Incredible89

Incredible89

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.6 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible89

Incredible89

July 18th, 2013

 

                Jam dua dini hari aku dan Angmo melepas kepergian Charly dan Kate (teman Charly asal Canada). Menuju Lingshed. Charly beberapa kali memeluk Angmo dan say goodbye. Malam ini mereka berdua menjadi “sensible”. Charly terlihat menangis sambil berkata-kata menyemangati Angmo yang akan pergi ke Jammu. Hal ini bisa kumaklumi karena ternyata tidaklah mudah untuk meyakinkan fihak sponsor untuk menyekolahkan Angmo keluar Ladakh dari kelas 11 hingga kuliah nanti. Setidaknya Angmo harus tinggal di Jammu dengan jangka waktu lebih dari empat tahun. Tak hanya faktor eksternal dengan fihak sponsor Charly pun harus berupaya keras memupus kegelisahan Angmo bergaul diluar sana.

 

Melihat Angmo seperti melihat diriku. Aku mengingat-ngingat kembali apa rasanya ketika pertama kali keluar rumah dan tinggal sendiri untuk kuliah dan bekerja secara bersamaan. Rasanya aku tak segelisah dia. Belakangan kutahu mengapa Angmo segelisah itu. Ternyata dia adalah orang dan generasi pertama yang akan keluar LADF untuk meneruskan study-nya. Kukira dia sedang berada pada “comfort zone” dimana dia tinggal bersama teman yang sama, bersekolah yang sama dan lingkungan yang sama, tapi diluar sana dia akan bertemu dengan orang yang tak hanya bermata sipit, beragama Budha dan mungkin tak sebaik orang Ladakh.

 

Tapi ada hal lain yang mampu membuat dia menjadi pemberani, yaitu mimpinya. Ya dia mempunyai dua mimpi untuk menjadi “archeologist” atau “geologist”. Dia bercerita habis-habisan kepadaku tentang rencana-rencana hidupnya. Planningnya selepas kuliah nanti, dia ingin bekerja untuk membantu orang tuanya yang miskin dan membiayai adiknya yang masih kecil-kecil. Dia sendiri adalah anak ke-3 dari delapan bersaudara. Dua kakak laki-lakinya tidak bersekolah dan hanya menjadi trekking guide yang kerjanya musiman. Kabarnya winter adalah high season, tetapi setelah musim berganti penghasilannya menjadi seadanya.

 

Sekolah yang menerima Angmo adalah sekolah muslim khusus putri (padahal dia sendiri seorang Budhist) dan dia senang bukan kepalang. Menurut dia ada keuntungan dia bersekolah disana karena artinya dia tidak akan bertemu cowok. Lha??? Dia tak ingin berpacaran hingga lulus kuliah. Dia hanya ingin sekolah, kuliah, bekerja, membantu keluarganya dan membangun Ladakh. Sungguh cita-cita yang mulia.    

  • view 15