Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Juni 2018   19:06 WIB
Incredible83

Incredible83

July 12th, 2013

 

Aku dan Bablu

               

                Jam 3.45 alarmku berbunyi dan samar-samar kudengar adzan berkumandang. Aku seperti dikejar setan, cepat-cepat kuminum vitamin, makan telur, beberapa momo dan chai yang masih panas ketika kutuang dari termos. Tapi ada cerita yang lebih seru ketimbang aku yang gedebag-gedebug sahur, yaitu cerita aku dan si Bablu.

 

Sudah kuceritakan diawal kalau toilet di Ladakh adalah dry toilet, maka ketika aku ingin pipis dan membuka toilet yang terkunci aku begitu kaget mendapati sesosok anjing sedang meringkuk disudut. Meskipun ia di rantai, aku dan dia sama-sama terkejut dan berteriak satu sama lain. Anjing itu tak lain dan tak bukan adalah Bablu. Maka hal itu aku beritahukan kepada Laskit, dan diapun dilepaskan dari rantainya. Sekarang toilet itu pun tanpa penghuni. Dan kejadiannya kini lebih ribet.

 

Kebiasaanku yang banyak minum air putih mengandung konsekuensi aku ingin pipis secara kontiniti. Berbekal petromak kecil aku keluar rumah dan begitu pintu depan dibuka, entah dari arah mana Bablu menguik dan berlari kearah cahaya petromak yang aku pegang. Aku yang kaget setengah berlari dikegelapan sementara si Bablu berlari kedalam rumah. “Bagus”, fikirku jadi aku bisa pipis dengan tenang.

 

Tapi ternyata ketika aku berwudhu dia kembali menguik dan sudah ada dibelakangku. Aku yang tidak terlalu bersahabat dengan binatang (sebut saja anjing) ketakutan dia akan menggigit aku, padahal mungkin dia juga takut padaku. Aku berfikir dari mana dia bisa keluar padahal pintu depan kututup dengan rapat. Ya ampun aku lupa kalau jendela kamar terbuka, pasti dia kabur lewat situ. Kami saling menatap untuk sementara didini hari yang gelap gulita.

 

Aku ancang-ancang berlalu tapi ternyata aku kalah cepat, dia menjajari aku dan kamipun masuk rumah bersama-sama dengan kondisi psychology yang saling ketakutan satu sama lain. Aku tak bisa lebih cepat dari dia, nyatanya dia berlari menuju ke kamarku dan mengobrak-ngabrik tissue dan serpihan kulit telur bekas sahurku. Klimaksnya aku berhasil mengusir dia keluar dari kamar lewat jendela. Akupun langsung menutup jendela kamar rapat-rapat dan menarik nafas panjang. Sungguh sahur yang melelahkan.

 

Karya : Irma Rahmatiana