Incredible92

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

4.7 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible92

Incredible92

 

July 21th, 2013

Kembali ke Chandigarh

 

“Are you ready?”

Suara Geshe Ngawang dibibir pintu mengagetkanku. Aku mengangguk mantap, hanya tinggal memakai kaos kaki dan aku siap pergi. Kutatap kamarku untuk yang terakhir kalinya. Kamar yang telah aku diami selama dua puluh hari, kamar yang menjadi saksi bisu aku bermain kartu bersama anak-anak ingusan itu, kamar yang berdinding jendela kaca sehingga dimalam hari aku selalu tidur bersama bintang. Kamar tempat aku menulis diary, kamar tempat aku membaca buku, kamar tempat aku bersujud mengucap syukur atas semua rencana Sang Maha Kuasa…

 

Ya, Sang Maha Kuasa selalu indah dengan rencana-Nya. Sekolah di Ladakh baru memulai summer holiday, sementara di Chandigarh anak-anak mengakhiri liburannya esok hari. Bagaimana mungkin semua ini bisa “match” dalam waktu yang tak pernah kurencanakan sebelumnya. Kusampirkan shawl dipundakku, diluar masih dingin…

 

Geshe Ngawang membawakan tasku, sementara Geshe Jigme berada dibelakangnya. Kami bertiga berjalan menembus dingin pagi. Aku tak tega membangunkan Angmo untuk berpamitan, dia masih tertidur pulas. Ada perasaan berkecamuk dihatiku ketika kakiku benar-benar keluar dari gerbang biru ini.

 

Jam setengah enam bis berwarna coklat datang. Aku bersalaman kepada dua orang pria berkepala plontos untuk yang terakhir kalinya. Sangat terharu ketika Geshe Jigme berkata, “You are most welcome to come back again”.

 

Aku langsung terduduk dan tak berkutik. Aku ingin menangis, tapi entah mengapa. Perasaan yang berbanding terbalik ketika aku meninggalkan Ropar dalam keadaan amarah. Tuhan telah mengganti semua duka lara dengan tiga minggu kebahagiaan. Kemarau setahun sudah tersirami hujan satu hari.

 

Aku akan kembali ke Chandigarh dengan menempuh rute yang berbeda ketika aku datang. Jika ketika datang ruteku adalah Chandigarh-Jammu-Srinagar-Ladakh maka rute pulang kali ini adalah Ladakh-Keylong-Manali-Chandigarh. Lama perjalanan tetap sama yaitu dua hari dan aku akan menginap di Keylong.

 

Ternyata benar kata Geshe Jigme bahwa aku memerlukan stamina yang fit untuk menempuh perjalanan ini. Rute Chandigarh melalui Keylong lebih tough dan lebih dramatis. Jalanannya lebih “sempit” dan tak sebaik lewat Jammu. Aku tak tahu dalam bis ini kami duduk diketinggian berapa karena langit rasanya begitu dekat untuk disentuh. Kepalaku terasa sedikit pusing. Jalanan semuanya berkelok. Gunung-gunung itu seperti baru bangun tidur dan menguap dengan lebar. Uapnya adalah awan putih yang begitu banyak dan bergulung-gulung. Meskipun summer tapi gunung-gunung itu masih ada yang tertutup salju! Tak ada dari kami yang tak mengenakan jaket, mantel atau apa saja untuk menangkal hawa dingin ini. Kami seperti berebutan oksigen didalam bis. 

 

Jam 8.30 bis berhenti sebentar, kukira mereka akan break untuk minum chai. Ternyata bukan kawan. Sopir bis dan kondektur memberikan kesempatan kepada kami selama sepuluh menit untuk keluar dan berdiri disebuah bangunan semacam temple dengan prayer flag yang berkibar-kibar ditiup angin. Penumpang yang rata-rata adalah turis asing menghambur keluar termasuk aku. Pasti ada yang istimewa mengapa sampai dia berhenti dan memberi kami waktu untuk keluar. Benar saja ketika aku keluar, terpampang pertanyaan,

 

“YOU ARE STANDING AT TAGLANGLA PASS. YOU ARE PASSING THROUGH SECOND HIGHEST PASS OF THE WORLD. ALTITUDE: 17.582 FT. UNBELIEVABLE ISN’T IT?”

 

Pantas saja kami seperti kekurangan oksigen, rupanya kami berada di pegunungan yang menjadi pegunungan tertinggi ke-2 didunia. Dan pantas saja prayer flag terletak dimana-mana. Umat Budha percaya bahwa semakin tinggi tempat kita menyimpan prayer flag maka semakin cepat doa sampai kepada Sang Kuasa. Terpampang juga beberapa titik yang akan kami lalui dengan ketinggiannya masing-masing, yaitu Lachungla (16613 ft), Barachala (16042 ft) dan Rohtang (13044 ft).

   

Ternyata perjalanan ini tak hanya menyuguhkan sensasi perjalanan diketinggian, tapi juga pemandangan lainnya. Kami seperti berdarmawisata. Sang sopir kembali menunjukkan kemurahhatiannya untuk melambatkan laju bis ketika kami melewati padang pasir dengan sekelompok binatang yang tak aku tahu namanya. Semua penumpang terkesima melihatnya. Mereka adalah sekumpulan binatang menyerupai bajing tapi cantik, berjingkat-jingkat dan berkejar-kejaran, sesekali berdiri mematung memandangi bis kami. Semua orang sibuk dengan kamera masing-masing kecuali aku, karena kameraku low bat, dan aku mengutuk diriku sendiri yang tak sempat mengabadikan mereka. Arghhhhhhhhhhhhhh…  

 

Jam setengah sebelas, bis berhenti untuk breakfast. Aku keluar menghirup udara. Dingin sekali. Sebagian besar penumpang langsung menyerbu tenda-tenda putih itu. Ya disini memang unik, kedai chai dan restaurant bukanlah bangunan permanent seperti biasanya. Semua restaurant yang menyediakan jasa makanan maupun baju-baju dingin adalah tenda-tenda dengan dominasi warna putih. Aku hanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan mengagumi lukisan Sang Pencipta. This is the real dry and cold place.

  • view 11