Incredible80

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 08 Juni 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible80

Incredible80

July 8th, 2013

 

Senin pagi seperti biasa lonceng dibunyikan jam 5.45. Lima belas menit sebelum jam enam adalah waktu mereka berolahraga. “Ek, do, tin, char, panch” (1,2,3,4,5 dalam bahasa Hindi) adalah teriakan yang selalu kudengar ketika mereka exercise. Meskipun mereka berbicara Ladakhi tapi dalam beberapa hal mereka menggunakan bahasa Hindi, salah satunya jika mereka berdendang.

 

Hampir semua lagu yang senantiasa mereka senandungkan adala lagu-lagu Hindi. Tapi lucunya bahasa Hindi tidak dipelajari disekolah, justru bahasa Urdu lah yang mereka pelajari selain bahasa Ladakh dengan tulisan Bodhi-nya, yang menurutku tulisannya lebih mirip dengan bahasa Sinhala (Sri Lanka).

 

Dan seperti biasa pula, seusai breakfast mereka akan bersiap-siap berpakaian seragam dan menunggu school bus. Tapi hari ini ada yang berbeda, sebagian besar anak-anak masih duduk nyantai. Ketika kutanyakan mengapa mereka berkata bahwa sebagian besar sekolah hari ini diliburkan. Hari ini pula dipastikan tak akan ada taksi ataupun bus yang beroperasi. Hal ini terjadi tak lain karena telah terjadi boom blast!.

 

Aku ingin mengkonfirmasi kebenaran ini, tapi Geshe Ngawang sedang pergi. Aku pun mencari “Geshe” yang lain. Baru aku tahu kalau “Geshe” adalah sebuah gelar bagi mereka yang sudah menamatkan study nya setingkat Doktor dalam agama Budha. Dan disini ada dua Geshe, yaitu Geshe Ngawang dan Geshe Jigme. Pagi seusai breakfast, aku melihat Geshe Jigme sedang duduk-duduk didepan balkon kamarnya. Aku menghampiri dia. Tidak seperti Geshe Ngawang, Geshe Jigme selalu tampil dengan atribut seorang real lama, yaitu maroon robes dan mala (sejenis tasbih) ditangannya.

 

Geshe Jigme membenarkan bahwa tadi malam telah terjadi pemboman terhadap beberapa monastery di Bodhgaya,Bihar. Dikabarkan telah ditemukan 8 bom yang disimpan di stupa Budha. Bom tak hanya disimpan di stupa Budha tapi juga di monastery dan pohon-pohon besar yang banyak terdapat disekitar monastery. Hal ini rupanya yang mendasari diliburkannya semua sekolah di Leh. Dihari biasa saja Choglamsar sudah sepi, apalagi hari ini, benar-benar seperti kota tak berpenghuni, tanpa bus, taksi dan pejalan kaki di jalan raya.

 

“Curhat” Angmo

 

                Bulan depan LADF akan mengadakan inagurasi dan rencananya mereka akan mengundang semua sponsor yang selama ini mensupport kelangsungan hidup hostel ini. Aku dimintai tolong untuk membereskan file-file yang “berserakan”. Bersama aku ada anak perempuan kelas 10 yang bernama Stanzin Angmo. Dia sering datang kekamarku untuk bertanya, bercanda atau sekedar curhat.

 

Sambil membereskan kwitansi, surat-surat dari para sponsor dan laporan keuangan, Angmo, begitu ia biasa disapa, bercerita bahwa dia akan meninggalkan Choglamsar tgl 19 atau 20 bulan ini. Dia harus pergi ke Jammu untuk melanjutkan kelas 11 nya. Hal ini disebabkan karena disekolahnya tak ada kelas 11, hanya sampai kelas 10 saja. Keterbatasan sekolah di Leh telah membuat anak-anak ini harus pergi keluar Ladakh jika ingin melanjutkan sekolahnya (kelas 11 hingga kuliah).

 

Meskipun dia senang karena tetap bisa melanjutkan sekolahnya, disisi lain dia kelihatan sedih karena dia harus meninggalkan teman-teman yang sudah bersamanya selama 9 tahun. Dia menarik nafas panjang sambil berkata kurang lebih bermakna singkat, tak mudah hidup diluar Ladakh. Dia sendiri mengaku seorang “country girl”.

 

Lebih jauh dia mengungkapkan kegalauannya jika dia sedikit ragu meninggalkan Ladakh. Jika diberikan pilihan dia tetap ingin bersekolah Ladakh. Aku hanya bisa membesarkan hatinya, bahwa nanti dia akan mendapatkan teman-teman juga lingkungan baru.

 

“I don’t know, Mam Irma”,

 

kata-katanya seperti menggantung diudara, dia seperti gamang meninggalkan Ladhak padahal hari itu masih dua minggu kedepan.   

 

Sejujurnya, jauh dilubuk hatiku, akupun mengakui bahwa Ladakhi people adalah orang-orang dengan tingkat “gentle” lebih tinggi dibanding orang India yang pernah aku temui lima bulan kebelakang, dimanapun, disetiap tempat-tempat yang pernah aku kunjungi. Mereka “smile” not “staring”, mereka “willing to help” not “cheated on you”. Maka wajar saja jika Angmo memiliki “kegelisahan” itu.

 

  • view 16