Incredible93

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible93

Incredible93

Susahnya Toilet bersih di India

 

“Apa, India??? Negara jorok, kumuh, kotor, pencopet dimana-mana, cowok pemerkosa, dll. Ga salah mau ke India?”

Terbayang semua pernyataan dan negative opinion lainnya dari teman-temanku ketika kuberitahu aku akan pergi ke India. Tapi komentar itu tak menyurutkan langkahku. Dan anehnya komentar itu tak datang dari teman-temanku dari belahan Amerika dan Eropa sana. Mereka malah berpendapat sebaliknya. Meskipun mereka tahu semua negative sides tapi mereka juga memberikan aku input tentang banyaknya hal positive di India. Dan kini aku benar-benar membuktikannya, at least, aku mengenal diriku sendiri sekarang. 

Above all, India dengan segala kebaikan dan keburukannya, mitologi, para dewa dan dewi, upacara, tarian dan nyanyiannya tak pernah terlepas dari masalah klasik yang jadi pertimbangan semua orang yaitu, toilet. Sudah menjadi rahasia umum kalau toilet di India tidak layak. Nyatanya, perjalananku di India membawa aku menemukan fakta lain. Tak hanya toilet, aku dibuat bingung jika melihat lemari pakaian orang India. Dari beberapa rumah teman yang aku kunjungi, baik rumah yang biasa saja hingga rumah yang wow, tanpa sengaja aku melihat closet mereka selalu berantakan.

Di Ladakh semua hal sempurna kecuali toiletnya. Jika dibagian India yang lainnya toiletnya sudah tak layak, apalagi di Ladakh yang mendapat mata air saja susah. Hadeuh… ketika masih break aku yang kebelet pipis mencari-cari toilet. Memang banyak berdiri bilik-bilik kayu dan seng dengan tulisan toilet, tapi jumlah penumpang lebih banyak dari jumlah toilet. Dan yang lebih menyedihkan toilet itu hanya cukup untuk jongkok dan tak berpintu, huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… gimana nih?

Seorang cewek sipit masuk dan “dihalangi” cowok berhidung mancung. Aku “antri” diluar. Wajahnya tak enak dilihat ketika dia keluar, seperti ingin muntah. Aku ngeri dan berniat mencari toilet lain. Aku berbalik arah, si cewek menjajari langkahku dan memastikan bahwa semua toilet sama saja. 

“Do you want me to stand, like my husband did?”

“If you don’t mind”

“Sure, don’t look at the back, close your eyes and hold your breath.”

Aku menuruti perintahnya. Berjalan mundur, hati-hati, ketika sudah bisa jongkok, aku memejamkan mata dan menahan nafas. Dalam hitungan detik aku keluar dan menarik nafas panjang. Setelah itu kami tertawa terbahak-bahak.

Setelah itu kami berdua menjadi akrab mengobrol. Dia yang berasal dari Korea bersuamikan seorang Switzerland. Pasangan beda negara ini bertravelling tanpa itinerary, aku hampir tak percaya ada seorang Eropa yang tanpa planning, pasti ini pengaruh istrinya yang Asia hahahaha. Mereka tak tahu akan kemana jika mereka telah sampai Keylong. Mereka hanya ingin menikmati India, begitu mereka berkilah. 

Melihat aku diantar oleh dua orang biksu, sang istri menyangka aku sudah melakukan meditasi di Choglamsar. Memang tak jauh dari Choglamsar ada Shey Monastery. Ketika kukatakan bahwa aku hanya voluntary teacher disana, dia tampak terkagum-kagum. Karena ternyata sang suami adalah seorang guru. Jadi setidaknya aku sudah bertemu guru B.Inggris dari Germany dan kini guru Ekonomi dari Swiss.

Sang kondektur meniup peluit tanda break usai dan kami akan melanjutkan perjalanan kembali. Kami kembali menempuh perjalanan. Jalanan rata-rata berbatu kerikil dan pendek-pendek, lebih berkelok-kelok dan zig-zag. Kepalaku yang tadi pusing kini kambuh lagi dan lebih parah perutku serasa diaduk-aduk dan dikocok-kocok. Waktu menunjukkan jam tiga sore. Aku merasakan perutku melilit, sakit sekali. Aku tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Apakah karena medan yang sedang kutempuh. Aku mencoba bertahan sambil mengingat-ngingat apa “dosaku”.

Akhirnya aku ingat juga, ketika aku buka puasa kemarin, setelah perut kosong seharian aku makan buah pisang. Aku yang penderita maag akut tak sadar dengan hal itu, dan inilah akibatnya. Satu jam empat puluh lima menit kemudian aku tak kuasa lagi menahan penderitaan ini, pertahananku roboh, aku dengan berat hati membatalkan puasaku. Sebotol air putih dan sebutir pil maag meredakan semuanya. Perutku kini menjadi tenang.

Jam 19.00 kami tiba di Keylong. Inilah pemberhentian pertama kami dan disinilah kami akan bermalam sebelum kami meneruskan ke Manali. Aku dan pasangan beda negara bersepakat mencari guest house bersama-sama supaya lebih murah.

Setelah kami berkeliling akhirnya kamipun menemukan guest house mungil, cantik, bersih, murah lagi. Rs 500 untuk double dan Rs 200 untuk single. Guest house kami terletak paling atas sehingga bisa melihat Keylong yang tak kalah cantiknya dengan tempat yang lain di Ladhak.

Satu setengah jam yang akan datang, kami janjian untuk bertemu kembali dan dinner bersama. Selalu menyenangkan bertemu friends on foot dan bertukar cerita selama travelling. Dan diluar dugaan mereka membayarkan dinnerku malam ini. Entah apa yang mendrive mereka untuk mebayarkan aku makan malam, mungkinkah pernyataan sang suami (yang ganteng) jujur bahwa dia senang bertemu seorang guru asal Indonesia adalah alasan membayarkan aku makan malam. Hanya dia dan Tuhan yang tahu kebaikan hati mereka.

 

  • view 43