Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 8 Juni 2018   18:05 WIB
Incredible74

Incredible74

Si cantik Kashmir

 

Kecantikan Kashmir yang kutemui di Srinagar ternyata hanya separuhnya, setengahnya dia simpan disini. Setelah empat jam berlalu terlihatlah pesona jelitanya. Jalanan berliku di sisi tebing adalah rute dramatis berpadu dengan hijaunya pegunungan dan pohon cemara yang saling berkejaran. Birunya langit yang tanpa polusi bersanding dengan putihnya awan. Dia sekarang semakin sombong dan berkata mengukuhkan dirinya, “I am the Paradise of India”.

 

Sayup-sayup kudengar perbincangan pasangan Jerman dan Indian lover membicarakan sudah berada diketinggian berapa kami sekarang? Mereka sibuk mencari-cari buku kecil panduan mereka, yang berisi nama-nama tempat beserta ketinggiannya. Ini bisa dimaklumi, mengapa orang yang berkunjung ke Ladhak merasa bangga karena mereka serasa berdiri diatas ketinggian. Kata “Ladhak” sendiri berarti “place of high pass”.

 

Aku yang dulu mengagumi Manali sebagai “best hilli area” kini berubah fikiran dan meralat pernyataanku. Kashmir-lah jawaban untuk pertanyaan best hilli area in India.

Tiba-tiba bis berhenti dan sang sopir mempersilahkan jika ingin menghirup udara segar. Brrr seketika udara dingin menyapa. Bukan tanpa alasan sang sopir menyuruh kami keluar.

 

Disana didepan kami, puluhan kendaraan baik mobil pribadi maupun angkutan umum ikut berhenti. Macet kali ini bukan pula tanpa alasan. Umat Hindu dari seluruh penjuru India datang dan berkumpul disalah satu tempat diLadhak untuk memperingati “Amanat Yatra”. Upacara tahunan ini diadakan setahun sekali setiap akhir bulan Juni hingga awal Juli untuk memuja Lord Shiva.

 

Ini adalah ziarah umat Hindu terbesar, jadi bisa dipastikan banyak peziarah yang akan berpartisipasi. Saking tingginya minat umat melakukan ziarah ini, tenda-tenda yang tak terhitung jumlahnya mulai didirikan. Dari kejauhan tenda-tenda berwarna-warni itu tak ubahnya seperti tenda pramuka yang sedang mengadakan jambore. Tak hanya tenda untuk beristirahat, disediakan juga Free Kitchen yang tak kalah banyaknya.

 

Ziarah ini bukan main-main kawan, menurut salah satu penumpang bis yang aku “wawancarai”, para peziarah akan menempuh perjalanan sejauh 20 km berjalan kaki dan mendaki gunung dengan ketinggian 10.500. ketika kutanyai apa yang akan dilihat diatas puncak gunung jika kita sudah “sukses” mendaki, dia berkata sambil tersenyum kecut.

 

“Nothing”. Dia menambahkan sambil masih tersenyum,

 

“You know Indian are crazy about pilgrimage”.

Dia sendiri pernah melakukannya sekali ketika masih kuliah tapi sekarang karena kesibukannya bekerja dia sudah tidak melakukannya lagi.

 

Bis kembali berjalan meskipun padat merayap. Tak hanya pemandangan tenda-tenda peziarah umat Hindu ini yang kami lihat, pemandangan di Kashmir lainnya adalah para tentara dengan senjata laras panjang bertengger dimana-mana. Hal ini bisa dimaklumi karena dibalik gunung-gunung cantik itu adalah negara tetangga mereka, Pakistan.

 

Kashmir adalah border yang dijaga ketat, para penyusup bisa datang melalui pegunungan dari arah manapun dan kapanpun. Para tentara berwajah dingin terlihat dimana-mana dan entah setiap berapa meter kami bisa melihat mereka. Jumlahnya pun beragam mulai dari satu orang yang sedang melamun, dua orang yang mengobrol seru, hingga lima, enam atau tujuh orang yang bergerombol. Mereka tak hanya terdapat disetiap check point, ada juga yang luntang-lantung dijalanan sepi, di sawah, hingga “mangkal” ditoko buah. Inilah yang dinamakan perbatasan, kawan…

 

Jam setengah delapan malam, hari masih terang ketika kami sampai di Drass. Bis berhenti memberi kesempatan kepada penumpang untuk minum chai atau sekedar meregangkan otot. Udara disini jauh lebih dingin, bahkan amat sangat dingin, semua penumpang tak ada yang tak mengenakan jaket, mantel, topi dan yang lainnya untuk menjaga tubuh mereka dari kedinginan. Tertera plang besar persis di warung chai kami beristirahat. “WELCOME TO DRASS, THE SECOND COLDEST PLACE IN THE WORLD”. Hmm, pantesan… aku yang tak kuat dingin tak bisa berlama-lama diluar dan memilih masuk kembali ke dalam bis.

 

Perjalanan terus berlanjut dan tepat jam sepuluh kami sampai di Kargil. Inilah tempat yang mengingatkan aku pada keluarga Kalia di Palampur. Tempat dimana aku sempat menginap satu malam sebelum aku pergi ke McLeodGanj, Dharamsala. Kargil adalah salah satu tempat bersejarah bagi rakyat India. Dalam perjalanan tadi aku melihat Kargil War Memorial, tugu yang sengaja dibangun untuk memperingati para pahlawan yang gugur dalam Kargil War.

 

Kargil War terjadi pada tahun 1999 dan menorehkan luka yang amat sangat dalam bagi rakyat India. Sekitar sepuluh tentara India yang berjaga di perbatasan diculik oleh Pakistan dan dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa bahkan dikabarkan mereka dibunuh secara brutal. Hal ini diketahui dari jasad mereka yang tak utuh, bahkan menurut cerita ada beberapa organ tubuh mereka yang hilang. Salah satu tentara tersebut adalah Saurabh Kalia, yang dikenang sebagai salah satu pahlawan yang rela melepaskan nyawanya sebagai bukti baktinya pada negara. Sejenak aku termenung memandangi tugu yang menjadi saksi bisu kesedihan ayah Saurabh Kalia dan kebaikan keluarganya di Palampur.

 

Kami bermalam di Kargil. Semua penumpang turun mencari hotel untuk menginap. Aku, pasangan Jerman dan pria India yang tadi aku “wawancarai” sepakat untuk mencari hotel bersama, setelah sebelumnya kami dinner bersama pula. Sedangkan Ahmed kulihat bersama cewek Rusia.

 

Kebersamaan kami selama setengah hari dalam bis menimbulkan keakraban yang menyenangkan. Ada hal menarik yang kuketahui ketika kami dinner bersama, ternyata pasangan Jerman ini adalah vegetarian. Aku semakin banyak mengetahui banyak orang Eropa ataupun Amerika yang memilih menjadi vegetarian ketika mereka berada/sudah datang ke India. Entah apa motivasinya, tapi setidaknya pasangan Jerman ini bukanlah orang pertama yang aku ketahui seorang vegetarian. McKenzie, friend on foot-ku ketika di Dharamsala juga seorang vegetarian, begitu pula Chelsea dan Marissa, intern student asal Amerika dan Colombia. Kudengar Pedro, intern asal Brazil yang membuat Salma mabuk kepayang pun mulai mempraktekan menjadi seorang vegetarian. Jadilah malam itu aku seorang diri yang menyantap butter chicken, ayam yang kadar kelezatannya minta ampun.

 

 

Karya : Irma Rahmatiana