ajungi jempol bahwa mereka sampai ke puncak curug terlebih dahulu, mengungguli kami yang tiga orang dewasa (me, my sissy and my bro-in-law). Mereka mulai sumringah ketika mendengar deburan air (pertanda perjalanan akan segera berakhir). Mereka pun tak segan berteriak girang ketika melihat kilatan cahaya matahari yang memantul dari arah curug. Yup, kurang lebih jam 2.45 kami sampai di curug. Bear in mind, lama perjalanan ini sudah termasuk makan siang, leyeh-leyeh, futu-futu tiada akhir (dengan segala pose), drama membujuk bahwa kami akan segera sampai dan makan pop mie di pos istirahat ;). Kalau kamu pendaki sejati, sebenarnya kamu juga bisa mendaki ke Gunung Gede, tak jauh dari pos pertama setelah kami beristirahat, ada dua jalur. Jalur kanan adalah jalur pendakian Gunung Gede sementara jalur kiri adalah jalur rekreasi (Curug Cibeureum), itulah jalur yang kami ambil.

Lama perjalanan untuk nanjak terbayar sudah. Kami menikmati sejuknya udara pegunungan dan dinginnya air curug yang lebih dingin dari freezer (padahal tadinya ingin berenang-renang). Jangankan berenang, menginjak air nya saja sudah perlu bantuan saling berpegangan saking ga kuatnya menahan dingin. Namun jangan khawatir, dinginnya curug akan menjadi hangat dengan adanya mamang cilok baso J ini yang membuat perjalanan menjadi menyenangkan J mamang kopi sampe susu jahe pun ada, aman kan??? Dan jangan khawatir pula, harganya harga normal! Sebenarnya kita bisa memaklumi jika harga air mineral atau jajanan lebih mahal dari harga normal, namun disini harga air mineral masih tiga ribu begitu pula harga jajanan, semuanya harga normal. Kurasa itu pula alasan kami nambah berkali-kali cilok baso dan minum susu jahe J

Btw, ini sedikit pencerahan mengenai Curug Cibeureum guys, ya sapa tahu ada yang mau nambah sedikit wawasan (ga cuma update status ajah) :p

Curug (air terjun), Ci (cai=air), Beureum (merah) = Air Terjun Merah. Emang warnanya merah??? Kagak juga sih. Menurut papan petunjuk yang saya baca, mengapa curug ini dinamakan Cibeureum karena diambil dari sebuah fenomena alam yang terjadi pada suatu pagi ketika pagi hari matahari menyinari kawasan air terjun dan memancarkan warna kemerahan. Curug Cibeureum memiliki ketinggian 60 meter dan merupakan habitat katak merah dan lumut merah yang merupakan jenis endemik Gede Pangrango. Gito guys J

Sebenarnya kami masih ingin berlama-lama main-main disini, tapi kok si mamang cilok udah beberes ajah.

“Hayuk neng, udah mau sore, takut keburu hujan”

Lha kenalan aja belum Mang, udah pulang ajah :p. Untung si mamang kopi masih stays tune, yaudah pindah tempat kitah, ngopi sama nyusu deh. Mamang kopi lebih santai walaupun mengisyaratkan bahwa dia juga bentar lagi udah mau beres-beres. Ya apa boleh buat, kami pun ikutan gulung tikar. Oya, untuk bersih-bersih, tersedia juga toilet nya temans, jadi cukup amanlah berganti kostum ditengah hutan gini.

Kurang lebih jam empat kami bersiap turun kembali. Krucils udah gelisah ajah karena mereka mulang menghitung kembali jam berapa mereka akan tiba. Jalur menurun arah pulang pun sudah mulai sedikit gelap dan sedikit gerimis. Ada beberapa saat kami bisa melihat cahaya terang benderang, namun ada beberapa saat pula kami harus waspada karena jalur menurun pun bukan berarti lebih mudah.

Namun, jauh dari perkiraan kami. Perjalanan pulang jauh lebih singkat, hanya satu setengah jam saja! Kami memang hampir tidak berhenti, walaupun erhenti hanya sebentar saja, ga pake lama. Atau mungkin karena iming-iming makan bakso yang menjadi trigger kami berjalan dengan cepat :p entahlah! Yang jelas kami masih sempat menikmati jagung bakar sesampainya kami tiba di tempat pertama kali kami memulai perjalanan J

Nah segitu aja guys laporan nanjak tipis-tipis kali ini. Mudah-mudahan kita tetap diberi nikmat kesehatan dan nikmat waktu sehingga bisa piknik bareng lagi.

Wassalam,

Sukabumi, 16 Juni 2016.   

  • view 24