Incredible99

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

4.7 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible99

Incredible99

India, melalui kacamata-ku…

 

                Aku membuka-buka halaman buku kecilku. Catatan, oret-oretan tentang semua hal, nomor-nomor telp, alamat, pengantar bahasa India sederhana, catatan perjalanan, tempat-tempat yang menjadi “target” visitingku, kalimat “I Love You” dalam berbagai bahasa dan lain sebagainya. Tapi ada yang membuat aku tertegun ketika aku membukanya. Tak lain dan tak bukan, catatan kecil dari teman-temanku sesama intern. Hanya catatan sederhana saja dari mereka tapi teramat mendalam. Ada yang sekedar berbasa-basi, tapi ada yang benar-benar “mengkoreksi” ku habis-habisan.

 

Ha, roommate pertamaku meminta aku agar menjadi pribadi yang lebih berani dan tidak plin-plan, tiga orang Afghani melukiskan kesan mereka dari sudut pandang seorang muslim, sedangkan dua roommate terakhirku berkolaborasi menuliskan kesan mereka yang panjang lebar diatas selembar kertas pink yang disertai dengan foto-foto ketika kami travelling bersama.

 

Tak pernah kubayangkan aku akan terlibat sejauh ini bersentuhan dengan dunia luar. Dulu yang ada dalam fikiranku adalah menjalani internship di India, bertemu dengan orang India, makan roti cane dan kare, dan semua hal tentang India.

 

Nyatanya…

 

Mata kuliah “Cross Culture” sudah kubuktikan keabsahannya. Boleh saja kita menganggap bahwa kentut adalah hal yang tidak sopan jika kita duduk diantara banyak orang, tapi bagi mereka, kentut bukanlah menjadi masalah besar. Adalah hal yang biasa aku menjumpai lebih dari sekali mereka dat-dit-dut bahkan mengeluarkan suara keras sekalipun tanpa perasaan bersalah, that’s normal!

 

Mungkin aku adalah orang kampung yang berfikiran bahwa perempuan berjilbab tak layak clubbing dan menikmati party. Tapi di India, who cares? Semua dari kita adalah makhluk sosial yang mempunyai hak untuk melakukan apapun. Kekagetanku bahwa seorang berjilbab minum vodka atau berfikiran memakai bikini di pantai Goa, sama sekali tidak valid! Open your mind girl, this is not your country, dimana gadis berjilbab hanya pergi dari rumah ke kampus, hang out sebentar terus balik lagi ke rumah.

 

Di India, untuk pertama kalinya dalam hidupku kepalaku dibuat pusing melihat putaran lampu clubbing, melihat mereka “bercinta” sembarangan, sengaja ingin mabuk di akhir acara dan lain sebagainya. Sungguh hal-hal yang dulu hanya kulihat melalui layar kaca menjadi hal yang biasa dimataku. What we call taboo is not taboo at all!

 

Free sex dan one night stand, adalah hal lumrah bagi siapa saja selama suka sama suka. Tak ada yang berisik dan tak ada yang mengusik. We’re adult and each of us knows the consequences of what we do. Jadi jangan kaget jika melihat condom bekas pakai di tong sampah pada pagi hari atau para cewek menyimpan pil pencegah kehamilan dan diminum secara reguler.

 

Aku melihat dari kacamataku wajah India selama setengah tahun. Mungkin waktu itu terlalu singkat bagiku untuk menuliskan kesan pada suatu tempat. Bangsa ini adalah bangsa yang begitu mencintai tradisinya. Saree, shalwar kamiz, kurta dan kurti pajama adalah bukti bahwa baju ini tak kan pernah lekang dimakan zaman. Mereka menempel di badan setiap orang. Tak perlu special occasion untuk mengenakan baju itu. Coba lihat sang majikan perempuan yang pergi ke kantor dengan sang aunty yang bekerja membersihkan rumah. Mereka sama-sama mengenakan saree, sama-sama mengenakan shalwar, dan aku yakin sebagian besar dari mereka menikah melalui jalur pernikahan yang sama yaitu perjodohan, arrange marriage.     

 

Mereka adalah orang yang tidak sabaran, selalu berebutan, tapi dilain fihak selalu terkesan lamban, ngaret, dalam hal apapun. Tabiat ini, persis bangsa tercinta! Namun  mereka boleh saja tidak sabaran dalam hal apapun, tetapi ketika Sang Holy ada didepan mata, tak pelak semua orang menjadi maha sabar. Pengemudi di balik stir akan dengan setia menunggu dia menyebrang jalan, meskipun bukan dijalur lampu merah. Ibu rumah tangga yang berdiri didepan rumah akan memberinya makan, orang-orang yang berkunjung ke kuil akan mengelus-elusnya dengan takzim. Sang Holy Cow adalah penguasa segala sendi kehidupan.

 

Telah kubuktikan bahwa kasta itu memang ada meskipun seiring berjalannya era modernisasi dia menjadi samar-samar. Tapi aku bisa dengan jelas membedakan bahwa orang dengan nama belakang tertentu, pasti berpenampilan lebih rapi, lebih dihormati, lebih dandy, well educated dibanding dengan orang yang bernama belakang lainnya. Mereka yang kutemui adalah para mahasiswa borju yang bersiap menyongsong masa depan cerah, tapi disisi lain kemiskinan ternyata membuat sebagian kalangan menjadi beringas. Begging, stealing, robbing, whatever it is, the problem is simple, its about money!

Ternyata tak hanya aku yang kehilangan uang. Jauh sebelum aku, Elena, intern asal Rusia juga kehilangan uang dalam jumlah yang cukup besar. Dan yang lebih mengenaskan lagi dia bertutur bahwa temannya sesama intern yang satu flat dengan dia hampir diperkosa oleh sang landlord!

 

Disini, di Chandigarh, disebelah utara India, di salah satu tempat yang dijuluki kota ter-aman, ter-rapi, ter-struktur sekalipun, ini kah yang kau tunjukkan kepada dunia?

 

Tapi di India pula aku belajar arti menghargai, arti menghormati, arti mengasihi, arti memaafkan, arti mencintai dan arti hidup. Boleh saja aku sudah kehilangan sejumlah uang, hidup lima bulan di dalam ruangan kelas dan berbagi toilet dengan para murid. Tapi aku pantas mengingat semua hal dan kesempatan yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya. Lebih dari satu orang yang berkata bahwa aku adalah orang yang lucky, mempunyai value good karma, atau apalah namanya karena aku berkesempatan bertemu dengan keluarga Freedom Fighter yang begitu dikagumi karena membela bangsa. Mengunjungi Beas dan melihat Sang Master menyampaikan lecture spiritualitasnya. Dan tentu saja yang paling prestigious dan membuat envy banyak orang adalah tiga minggu diam di Ladakh, melihat beberapa tempat di Ladakh serta berinteraksi dengan mereka.

 

Lebih dari itu aku sudah berteman dan mengenal teman-teman dari berbagai bangsa meskipun hanya dalam waktu singkat. Mungkin dua puluh enam minggu waktu yang kurang untuk mengenal mereka, tapi aku bersyukur pernah memilikinya. Dan aku meyakini hal itu sebagai sebuah hal yang bukan kebetulan. Bukankah tak ada selembar daunpun yang gugur tanpa izin-Nya… Everything is written…   

 

Disini, didalam pesawat yang akan landing beberapa saat lagi, hidupku akan dimulai kembali, dari awal…

  • view 17