Incredible86

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

4.7 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible86

Incredible86

July 13th, 2013

Hampir Pingsan! 

                Hari ini harusnya aku ke Rumbak bersama Dechen. Dia benar-benar ingin memperlihatkan Ladhak kepadaku. Dia berpromosi bahwa disana aku bisa melihat Ladakh dari sisi yang lain yaitu “wildlife animals”. Dia terus berpromosi dan meyakinkan aku bahwa Rumbak adalah tempat yang indah dan banyak dikunjungi wisatawan.

Aku yang sebelumnya semangat tiba-tiba meredup ketika teringat kejadian kemarin siang sepulang dari Stakna Monastery. Medan yang terjal dan berliku plus summer yang semakin menggila membuat aku kewalahan. Dalam kondisi perut kosong berpuasa aku setengah ingin pingsan kemarin. Kepalaku kleyengan, tenggorokan kering kerontang dan mulut terasa semakin pahit.

Kemarin tepat jam 02.00 mereka lunch diperjalanan dan aku hanya menunggui di gembrot Jigme yang sedang tertidur pulas. Aku tak bisa menghindari pemandangan orang-orang yang meneguk coke dingin ditengah padang pasir seperti Ladakh. Ketika menuruni tangga monastery, pandanganku berkunang-kunang dan kakiku gemetaran.

Ketika mereka makan siang aku berkesempatan memulihkan energiku dengan duduk bersimpuh disamping Jigme. Ama Laskit menghampiriku dan bertanya apakah aku ingin membatalkan puasaku? Tidak, aku tak mau menyerah, aku ingin menjadi pemenang, meskipun maghrib masih jam delapan malam nanti.

Setelah makan siang, kamipun beranjak pulang dan lagi-lagi kami harus berjalan kaki sambil menunggu mobil yang dapat kami tumpangi. Mobil yang kami tumpangi hanya mendrop kami dijalan besar, artinya kami harus kembali berjalan menuju rumah. Aku yang sudah tak karuan tak tahu sudah seberapa jauh kami berjalan. Ketika kutanya masih jauhkah jarak rumah?

“Ten minutes we’ll arrive home”, Ama Jigme menjawab.

Tapi aku tak mampu lagi berjalan, kakiku terasa beku, nafasku tersengal-sengal. Aku benar-benar tak bisa berjalan dan hanya mampu terduduk lesu dibawah pohon rindang. Aku gamang haruskah aku membatalkan puasaku? Tapi jauh dilubuk hatiku aku tetap tak ingin menyerah! Aku meminta waktu beristirahat sejenak. Mereka menatapku dengan mata penuh kasihan, mungkin difikirnya aku gadis keras kepala. Seorang nenek menyorongkan sebotol Melon Dew dingin, tapi aku tetap berkata,

“No, thank you”.

Setelah cukup lama, akupun bisa berdiri. Ama Laskit membawakan tas batikku. Kini aku hanya membawa badanku yang terasa panas dingin.

Sampai depan rumah aku tak memperdulikan apapun, yang kutuju hanyalah kamar dan brukkk, aku menjatuhkan badan dan meluruskan kakiku. Ama Laskit meraba pergelangan tanganku, mungkin dikiranya nadi ku segera berhenti dan aku akan mati.

“Do you want tea?”, tanyanya dan semua orang mengerubungi aku. Aku menggeleng.

“Water?”, aku tetap menggeleng.

Dia terus menawari aku, aku tahu dia berniat baik. Batinku kembali berperang, hingga akhirnya aku berkata,

“I’m okay, I just need to take a rest”.

Semua orang menarik nafas lega, meninggalkanku dan menutup rapat pintu kamarku.

Aku menutup mata dan beristirahat sejenak. Alhamdulillah, aku terasa membaik. Kulirik weker kuning milik Laskit, sudah hampir habis waktu zuhur, akupun bergegas mengambil wudhu. Nyesss, dinginnya air Ladakh menyapu wajah dan mengembalikan kesegaranku. Terima kasih Ya Allah aku masih diberi kekuatan untuk menunaikan puasa hari ini.

Maka ketika Dechen menanyakan kembali apakah aku ingin pergi bersama dia ke Rumbak, dengan berat hati aku menggelengkan kepalaku. Aku tahu persis bahwa perjalanan kesana jauh lebih sulit. Sekali naik taksi setelah itu berjalan kurang lebih selama tiga jam dengan medan yang lebih terjal dari Stakna Monastery. Dechen masih tak percaya. Dia akhirnya bertanya untuk yang terakhir kalinya. Kulihat dia sedikit kecewa. Aku berusaha menjelaskan kepada dia, jika aku tak berpuasa aku pasti ikut, akhirnya diapun mengerti dan berkata,

“Then you have to come next year to Ladhak to see Rumbak”.

Aku hanya tersenyum.  

 

  • view 8