Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Juni 2018   18:41 WIB
Incredible78

Incredible 78

July 7th, 2013

 

Aku dan Dalai Lama

 

“Compassion is something like a sense of caring, a sense of concern for others difficulties and pain,not only family and friends,but all other people,enemies also”

H.H The 14th Dalai Lama

 

                Jika ingin mencari LADF mudah sekali, datanglah ke Choglamsar dan temukanlah H.H Dalai Lama Palace. Letaknya tak jauh dari situ, hanya berjalan lima menit, kawan akan melihat bangunan (yang saat ini) masih dalam proses konstruksi. Disinilah dulu Dalai Lama menyampaikan speech nya ketika berkunjung ke Choglamsar. Dan hari ini, yang sudah dimulai tadi malam suara musik, nyanyian dan lantunan doa sudah dimulai. Semua orang menyambut dengan suka cita hari lahirnya sang pemimpin umat Buddha, Dalai Lama.

 

Menyambut hari bersejarah ini, semua sekolah diliburkan. Dan aku tahu persis anak-anak ingusan itu berharap Geshe Ngawang memberikan izin bagi mereka melihat keramaian di Dalai Lama Palace. Dan tadi malam seusai dinner, Geshe Ngawang menyampaikan bahwa hari ini mereka boleh pergi ke Dalai Lama Palace, tentu saja mereka riang gembira menyambut keputusan ini. Mereka boleh berangkat mulai jam 09.30 dan harus kembali jam 13.00. Anak yang lebih besar bertugas menjaga anak yang lebih kecil. Tak main-main Geshe Ngawang langsung membacakan nama anak besar dan adik-adik yang harus mereka jaga disana.

 

Seusai breakfast, anak-anak berhamburan untuk mandi, mengenakan baju dan sepatu dengan rapi. Pokoknya hari ini mereka rapi jali dech, berbeda dari hari-hari biasanya. Mungkin ini adalah bentuk penghormatan untuk Dalai Lama.

 

Sesampainya disana, ternyata suasana lebih ramai, lebih dari yang aku kira. Meskipun Dalai Lama sendiri tak hadir disini, tapi lapangan besar seluas lapangan sepakbola tersebut ramai dikunjungi penduduk setempat maupun turis asing. Tenda-tenda dipasang dimana-mana dan keluarga Ladakh seperti menikmati moment ini untuk family gathering. Mobil-mobil terparkir rapi, mulai dari mobil pribadi, sharing taxi hinga bis-bis lapuk yang menampung banyak massa.

 

Panggung besar yang didirikan dihias sedemikian rupa, bendera Tibet dan India bersanding di sisi kiri dan kanan. Didepan sana para Lama mulai dari yang senior (tua) hingga biksu-biksu ingusan duduk dengan takzim mendengarkan sambutan demi sambutan. Sambutan diberikan secara silih berganti mulai dari para petinggi Lama, pejabat setempat hingga pria berturban. Tema speech pun beraneka ragam mulai dari pemberian ucapan selamat ulang tahun secara sederhana sampai mengingat kembali semangat perjuangan Dalai Lama untuk mempertahankan Tibet dari serangan China. Semua orang dengan seksama mendengarkan pidato yang disampaikan dengan berapi-api dan para penonton akan bertepuk tangan riuh rendah setelah speech selesai.

 

Setelah rangkaian speech berakhir, maka inilah saatnya Ladakhi Cultural. Tak kurang dari tiga Ladakhi Folk Dance dipersembahkan. Tari-tarian dibagi kedalam beberapa sesi, mulai dari anak-anak, dewasa hingga para penari wanita yang sudah tak muda lagi. Khusus untuk tarian awal yang dipersembahkan oleh para wanita setengah baya mereka mengenakan topi khas Ladakh yang bernama “stove pipe hat”

 

Semua hadirin berdecak kagum. Ada pemandangan lain yang cukup menjadi perhatian para pengunjung termasuk aku, tak lain dan tak bukan adalah para biksu cilik. Puluhan biksu cilik yang datang duduk bergerombol bersama teman-teman sebaya nya. Jika para biksu tua duduk bersimpuh dengan tenang maka biksu cilik ini tetap saja anak-anak yang menarik-narik sepatu temannya, berjungkir balik, menjilati es krim, mengunyah permen karet sembarangan hingga rebutan chips.

 

Sosok Dalai Lama kukenal pertama kali ketika menonton “Seven Years in Tibet” yang tak bosan kutonton berkali-kali. Ketika travelling ke McLeodGanj, Dharamsala sosok itu semakin “terang benderang”. Dharamsala memang menjadi kediaman beliau jika dia berkunjung ke India. Sosok itu semakin dekat ketika aku menginjakkan kaki di Ladakh. Foto Dalai Lama tak ubahnya foto Guru Nanak di Punjab. Dia bisa ditemui dimana saja, direstaurant, dihotel, calendar, ditaksi, ditoko, dimana-mana. Bentuknya pun bermacam-macam, dari ukuran mini yang kulihat di dashboard mobil hingga segede gaban yang dilengkapi lampu kerlap-kerlip dan disampirkan khatak diframe foto sebagai tanda hormat.

 

Dirumah-rumah penduduk atau di kuil foto Dalai Lama biasanya diletakkan dialtar doa yang disertai dengan mangkuk-mangkuk kecil. Mangkuk-mangkuk kecil itu diisi dengan air putih dipagi hari dan diganti dengan air yang baru disore hari. Tak hanya mangkuk mini yang berisi air putih, ada juga mangkuk yang berisi butter lamp. Butter Lamp adalah mangkuk kecil yang berisi minyak dan diletakkan kapas diatasnya. Butter lamp dinyalakan ketika berdoa, indah sekali, seperti diyas yang dihanyutkan disungai Gangga.    

 

Masyarakat Ladakh mencintai dan menghormati Dalai Lama seperti umat Katolik melihat Sri Paus dan umat Muslim mengagumi Rasulullah. Sosok Dalai Lama selalu ditunggu-tunggu tak hanya oleh umat Budha tapi juga oleh masyarakat lintas agama dari berbagai negara. Tak kurang semua kalangan masyarakat biasa hingga artis sekelas Richard Gere pernah tertangkap kamera mendengarkan lecture-nya. Jika kabar bahwa Dalai Lama akan menyampaikan speech bisa dipastikan hunian kamar di Dharamsala akan melonjak naik dan The Dalai Lama Temple akan dipenuhi massa sebelum lecture dimulai.

 

Aku memang salah satu pengagum dia. Ide-ide tentang forgiveness, compassion and happiness yang dulu terasa begitu absurd, rasanya kini satu persatu nyata kulihat. Aku belajar dari buku-buku dan DVD lecture-lecture nya. Aku seperti dituntun untuk mengenal diriku yang sebenarnya. Melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa kulakukan sebelumnya, memaafkan orang lain. Orang lain dimasa lalu, dimasa kini dan mungkin dimasa depan yang sudah dan (mungkin) akan membuat kita kecewa. Dalai Lama secara tidak langsung menjadi mentor-ku.

 

Aku belajar bagaimana Dalai Lama memaafkan bangsa China yang sudah mengobrak-abrik Tibet, membunuh para biksu, memperlakukan mereka dengan tidak manusiawi, dan masih banyak lagi kesengsaraan yang diterima oleh mereka. Dia berjuang dijalur non violence. Dia tetap tampil bersahaja dengan flip-flop kulit buatan India ketika diundang ke Gedung Putih. Dia memilih tiket termurah untuk setiap tiket penerbangan agar bisa menghemat uang negara. Dia makan tanpa harus dilayani dan bersahabat dengan seluruh umat agama yang ada didunia. Tak heran dia layak dianugerahi Nobel Price meskipun dia dengan rendah hati mengakui bahwa dia hanyalah seorang rakyat biasa yang berjuang demi bangsa dan negaranya.       

 

Disini, di Ladakh aku semakin mengenal diriku, belajar arti memaafkan dan mencari tahu hakikat kebahagiaan.

 

Karya : Irma Rahmatiana