Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Juni 2018   19:02 WIB
Incredible82

Incredible82

Fasting month in Ladhak (2)

 

Esok harinya Dechen mengajakku melihat desa yang lain yang bernama “Chuchot”. Cukup sulit juga mengucapkan nama desa ini. Aku excited untuk menjelajahi Ladhak, tapi panas matahari summer begitu mentereng layaknya tengah hari, padahal jam ditanganku baru menunjukkan angka 10. Tapi anehnya angin yang bertiup dingin sekali seperti menggigit kulitku. Tenggorokan kering kerontang tapi kulitku semakin semakin dingin sampai ketulang. Kami berjalan selama kurang lebih tiga puluh menit untuk mendapatkan taksi menuju bus stand. Aku duduk di shelter berteduh dari panas, Dechen kulihat menenggak sebotol cold drink. Ohhhhhhhhhh, godaan orang berpuasa.

 

Setelah naik taksi dan bus, sekitar jam 12 kami sampai di Chuchot. Dechen mengenalkan aku pada pemilik rumah, yang tak lain adalah keponakannya sendiri, dialah Laskit. Cewek manis berambut panjang, rambutnya indah yang biasa kulihat di iklan shampoo. Begitu menginjak lantai rumah, ada sensasi yang menyentuh kakiku, nyesss… padahal kakiku dibungkus kaos kaki tebal. Kakiku yang panas serasa dicelupkan ke air es. Mereka berdua terkekeh-kekeh melihat aku terjinjit-jinjit.

 

Laskit membawa aku keruang makan yang merangkap dapur. Dinginnya minta ampun. Hawa dingin ini kukira berasal dari lingkungan sekeliling rumah Laskit. Rumahnya terletak ditengah-tengah sawah dan kebun kol. Ada juga kandang sapi dan kerbau. Merekapun punya seekor anjing bernama Bablu. Rumahnya dikelilingi pohon-pohon yang tinggi dan langsing, sehingga ketika angin bertiup kencang, hawa dingin langsung menyambar. Brrrrrrrrrr… tapi yang paling aku sukai adalah tumpukan bata putih dan pintu kayu “seadanya” yang menjadi “gerbang” rumah mereka.

 

“Julley, julley”,

 

Ibu Laskit menyapaku begitu memasuki dapur. Satu yang aku pelajari dari masyarakat Ladhak adalah mereka jarang bahkan tak pernah kulihat saling berjabat tangan jika bertemu, baik dengan orang yang sudah akrab maupun orang baru. Mereka akan meletakkan tangan mereka didepan keningnya dengan posisi telapak tangan yang berdiri sejajar dengan dahi sambil mengucapkan salam tersebut. Gesture ini persis yang seperti yang aku lihat jika melihat poster-poster Dalai Lama.

 

Segelas butter tea terhidang digelas kecil berwarna bergambar naga. Dechen memberitahu Ibu laskit bahwa aku sedang berpuasa, menatap kearahku sambil berkata, “Ok, ok”. Tak berapa lama mereka terlibat perbincangan serius dan tiba-tiba tanpa tersadar aku terus menerus menguap. Suasana yang dingin bersanding dengan perut yang kosong membuat aku mengantuk.

 

Perutku sudah keroncongan, tapi diluar sana hari masih terang benderang. Mungkin di Indonesia orang-orang sudah selesai berbuka dan siap-siap shalat Isya. Disini, tepat jam 20.00 adzan maghrib berkumandang dari mesjid yang letaknya tak jauh dari rumah Laskit. Tidak seperti di Punjab yang mayoritas penduduknya beragama Sikh, di Ladhak meskipun mayoritas beragama Budha, tapi tak sedikit mereka yang beragama Islam sehingga kita bisa mendengar adzan bersahut-sahutan, bahkan di pusat kota, Leh terdapat Jamma Masjid yang cukup besar.

 

Ibu Laskit menyiapkan menu berbuka puasa yang cukup “berat”. Enam lembar chapatti dan semangkuk sup daging (ternyata mereka keluarga non-veg ^_^) dan segelas chai dalam mug besar. Chapatti di Ladhak berbeda dengan chapatti yang biasanya aku temui di Punjab ataupun di bagian India yang lain. Bentuknya lebih tipis, tapi lebar, cocok untuk aku yang tak bisa makan banyak.

 

Seusai shalat maghrib, Ama (Ibu) Laskit menemaniku menyantap hidangan yang dia berikan. Segelas chai sudah tandas, aku hanya mampu menghabiskan dua helai chapatti dan sup daging domba itu rasanya sedikit pahit, entah sayuran apa yang ada didalamnya. Aku memperhatikan sayuran yang dipotong kecil-kecil berbentuk segi empat itu mirip pare, hmmm pantesan…

 

Aku sudah kekenyangan ketika waktu menunjukkan jam 21.00, ketika aku tengah menyelesaikan buka puasaku, mereka ternyata sedang mempersiapkan dinner. Dan ya ampun hidangan dinner mereka adalah momo, makanan kesukaanku. Momo adalah makanan sejenis dimsum yang berisi sayuran (jika dia veg momo) dan daging (non veg momo).  Aku tak sanggup menolak ketika beberapa potong momo menggoda mataku.

 

Satu jam berikutnya aku benar-benar menjadi zombie, hal yang biasanya terjadi jika aku kekenyangan. Akhirnya dengan berat hati aku menolak untuk memakan simungil berkulit putih itu, tapi mereka bukannya berhenti untuk menyimpan momo dipiringku malah menambahkannya lagi dan lagi.

 

Dan yang terakhir mereka menambahkan satu butir telur rebus. Sumpah demi Amal yang juga menyukai momo, aku sudah tak sanggup makan. Akupun berkata kepada mereka bahwa sisa momo dan telur rebus akan aku simpan untuk sahur. Dan Ama Laskit masih menambahkan soup daging domba, beberapa lembar chapatti dan satu termos chai untuk sahur nanti.

Karya : Irma Rahmatiana