Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Juni 2018   19:11 WIB
Incredible84

Incredible84

“Reincarnation”

 

Hari ini Dechen berjanji akan mengajakku ke Skakna Gompa. Kabarnya salah satu “Lama” yang berpengaruh akan datang kesana. Dia menegaskan lagi,

 

“You have to go with me, he’s an important Lama”.

Aku bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan Lama penting itu, mungkinkah Dalai Lama?

 

Tapi entah rencana itu berubah, kabarnya Dechen tak bisa pergi tapi aku bisa pergi dengan Ama Laskit, jika masih berminat untuk pergi kesana. Jam setengah sepuluh setelah mandi, aku dan Ama Laskit meninggalkan rumah. Ternyata kami tak hanya pergi berdua, ada si gendut dan chubby Jigme yang berumur 5 bulan beserta ibunya. Jadilah kami berempat.

 

Seperti biasa kami harus berjalan menuju jalan raya. Satu jam saja waktu yang dibutuhkan untuk mencapai jalan besar. Inilah desa Shey, terpampang papan putih bertuliskan “SHEY FLOOD RELIEF”. Jadi ini adalah salah satu desa yang menjadi posko penanggulangan banjir yang terjadi satu tahun lalu.

 

Di Shey kami menunggu taksi untuk mencapai Skakna Gompa, tapi selalu penuh. Kamipun mencegat mobil apa saja yang lewat, tapi rata-rata mobil pribadipun penuh. Ternyata tak hanya kami yang berharap mendapat tumpangan ada banyak gerombolan penumpang dengan tujuan yang sama dengan kami yaitu ke Skakna Gompa. Kendaraan pribadi dan taksi penuh tak menyisakan tempat untuk kami. Sebegitu pentingkah, sang Lama tersebut?

 

Setelah sekian lama berjuang, akhirnya sebuah mobil sedan berhenti. Seorang bapak bertopi dan berkaos putih mengangkut kami. Inilah hospitality ala Ladakh yang mengingatkan aku pada Srinagar, ketika Ayub menggunakan shikara tetangganya. Ini bukan yang pertama aku temui di Ladakh. Sebelumnya aku pernah mengalami hal yang sama bersama Dechen. Menumpang kendaraan pribadi tanpa harus membayar.

 

Yang lebih aneh lagi, selama perjalanan mereka akan mengobrol akrab dan tertawa bersama. Ketika kutanyakan pada Dechen apakah dia mengenal sang pengemudi pemilik mobil, dia bilang itu adalah hal biasa yang terjadi di Ladhak. Taksi tak selalu ada setiap saat, jadi mereka yang mempunyai kendaraan pribadi tak pernah keberatan jika ditengah jalan ada yang meminta tumpangan. Dibagian India mana lagi kau akan temui hal seperti ini kawan?

 

Entah jam berapa kami tiba di Skakna, yang jelas dari kejauhan sudah tampak lautan manusia yang berjalan kearah monastery. Seperti biasa monastery selalu berada di top of the hill jadi kami harus berjalan berliku-liku. Tak terbayangkan penderitaan Ama Jigme yang menggendong bayi seberat dan se-chubby dia. Menempuh jalan menanjak dan berliku, inikah harga untuk melihat sang Lama? Aku yang hanya membawa diriku sendiri sudah payah mendaki bukit ini apalagi dia yang menggendong Jigme.

 

Pada pendakian kedua, suara genderang mulai terdengar dari kejauhan.

 

“He’s coming, the Lama is coming”,

 

ujar Ama Jigme bersemangat dan raut muka yang riang gembira, aku ikut tersenyum berjalan dibelakangnya sambil nyengir. Suara genderang semakin terdengar jelas. Ama Laskit memotong jalan agar kami bisa sampai ke puncak lebih cepat dan berada dibarisan depan, berharap bertemu sang Lama. Aku menurut saja dibelakangnya, meskipun aku semakin nyengir karena jalan pintas ternyata lebih terjal.

 

Akhirnya kami tiba juga diatas dan berdiri tepat dibawah plang (mungkin ucapan selamat datang). Tak ada huruf latin, tak ada huruf Hindi, tak ada juga bahasa Inggris. Semuanya ditulis dalam Bahasa Bodhi. Semua orang bersiap, mulai dari para biksu cilik, remaja hingga yang senior. Hari ini kepala plontos dan maroon robes troops mendominasi penglihatanku.

 

Kulihat beberapa anak sekolah baik yang bermata sipit maupun yang berjilbab berdiri rapi memagari jalan menyambut sang Lama yang tak lama lagi akan datang. Tak hanya anak sekolah dengan seragam beraneka warna, ada juga barisan perempuan Ladhakhi mengenakan baju tradisional Ladakh dan “perak” dikepala mereka. Tak ketinggalan mereka menggenggam buket bunga cantik ditangannya.

 

Kulihat salah satu biksu dengan perawakan tinggi besar berdiri paling depan diantara biksu yang lain. Dia juga yang member aba-aba dan mengatur semua hal terjadi, maklumlah tak hanya barisan anak sekolah, perempuan Ladakhi, para pengunjung, ternyata ada juga sekelompok biksu yang memegang terompet yang berdiri nun jauh di atas sana. Biksu ini rupanya cukup disegani karena semua orang takzim, menunduk  dan memberi hormat kepada dia.

 

Waktu menunjukkan jam 11.55 ketika iring-iringan kendaraan yang konon membawa Lama berhenti. Tiupan melengking trompet begitu lama berkumandang dari dua biksu muda yang berdiri tepat didepan kendaraan bernomor polisi JK 10 4566. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.

 

Tapi betapa terkejutnya aku, ketika yang ditunggu-tunggu, ternyata adalah seorang bocah laki-laki dengan pipi tembem dan kemerah-merahan, berbaju kuning berkerah congsam dan bertopi biru. Aku mengira dia berumur sekitar 2 atau 3 tahunan. Tiba-tiba semua orang berkerumun di depan dia. Dan tentu saja yang berhak menyambut dan menggendong dia adalah Biksu tinggi besar tadi. Tak ayal ratusan juru foto langsung menyerbu dan kilatan cahaya kamera langsung mengarah pada bocah chubby tersebut.

 

Jika umat Hindu biasa menyentuh kaki pandit, maka disini kulihat hampir semua orang ingin menyentuh kaki bocah kecil itu. Tak hanya itu semua orang rasanya mengharapkan hal yang sama yaitu, sang bocah akan mengalungkan “khatak” yang mereka pegang keleher mereka masing-masing. Sungguh pengalaman yang baru pertama kali kulihat. Jika “khatak” dikalungkan oleh biksu/Lama mungkin hal yang biasa tapi oleh bocah kecil itu, apa iya dia mengerti? Sementara dia sendiri kelihatannya belum mengerti apa-apa, taukah dia kalau “khatak” adalah symbol penghormatan? Tapi itulah kepercayaan, itulah belief… kadang tak tersentuh logika.

 

Tak lama kemudian bocah itupun didudukkan diatas palanquin dan dibawa hingga ke puncak Skakna Monastery. Tetabuhan musik semakin terdengar hingar binger menyambut sang bocah cilik reinkarnasi yang tak jauh berbeda dengan si gendut Jigme yang tertidur pulas di gendongan ibunya.

 

Karya : Irma Rahmatiana