Incredible90

Incredible90

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.6 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible90

Incredible90

 

July 20th, 2013

Hard to say Goodbye

 

                LADF semakin sepi. Hanya aku, duo Angmo, dan duo Geshe yang masih tertinggal. Stanzin Angmo mulai packing untuk perjalanan ke Jammu dan aku harus kembali ke Chandigarh besok. Ketika kuutarakan masuk kepulanganku Geshe Ngawang bertanya mengapa aku harus cepat-cepat pulang? Reaksi Geshe Jigme lain lagi, dia nampak terkejut. Jika jam lima sore, ketika tea time tiba seorang anak biasanya memberi tahu untuk turun kebawah, mungkin difikirnya aku lupa. Padahal sebenarnya mereka yang lupa bahwa aku sedang berpuasa. Hingga hari terakhir itu, aku sengaja turun dan bergabung dengan mereka. Hanya ada beberapa gelintir orang yang berkumpul termasuk duo Geshe.

 

Aku menyimpan chai dan sepotong roti yang disorongkan kepadaku, karena maghrib masih tiga jam lagi. Sore itu aku ingin ngobrol dan bercengkrama untuk yang terakhir kalinya. Mengingat ini malam terakhirku, Geshe Ngawang bertanya mau makan apa aku untuk makan malam nanti. Aku hanya tersenyum dan menggeleng, aku tak ingin apa-apa. Aku bisa makan apa saja selama itu halal. Dari awal memang Geshe Ngawang selalu bertanya kepadaku, memastikan everything running well.

 

“Room okay? Light okay? Food okay? Let me know if you need something.”

 

Begitu tanyanya setiap kali bertemu denganku. Aku tak ingin diistimewakan. Kamar yang disediakan sudah lebih dari cukup untuk ukuran satu orang. Dipagi hari aku dibangunkan oleh kicauan burung,biru langit dan hangatnya mentari. Itu sudah cukup.

 

Aku menikmati setiap jam makan ketika bel dibunyikan. Mulai dari breakfast, lunch, tea time hingga dinner. Mereka selalu tergopoh-gopoh memberikan aku kursi untuk duduk, padahal aku bisa duduk lesehan untuk makan bersama mereka. Mereka selalu memberikan centong nasi dan sendok sayuran agar aku bisa mengambil sendiri makanan yang bagi para murid harus disamakan. Tapi hal itu bagus untukku, karena aku tahu porsiku yang tak sebesar mereka. Mereka bergegas bertanya padaku apakah aku ingin diambilkan makanan tambahan jika aku selesai lebih dulu.

 

Perwakilan NGO sebelumnya sudah memberitahu bahwa makanan di hostel “jauh dari kata mewah”. Hanya nasi dan sayur, atau timok dan sayur, atau nasi dan dhaal. Padahal mereka harus tahu setelah hampir tiga minggu aku disini, timok menjadi menu favoritku selain momo. Makanan pengganti nasi yang bentuknya mirip croissant ini, terbuat dari tepung gandum, diuleni kemudian dikukus. Kuliner di Ladakh lebih dari cukup, untukku.

 

Dealing and discussing with the students, adalah bagian lain yang tak mungkin aku lupa. Mengajarkan anak kelas 8 memahami drama dan menerangkan adjective habis-habisan bagi anak kelas 9. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah untuk mata pelajaran Science bagi anak kelas 3 dan susahnya mengajarkan membaca Stanzin Butit yang sekarang duduk di U-KG (setingkat TK B). Jam-jam belajar bersama yang selalu ramai, selalu terekam memori otakku.

 

Menyusuri Indus River dan berjuang sampai puncak Zangtok Palgi Ri (Top of Hill) di jantung kota Leh dan menangkal angin ribut diantara ribuan bahkan jutaan prayer flag.. Menyusuri stupa Budha di Dalai Lama Palace. Memutar Prayer Wheel sambil melafalkan mantra “Om Mani Padme Hum” di Mahabodhi Meditation Center Temple. Anak-anak itu telah menjadi tour guide yang handal bagiku. 

 

Menjadi tamu kehormatan dipembukaan Teachers Trainings di Leh. Bersama dua nara sumber lain, lagi-lagi aku menerima khatak. Ini adalah training yang diselenggarakan untuk semua guru yang ada di Ladakh. Training ini diselenggarakan oleh salah satu NGO yang ada di Leh bekerjasama dengan District Institute of Education Trainings-Government Degree College Leh. Training dibagi dua sesi yaitu sesi untuk pelajaran Matematika dan sesi untuk pelajaran B.Inggris. Tak tanggung-tanggung panitia menghadirkan nara sumber jebolan universitas terkemuka di Amerika dan Inggris.

 

Rasanya aku tak pantas duduk sejajar dengan mereka. Mereka adalah dua orang yang sudah malang melintang didunia pendidikan dan tak diragukan lagi kemampuan memahami teori apapun dibidang ilmu masing-masing. Aku berkesempatan bertemu dan berbicara dengan mereka. Nara sumber pertama adalah seorang pakar Matematika yang sudah melakukan riset dimana-mana dan sedang gandrung dengan sistem pendidikan yang diterapkan di Singapura.

 

Jika nara sumber pertama adalah seorang bapak dengan penuh karisma nan berwibawa maka nara sumber kedua adalah seorang pemuda jangkung dengan perawakan sedang. Selalu mengenakan vest dan menyimpan tangan disaku celananya. Wajahnya tenang dan down to earth-nya minta ampun. Itu terlihat dari tutur katanya, padahal aku tahu dia pasti berilmu beberapa kali lipat dari aku. Dia adalah pembawa materi untuk training Bahasa Inggris.

  • view 19