Incredible87

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible87

Incredible87

July 14th, 2013

 

                Jam 12.40 aku pamitan pulang. Aku berpamitan pula pada si gembrot Jigme. Dia sedang main sendiri di dapur yang lagi-lagi merangkap ruang makan dan menonton TV. Ama Jigme sedang mengecat rambutnya yang sudah beruban bersama adik perempuannya. Ama Jigme seperti biasa menawariku segelas chai dan aku harus memberitahu dia (lagi) bahwa aku sedang berpuasa. Dia berusaha menahanku untuk tidak pulang dulu bahkan menawari menginap di rumahnya. Aku tak bisa, aku harus kembali ke Choglamsar. aku tak enak meninggalkan LADF lama-lama, meskipun ini sudah lebih dari semalam seperti izinku kepada Geshe Ngawang. Dan yang lebih penting hari ini aku berjanji kepada Charly untuk menyerahkan artikel yang sudah aku tulis untuk majalah bulanan LADF. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, Ama Jigme berujar,

 

“Come again next year to Ladakh?”.

“I don’t know”,

 

jawabku sambil tersenyum, dia tampak kecewa 

 

“Why? Ladakh is a beautiful place”,

 

katanya seolah meminta aku merubah keputusanku.

 

“I hope so, I do hope so”,

 

kini kulihat senyum dibibirnya.

 

Nyatanya tak hanya Ama Jigme yang memintaku “memperpanjang” untuk menginap disini. Laskit sendiri senang karena katanya dia bisa practice speaking English denganku. Gadis berambut indah ini berpesan bahwa aku harus menginap lagi dirumahnya sebelum aku kembali ke Chandigarh. 

 

Tiga hari empat malam bersama keluarga Ladakhi membuat aku merasa berarti. Ama Laskit dan Ama Jigme sudah seperti bersaudara. Mereka adalah dua keluarga yang hanya terpisahkan oleh tumpukan bata putih dan kandang sapi. Keduanya yang sama-sama sudah berusia empat puluh tahun sering menghabiskan waktu bersama-sama. Menggembala sapi, pergi ke monastery dan minum Ladakhi tea disore hari.

 

Ama Jigme yang baru melahirkan lima bulan lalu tampak kuat melakukan semua household chores mulai dari menggembala sapi, menyabit rumput, memasak, mencuci dan tentu saja merawat si gembrot Jigme. Sering kulihat, Jigme diletakkan dipunggungnya dengan disangga kain sarung ketika ia mencuci baju ataupun membersihkan kandang sapi. Ama Jigme memang terbilang “terlambat”, dia baru dikarunia Jigme ketika umurnya sudah berkepala empat.

 

Ama Laskit yang bernama Padma Angmo sudah terbebas mengurus anak kecil karena Laskit dan Stanzin sudah besar-besar (kelas 12 dan 9). Sering kulihat dia, Laskit dan Stanzin mengajak main si gembrot Jigme tanpa diminta terutama ketika Jigme rewel dan Ama Jigme kerepotan dengan dua ekor sapinya. Begitu pula ketika kami pergi ke Stakna Monastery, Jigme digendong bergantian oleh ibunya dan Ama Laskit. Jika dia memetik sayur dihalaman rumah, dia memberikan sebagian kepada Ama Jigme. Sungguh nuansa hidup yang harmonis di Ladakh.

 

Keluarga Ladakhi adalah keluarga yang sederhana, jarang kulihat rumah yang “wah” disini. Mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bercocok tanam. Makanan merekapun lebih sederhana ketimbang yang aku jumpai di Punjab. Untuk makan mereka memetik sayuran yang ditanam didepan rumah. Untuk membuat chai mereka memerah sapi sendiri.

 

Bumbu merekapun tak se “pedas” di Punjab. Jika dinner tiba menu yang disajikan bervariasi, mulai dari timok, momo dan sayur-sayuran yang dioseng. Isi momo pun bervariasi mulai dari pure veg hingga mutton. Tak perlu khawatir, sekali-kali merekapun menyantap daging. Minumanpun bervariasi, mulai dari chai (milk tea), Ladakhi tea (teh yang dicampur dengan butter) dan salt tea (Kashmiri tea). Jika lidahku sudah familiar dengan chai (apapun bentuknya, mulai dari ginger hingga masala) dan salt tea, lain halnya dengan Ladakhi tea, lidahku benar-benar tak bisa mentolerir sama sekali. Bayangkan saja, mereka menuangkan satu sendok butter kedalam satu cup black tea. Aku yang seorang penggila teh dengan berat hati menyatakan bahwa teh jenis ini hanya mampir dibibir tak bisa sampai ke perut. Please, forgive me…

  • view 18