Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Juni 2018   18:57 WIB
Incredible81

Incredible81

 

July 11th, 2013

Fasting Month in Ladhak

 

                Ini adalah hari pertamaku berpuasa di Ladhak. Sahur pertamaku adalah segelas susu dan dua potong Kashmiri bread. Aku merasa beruntung memiliki kesempatan untuk mengelilingi desa-desa di Ladhak selain Choglamsar. Desa pertama yang aku kunjungi bernama “Matho”. Gadis yang berkenan membawaku mengunjungi rumahnya, lagi-lagi bernama Dechen.

 

Dibawah pengaruh Tibetan, di Ladakh aku tak lagi menjumpai marga Kumar, Kapoor, Sharma, Gupta, Kaur ataupun Singh. Nama-nama yang sering aku jumpai disini adalah Jigme, Dechen, Stanzin, Tsering, Dolma, dan masih banyak lainnya yang belum pernah kutemui sebelumnya. Lucunya nama-nama ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, bahkan aku menemui anak dalam satu keluarga mempunyai nama yang sama, yaitu Jigme, padahal mereka berbeda jenis kelamin. Sering aku tertawa geli ketika mengingat seorang anak yang bernama “Tsetan” dan bandelnya bukan main, pasti ini pengaruh namanya.

 

Dechen pun mengajak aku untuk bermalam di rumahnya. Setelah meminta izin kepada Geshe Ngawang akupun bermalam satu malam disana. Ada yang menarik dari “susunan” rumahnya. Didepan kita sudah disambut dengan dry toilet, kemudian dua ruangan dengan dua pintu yang berbeda. Ruangan itu berfungsi ganda yaitu sebagai ruang tidur dan ruang tamu.

 

Selain dua ruangan itu ada satu lagi ruangan yang berfungsi sebagai dapur. Rumah ini berbentuk letter L, tapi aku bertanya-tanya, mana kamar mandinya? Ketika kutanyakan dimana biasanya dia mandi, dia hanya tersenyum-senyum dan menunjukkan kamar belakang sebagai tempat dia mandi. Tapi itukan cuman kamar tidur, mana airnya? Dari tadi aku tak melihat sumber mata air sama sekali di rumah ini, memang ada air tapi itu ditampung digentong. Dia kemudian bercerita bahwa jika dia ingin mandi, yang dilakukannya adalah mengunci pintu kamar, menampung air di bak (sejenis tempat untuk memandikan bayi) dan berendamlah dia disitu. Hmm, benar-benar mirip bayi ya…

 

“Lagi pula kami jarang mandi kok”.

 

Udara dingin Ladhak memang membuat orang-orang itu sepertinya malas mandi, aku hanya tersenyum nyengir membayangkan mandi berendam di bak bayi dan ditonton Dalai Lama hihihihi. Ya benar ditonton Dalai Lama karena tepat didepannya kulihat foto Dalai Lama yang sedang tersenyum.

 

Dechen terlihat sibuk mempersiapkan makan malam untuk kami semua. Bersama kami berdua ada orang tua nya yang sudah benar-benar tua. Sang Ibu memamerkan giginya yang sudah ompong. Dia perempuan yang jenaka. Aku tahu persis dia tak pandai berbahasa Inggris, satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya adalah pertanyaan sekaligus jawaban dari pertanyaannya sendiri, yaitu kata “Good?” dengan intonasi rendah dan menunggu anggukan dariku.

 

Sedari datang dan memasuki rumah mereka, dia tak henti-hentinya menawari aku segala jenis makanan mulai dari Kashmiri bread, chips, buah pisang, juice hingga chai. Sedangkan sang ayah yang tinggi dan kurus menawari aku minuman yang dituangkan dari botol tinggi langsing. Dengan membaca label yang tertera di badan botol aku tahu bahwa minuman itu adalah produk luar dan itu adalah minuman beralkohol. Kurasa minuman beralkohol itu mereka minum untuk menghangatkan badan dari cuaca dingin Ladakh terutama sore menjelang malam, angin yang bertiup dingin menyapu tulang.

 

Malam ini kami berempat makan malam dengan menu lengkap buatan Dechen, ada nasi, mutton, telur bulat yang nyemplung disayur hijau, dan tentu saja minuman berwarna seperti sari jus apel, yang entah apa rasanya karena aku sendiri menolak meminumnya dengan alas an itu adalah minuman beralkohol.

 

“Nirma is a muslim”,

ujar Dechen kepada sang ayah. Sang ayah manggut-manggut dan tersenyum.

 

Nirma? Ya itu adalah namaku di Ladakh. Entah mengapa di India namaku berubah-rubah. Di Punjab mereka tak pernah benar jika menuliskan namaku, mulai dari Irima hingga Iram. Dan disini aku mempunyai nama baru yaitu Nirma. Tak apalah, jika kutambahkan “la” dibelakangnya maka aku akan menjelma menjadi peri dari majalah Bobo, majalah anak-anak itu.

 

Malam ini, ditengah hembusan angin Ladakh, didalam rumah seorang Ladakhi dan diatas kasur, kami menikmati santap malam selayaknya keluarga kecil bahagia dan terencana, ayah, ibu dan dua orang anak.

Karya : Irma Rahmatiana