Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Juni 2018   18:25 WIB
Incredible75

Incredible75

June 28th, 2013

 

2nd Day

 

                Hari kedua perjalanan menuju Ladakh, keadaan bis sudah seperti rumah. Kami saling bertukar tempat duduk. Jika ada spot yang menarik untuk di jepret kamera kami tak segan memberikan kamera masing-masing dan meminta tolong untuk diambilkan gambar. Ahmed, pemuda Kashmiri, yang tadinya duduk denganku kini memilih berbincang dengan gadis Rusia. Gadis Rusia rupanya lebih attractive daripada gadis Indonesia :p

 

Si bapak setengah baya asyik mengamati pemandangan sekeliling dan anak laki-lakinya masih saja diam seribu bahasa, hanya sesekali dia kulihat tersenyum. Perjalanan kami kali ini tak terlalu banyak berhenti, kami hanya mampir minum chai dipagi hari dan “early lunch” sekitar jam setengah dua belas. Sang sopir menginstruksikan untuk lunch lebih awal karena setelah ini bis tak akan berhenti, kalaupun berhenti hanya untuk pemeriksaan paspor saja di check point, selanjutnya bis akan terus berjalan sampai Ladhak yang diperkirakan tiba disana jam 13.30. Akhirnya perjalanan panjang akan segera berakhir.

 

Aku adalah penumpang yang turun pertama kali. Aku akan berpisah dengan teman-teman volunteer dari Delhi karena kami ditempatkan di district yang berbeda-beda. Tak seperti naik bis biasa, sambil membantu membereskan barang-barangku, mereka menjabat tanganku dan berkata, “good luck”. Ahmed mengingatkan aku jika nanti jalan-jalan ke Leh aku harus mampir ke tokonya, pasangan Jerman berharap bisa bertemu lagi di Leh. Sungguh suasana yang mengharukan padahal awalnya kami saling tidak kenal satu sama lain. Inilah yang kunamakan “family on foot”.

 

Reach SECMOL

 

                Begitu turun dari bis, yang kulihat adalah debu, padang pasir dan gunung. Aku nyengir mendapati sinar matahari yang begitu ganas langsung membakar kulitku. Kurang lebih setengah jam aku berjalan diantara hamparan pasir. Aku seperti seorang musafir dalam cerita Selimut Debu nya Agustinus Wibowo. Berjalan sendiri ditengah padang pasir begini seperti berjalan in the middle of nowhere. Tak ada warung kopi, tak ada rumah penduduk, hanya gunung yang terhampar didepanku.

 

Setelah berjalan kira-kira tiga puluh menit aku melihat seorang pemuda tengah berjalan dihadapanku. Aku menjajari langkahnya dan bertanya arah tujuanku. Pemuda belasan tahun ini kutaksir seumuran anak SMA. Dia dengan sopan menyapaku dan memberitahu arah yang harus aku tuju. Namun sebenarnya aku tak perlu capek-capek berfikir karena kami mengarah pada tujuan yang sama. Bahkan dengan senang hati dia menawarkan bantuannya untuk membawakan backpack ku. Dan dengan riang gembira aku menerima tawaran dia. Kami mengobrol sepanjang jalan.

 

Tanpa terasa kami sudah sampai tujuan. Sampai juga aku disebuah bangunan ditengah padang pasir dan gunung-gunung ini. Aku tiba disebuah sekolah alternative bagi pemuda-pemudi Ladakh, ya inilah SECMOL atau The Students Educational and Cultural Movement of Ladakh.

 

Seorang teman menganjurkan aku untuk mengunjungi sekolah ini, sebagai referensi dan melihat sisi lain dari pendidikan dan pengajaran. Bangunan ini tidak seperti sekolah pada umumnya, aku cukup bingung ketika pertama kali datang. Setelah menyimpan tas dan beristirahat sebentar aku melihat-lihat sekeliling sekolah.

 

“Julley”, seorang anak perempuan menyapaku.

 

“Julley”, ternyata merupakan bentuk sapaan di Ladhak, seperti halnya “Namaste”, “Namaskar”, atau “Shat Shri Akal” dibelahan India sana. Ternyata ruang pertama yang aku masuki adalah ruang makan. Terlihat seorang laki-laki bercelemek tersenyum dan mempersilahkan aku makan. Disini semuanya self service. Dua dandang besar berisi nasi dan sayuran terhidang disana, tersedia juga chai dan kopi. Rak piring tersedia dari arah berlawanan tak jauh dari sink, supaya jika selesai makan semua orang bisa langsung mencucinya.

 

Sekolah ini memang terbuka untuk siapa saja yang datang sekedar untuk visit ataupun  visit sekalian membagi ilmu menjadi volunteer teacher. Ketika aku visit kesana, aku bertemu dengan pasangan ibu dan anak perempuannya asal Boston, US. Ibu dan anak ini mengajar dua subject yang berbeda jauh. Nancy, sang ibu mengajar seni “Book Binding”, sedangkan Becky, anaknya yang cantik yang juga mahasiswa Medical College, mengajar Sex Education. Ada juga dua cewek India asal Mumbai dan Delhi yang ikut menjadi volunteer.

 

Ketika dinner tiba, semua orang berkumpul di suatu hall, dimana antara Ladakhi students dan volunteer teachers berbaur bersama. Ternyata masih ada volunteer teacher yang lain yang baru aku temui ketika dinner, mereka adalah pasangan suami istri asal Amerika, Sam dan Sarah. Sarah yang seorang guru secondary di Amerika ramah bercerita dan bertanya mengenai pendidikan di Indonesia dan perbandingannya dengan pendidikan di India.

 

Hari berikutnya di SECMOL datang lebih banyak volunteer teachers yaitu serombongan pelajar dari Seattle, US yang berjumlah kurang lebih lima belas orang. Dengan team leader yang fasih berbahasa Hindi, padahal dia seorang Amerika, mereka siap membagi ilmunya. Emma dan Alena, senang mengetahui aku yang asal Indonesia, karena mereka berencana akan ke travelling ke Indonesia setelah India. Tak hanya rombongan pelajar dari Seattle, dihari yang sama datang seorang Ibu dengan dua orang anaknya yang masih kelas 9 untuk visiting dan berbagi ilmu seni fotography.

 

Dua hari di SECMOL memberikan aku kesan yang mendalam dan pelajaran berharga bahwa penduduk Ladakh begitu berjuang keras “mensejajarkan diri” mereka dengan penduduk India dibelahan tempat yang lain. Ladakh yang terletak di daerah pegunungan seperti tak tersentuh dunia luar. Penduduknya yang mirip etnis Tibetan adalah orang-orang dengan tingkat “gentlest” yang tidak biasa untuk ukuran orang India.

 

Aku yang tinggal lima bulan di Punjab begitu merasakan sensasi yang berbeda ketika bersentuhan dengan mereka. Konon kabarnya, saking “un-touchable”-nya, dulu  jika mereka melihat orang asing mereka akan melarikan diri. Yang mereka ketahui hanyalah horse, sheep, cattle, flour, wheat dan semua hal yang berkaitan dengan farming stuff. Tak ketinggalan ajaran Buddha untuk ber dharma adalah yang utama.

 

Konon di zaman dulu diberitakan hanya anak laki-laki yang boleh menuntut ilmu di gompa/monastery untuk menjadi biksu dikemudian hari. Tapi ketika Dalai Lama menyerukan bahwa rakyat Ladhak harus segera berbenah dan tak hanya belajar mengenai agama saja, seketika “geliat” kearah sana mulai terjadi. NGO-NGO mulai bekerja keras mensupport mereka terutama dalam bidang pendidikan, dan salah satunya adalah sekolah ini.

 

Di SECMOL siswa tak hanya belajar dari buku, setiap bel dipukul maka setiap itu pula mereka mempunyai kewajiban untuk mengerjakan tugas yang berbeda-beda, mulai dari nyabit rumput, membersihkan beras, membantu sang koki memasak, memerah susu sapi, memberi makan dan membersihkan kotorannya. Mereka mengerjakan semua tanpa beban. Semangat mereka untuk menjadi pribadi yang tidak terbelakang dan mandiri, dibuktikan dengan belajar secara textbook tapi juga bergaul dengan semua guru yang datang dari semua penjuru dunia dan menjadi host jika ada tamu yang datang untuk visit.

Untuk membangun rasa percaya diri mereka, seusai makan malam biasanya secara bergiliran siswa akan menyampaikan speech dengan tema apapun, ada pula sesi tanya jawab setelah speech selesai. 

 

Semangat dan pribadi anak-anak Ladhak ini tak hanya menyentuh aku, tapi juga Nancy. Aku, Nancy dan Becky memang berencana meninggalkan SECMOL esok hari. Ketika dinner dan speech selesai, dia diminta menyampaikan kesan-kesannya selama di SECMOL. Nancy tak berhenti menitikkan air matanya sambil berkata,

 

 “This school is really run by the students”.

 

Malam itu aku menjadi saksi terbangunnya emosi antara volunteer teachers dengan anak-anak Ladhak. Anak-anak yang diberi kesempatan untuk menyampaikan kesannya memberi harapan agar mereka kembali lagi ke SECMOL dan mendoakan Becky agar cita-citanya menjadi dokter bisa terwujud.

 

 

Karya : Irma Rahmatiana