Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 2 Juni 2018   18:32 WIB
Incredible 73

Incredible73

 

June 27th, 2013

08.00 AM

 

1st Day

 

                Hari ini Srinagar diguyur hujan ketika aku tengah siap mempersiapkan keberangkatanku. Rencananya Jameel Khan dan Ayub sendiri yang akan melepas kepergianku dan teman-teman volunteer dari Delhi menggunakan sampan kecil milik mereka. Tapi berhubung hujan lumayan deras, maka jadilah mereka mengantar kami menggunakan shikara yang tengah terparkir tanpa penghuni dan entah milik siapa. Inilah salah satu bentuk “kekeluargaan” di Kashmir, kawan.

Kini tibalah saatnya benar-benar meninggalkan mereka. Lambaian tangan Jameel Khan dan Ayub semakin menghilang dari pandanganku dan aku bergegas melangkah meninggalkan Dal Lake Ghat 13 menuju bus stand ditengah guyuran hujan. But, wait... someone on the small boat was rushing tied up the knot and running towards us.

 

Tergopoh-gopoh dia berlari kearahku. Masih bisa ku cium nafasnya yang tersengal-sengal. Tak banyak bicara. He hands in a piece of paper! Kertas kumal yang entah bekas bungkusan apa atau dirobek secara tak sengaja.

 

Aku menatapnya cukup lama sambil mengambil uluran kertas lusuh berisi nama dan nomor teleponnya. Adegan ini bolehlah kukatakan persis scene film drama-drama Korea, Bollywood atau Hollywood ketika seorang pria mengejar wanita pujaan hatinya yang akan pergi dan tak kan pernah kembali hahahahaha. Gerakannya slow motion dan dunia secara otomatis mendadak berhenti berputar.

“Let me know if you have arrived in Leh”.

 

Hanya sebaris kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Aku hanya mengangguk. Aku tak bisa berlama-lama. Teman-temanku sudah menunggu. Aku bergegas memunggungi Javeed dan bergabung bersama teman-temanku.

 

Sesampainya di bus stand hujan masih turun meskipun hanya rintik-rintik. Puluhan orang berkerumun dan bergerombol mulai dari penduduk lokal hingga para bule. Disinilah aku berkenalan dengan pasangan asal Germany. Usia mereka tak muda lagi tapi tahukah teman apa yang akan mereka lakukan di Ladakh nanti? Mereka akan melakukan trekking selama 5 hari !!! Aje gile, hebat bener semangat mereka, aku acungkan dua jempol untuk mereka.

 

Claudia dan Ulf itulah nama pasangan suami istri tersebut. Bagi mereka ini adalah kali ketiga mereka bertandang ke India. Mereka tak sekedar plesiran di India, tapi juga berniat mengunjungi dua sponsor children mereka disini. Dari hasil percakapan diketahui ternyata Claudia juga berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di Jerman. Kamipun mengobrol dengan senangnya.

 

Sedang asyik-asyiknya mengobrol, kami mendengar ribut-ribut yang terjadi diluar bis. Seorang pemuda dengan tiga gembolan besar terlihat memaki-maki seorang pria botak. Mereka sepertinya terlibat perdebatan sengit padahal diluar sedang hujan dan pemuda itu menggendong gembolan besar dipundaknya, tapi mereka tak perduli, mereka tetap saja saling berteriak satu sama lain. Entah apa yang mereka permasalahkan.

 

Aku berpaling tak ingin merusak pagiku dengan “pemandangan” ini. Sang driver mulai menyalakan mesin mobil tanda kami akan meninggalkan Srinagar. Aku yang tengah duduk tenang setengah terusik ketika seorang pemuda tanpa ba bi bu memasukkan barang-barang bawaannya dibawah jok yang aku duduki.

 

“Excuse me, this is my seat”, katanya melihat kepadaku.

 

Aku yang sudah duduk nyaman tak menyadari duduk dikursi yang salah. Aku beranjak hendak pindah tapi pemuda tersebut cepat-cepat berkata,

 

“But if you want to seat here, that’s okay”. Gimana sih nih orang.

 

“Will it be okay for you?”, tanyaku berbasa-basi karena sejujurnya aku memang tak ingin pindah.

 

“Ya, ya, ya no problem”, katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dia kemudian duduk disampingku. Ketika aku melirik dia, aku baru menyadari bahwa dia adalah pemuda yang beradu mulut dengan pria tak berambut tadi. Dan pria botak tadi adalah kondektur bis kami.

Penumpang bis didominasi penduduk lokal, hanya bedanya sekarang, paras muka mereka tak hanya “real Indian”, tapi juga bermata sipit dan berkulit agak terang, ya mereka adalah etnis Tibetan yang banyak mendiami Ladhak. Bersama aku dan pasangan asal Jerman ada juga single fighter, cewek tomboy asal Rusia dan sepasang muda-mudi India yang sepertinya sedang jatuh cinta. Ini terlihat dari kostum mereka yang sama, backpack yang sama, mereka saling berbicara dengan lemah lembut, saling menatap dan saling berbagi chips.

 

Bersama kami ada juga pasangan ayah dan anak laki-laki yang duduk sejajar dengan aku. Bis ini sebenarnya tak hanya penuh dengan penumpang, seperempat badan bis di isi dengan barang-barang, bahkan masih ada beberapa space bangku yang kosong.

 

Aku akhirnya berbincang cukup akrab dengan sang pemuda tadi. Ternyata dia adalah seorang saudagar teman, punya beberapa toko di Ladhak maupun Goa. Ada juga showroom karpet milik keluarganya di Srinagar. Dia sempat berkata jika aku kembali ke Srinagar mampirlah ke rumahnya, tak perlu takut nyasar karena semua orang tahu keluarganya. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan ceritanya.

 

Pemuda ini memutuskan untuk drop out dari kuliah masternya di University of Kashmir dan memilih meneruskan usaha ayahnya untuk menjadi saudagar. Tinggal di Ladhak dan pulang ke Srinagar setiap dua atau tiga bulan sekali untuk membawa barang dagangannya ke Ladhak. Dia mengenalkan dirinya sebagai Ahmed dan amat senang mengetahui aku seorang Muslim.

Kadang aku bertanya-tanya mengapa mereka selalu menanyakan agamaku padahal kepalaku sudah tertutup jilbab. Ternyata di Ladhak, jilbab tak hanya milik kaum Muslimah. Perempuan non muslim juga mengenakan penutup kepala tapi dengan maksud dan tujuan yang berbeda, yaitu melindungi kepala dari sengatan sinar matahari di kala summer dan melindungi kepala dari kedinginan dikala winter.

Dia secara terang-terangan tak ingin seperti ayahnya yang melarang dua orang menantu perempuannya yang berprofesi sebagai seorang dokter untuk berhenti berpraktek ketika menikah dengan kakak-kakaknya. Ahmed seperti menerawang membayangkan dua orang kakak iparnya kini tertutup burqa dan hanya tinggal di rumah melayani abang-abang nya dan mengurus cucu-cucu kebanggaan ayahnya. Ahmed pun setengah bergumam ketika dia berkata,

“Semua orang tahu tidaklah mudah untuk masuk fakultas kedokteran dan menyelesaikan kuliah hingga bergelar dokter”, ujarnya sambil melirik kearahku.

 

Dia kini seperti orang yang curcol kepadaku, lebih jauh dia bercerita, bagi ayahnya tugas utama seorang perempuan adalah mengurus suami dan membesarkan serta merawat anak. Perempuan tak perlu keluar rumah untuk mencari nafkah. Bahkan dibeberapa keluarga yang masih memegang teguh tradisi, perempuan tak boleh bertemu dengan orang asing diluar lingkungan yang disebut keluarga.

Pernyataan Ahmed cukup mengagetkan dan mengingatkan aku pada keluarga Ayub, ya aku tak pernah melihat istri Ayub? Kemana dia? Selama tinggal di houseboat aku tak pernah melihat sosok wanita yang sudah memberi cucu bagi ayah Ayub? Jika mereka berkumpul sore hari, yang aku lihat hanya Ayub, ayah dan ibunya, kakak laki-lakinya dan si cantik Kulsum, cucu mereka. Mungkinkah istri Ayub salah satu dari wanita yang tak boleh bertemu orang asing selain keluarganya? Entahlah…

Saking asyiknya ngobrol, tak terasa ternyata kami sudah empat jam berada di dalam bis dan semua orang “start to know one each other”. Pasangan Jerman kudengar berdiskusi dengan Indian lover, cewek Rusia acuh tak acuh dengan keadaan disekelilingnya. Dia nyenyak tidur dengan bantal dan jaket tebalnya. Pasangan ayah dan anak cukup unik, kuperhatikan sang ayah lebih excited dan antusias berkomentar ini dan itu, sesekali ikut berbicara dengan pasangan Indian, ketimbang sang anak yang memilih diam seribu bahasa. Sang ayah yang setengah baya memilih pindah tempat duduk dan mengobrol dengan seorang lelaki India yang duduk sendirian tapi dari tadi cukup sibuk memotret ini dan itu.

Karya : Irma Rahmatiana