Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Juni 2018   21:58 WIB
Incredible98

Incredible98

Aku dan Daraz

 

                Aku mengenalnya sebagai cowok negara tetangga. Berpostur jangkung, bermata sipit dan tak pernah berhenti makan, dialah Daraz. Intern asal Malaysia, yang tidak Malaysia sama sekali. Meskipun berkewarganegaraan Malaysia tapi dia tak tinggal di Malaysia, tak bersekolah di Malaysia bahkan tak bisa berbahasa Melayu. Aku mengenalnya sebagai banana freak, penyuka kuliner, tak senang party, bahkan tak pernah mau datang ke party. Jika cowok-cowok lain terkenal mind your business, tidak dengan Daraz. Dia selalu menawarkan diri untuk membawakan barang jika kami shopping, bertanya ingin titip apa jika dia pergi ke mini market, “setengah maksa” untuk mencoba menu makanan yang sudah dia rekomendasikan “enak” dan yang lainnya.

Suatu hari, aku rendevouz dengan dia di Indian Coffee House. Dia yang ingin pergi ke Kashmir ingin ngobrol panjang lebar dengan aku. Satu hal yang tak pernah kulihat di cowok-cowok lain, adalah dia selalu mencatat semua pengeluarannya setiap bulan. Termasuk ketika dia menanyakan budget ke Kashmir, mulai dari harga kamar hingga harga makanan. Buku kecil berwarna coklat dan bergambar Nacha adalah saksi bisu kedisiplinan dia menulis debit dan kredit pengeluarannya.

Hingga sampai pada pertanyaan sudahkah aku mempersiapkan semua hal untuk pulang. Akupun menceritakan rencanaku untuk naik bis dari Chandigarh ke Delhi karena aku tak mau repot dengan luggage. Aku berkata sebenarnya aku ingin naik kereta karena dengan harga yang sama, kereta AC jauh lebih nyaman dan lebih dari itu ongkos kereta sudah termasuk satu kali makan. Lumayan kan jadi ketika berbuka puasa aku tak harus menyiapkan makanan. Tapi aku tak mungkin melakukannya, karena tak ada yang mengantarku untuk membawakan barang-barangku.

 “Why not, I can help you”

Pernyataan Daraz membuat langkahku berhenti dan menoleh padanya. Aku menanyakannya sekali lagi untuk meyakinkan. Tak hanya itu, Daraz pula yang menjadi advisor-ku ketika aku berniat membeli backpack di Sector 17. Aku yang sudah menemukan satu tas dengan harga Rs 900 termenung ketika Daraz berkata,

“I guess you can go to Shastri Market and find the bag there, I heard Chelsea got Rs 500 for the same bag. You are not in a hurry, aren’t you?”

Benar juga kata Daraz, bukankah aku masih punya waktu dua hari. Aku bisa ke Shastri Market dan menawarnya disana. Dan benar saja dengan tas yang sama, setelah tawar menawar aku membayar hanya dengan Rs 500. Hmm, aku harus belajar banyak dari Daraz nich…

Tanggal 28 July 2013, jam lima sore kami berdua sudah duduk di platform 1, stasiun kereta Chandigarh. Kami bicara ngalor-ngidul. Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya sudah meninggal. Mereka berdua hidup terpisah. Satu kakaknya di Hongkong, satu di Taiwan dan Daraz di India. Hanya ibunya sendiri yang tinggal di Malaysia dan menyuruh untuk tidak pulang menemani dia yang sudah tua. Cukup aneh juga. Ibunya selalu berpesan tak usah pulang dan mencari pekerjaan di Malaysia, entah apa alasannya. Yang jelas mereka berkumpul setahun sekali, tiap tahun baru di Malaysia, selebihnya komunikasi hanya via telepon dan social media lainnya.

“Irma, how do you know that Allah is exist?”,

Pertanyaan Daraz cukup membuat aku terkejut. Mengapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu? Dia yang mengaku seorang atheis, tak pernah tertarik untuk menjadi penganut agama tertentu. Dia jujur mengakui kalaupun dia membubuhkan kata “Budha” jika mengisi formulir apapun termasuk dalam CV, tak lebih karena didasari suatu “teori”. Teori itu mengatakan bahwa, pada dasarnya seorang yang beragama jauh lebih baik ketimbang orang yang tidak beragama.

Jika memang dia menganut teori itu, lalu mengapa dia (masih) tidak beragama? Dan jawabannya hanyalah body language, shrug! Matanya menerawang jauh, melintasi platform-platform kereta yang berjejer di depan kami. Dia mengingat dua hal yang membuat dia (dua) kali itu, menurut pengakuannya, mengingat Tuhan. Pertama ketika ayahnya meninggal dan kedua ketika dia mengajukan permohonan beasiswa untuk program Master-nya. Tapi setelah itu menurut dia, dia kembali galau… dengan setengah bercanda, dia hanya percaya akan dirinya sendiri, I believe only myself, not the others, termasuk Tuhan.

Di India, aku mengenal orang dengan segala kepercayaannya. Umat Hindu yang percaya akan Generator, Observer, Destroyer yang membentuk kata GOD. Umat Budha yang selalu ber “dharma” dan welas asih. Umat Sikh yang mempercayai 10 Guru dan percaya bahwa Guru Gobind Singh adalah Guru terakhir. Kepercayaan mereka setebal keyakinan seorang Muslim bahwa Rasulullah S.A.W adalah Rasul akhir zaman. Umat Bhahai yang percaya akan kekuatan api, umat Jainism yang lebih banyak don’t daripada do. Dan masih banyak lagi agama-agama yang kadang kurasa ganjil.

Di India juga aku belajar tidak memakai “kacamata kuda”. Aku tak lagi kaget jika bertemu orang yang menyatakan no religion. Aku bertemu bule-bule yang berwajah “tentram” di Rishikesh, dan berbusana pandit wannabe. Tak kurang kujumpai semua orang datang ke Tushita Meditation Centre di Dharamkot,Dharamsala dan melihat wajah-wajah “bahagia” mereka.

Mungkinkah Daraz memilih India seperti orang-orang yang datang mencari jati diri, kebahagiaan, ketentraman? Entahlah, yang jelas kereta ku sudah datang dan Daraz sudah berdiri menjinjing koperku.

Kami mencari nomor tempat dudukku. Kami berpisah di gerbong bis. Daraz menatapku dan aku berkata dalam hatiku, mudah-mudahan sisa enam bulan bagi dia bisa bermanfaat dan menemukan jawaban yang dia cari.

Karya : Irma Rahmatiana