17 Ramadhan

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Mei 2018
17 Ramadhan

Ramadhan the 17th, 1437 H (June 11th, 2017)

kalam bersifat Qodim, tidak bisa didengar
ia bersih dari ucapan, perbuatan dan kehendak
dengan kalam Allah aku mengobati setiap penyakit.
sedang cahayaNya sebagai petunjuk hatiku
ketika kebohongan dan kebingungan dalam hatiku
wahai Tuhanku, berikan kenikmatan kepadaku
dengan rahasia-rahasia hurufnya
dan terangilah hatiku, pendengaranku dan penglihatanku
dengan kalam tersebut Ya Rabb
(anonymous)

Sejenak aku tertegun memandangi barisan huruf-huruf berbaris rapi diatas selembar kertas putih dihari pertama aku memulai belajar. Aku tidak pernah terbiasa bershalawat. Yang lain mungkin sudah sangat mahir dalam melantunkan pujian ini, tapi bagiku? Aku hanya terbiasa mendengarnya melalui corong-corong mesjid.

Aku tak tahu bagaimana melantunkannya. Tapi hatiku berdesir seketika demi memperhatikan translasi dari huruf-huruf nan indah itu.

“Luruskan niat untuk mempelajari kitab suci, semua semata-mata hanya karena Allah”.

Aku masih memandangi kertas digenggaman tanganku, ketika lamat-lamat kudengar lelaki berperawakan sedang berdiri di tengah-tengah kami sambil memegang kitab suci, buku petunjuk akhir zaman, penyempurna semua ajaran.

Selama ini aku mengenalnya sebagai sebuah buku yang wajib dibaca ba’da shalat maghrib. Ketika zaman kecil (hingga sekarang), dikampung kecilku, adalah kewajiban orang tua mengirimkan anaknya ke mesjid ba’da subuh dan magrib untuk mempelajarinya. Langkah untuk membaca buku suci ini memang panjang. Memulai mengenal huruf hijaiyah, menuliskan dari kiri ke kanan, bahkan jika pa ustadz-nya adalah lulusan pesantren tulen, siap-siap belajar huruf-huruf yang disisir kebawah sebagai arti bahkan dalam bahasa lokal, bahasa sunda! Mereka yang addicted belajar ini, bersedia berlelah-lelah mempelajari barisan huruf ini sampai dia tak bertanda baca, arab gundul, istilahnya. Tapi aku tak “sekeren” itu.

Hingga dalam sebuah perjalanan tak terduga, aku melihat huruf-huruf gundul itu tersebar dimana-mana. Mereka berkata bahwa mereka berbicara Urdu. Aku hanya mampu mengeja, tak mengerti apa artinya. Demi melihat aku menutup kepala dengan selembar kain, seorang perempuan dengan percaya diri memintakan dibacakan beberapa huruf yang berbaris rapi dan artinya.

“I’m sorry, I don’t know the meaning”

Si perempuan tampak kecewa, diapun berlalu dengan senyum diwajahnya.

“Aren’t you a muslim?”

Aku mengangguk, malu rasanya tak bisa membantu dia.   

Waktu kemudian membawa aku berkenalan dengan sebuah perkumpulan. Perkumpulan orang-orang yang membiasakan dan mendisiplinkan diri membaca sepuluh lembar dalam sehari ayat-ayat Sang Illahi. Sepuluh lembar sehari??? Akupun memberanikan diri mengikutinya. Dalam perjalanannya, ada satu pertanyaan yang tiba-tiba datang, “bagaimana mungkin setiap hari aku membacanya, tapi aku tak mengenal maksud dari yang aku sendiri baca?”

Maka akupun berpamitan, beralih mengurangi jatah membaca menjadi setengahnya. Dan sungguh aku takjub dibuatnya!

Jadi selama ini semua cerita-cerita yang aku dengar dan (hanya) selewat-selewat ada didalamnya. Cerita keruntuhan bangsa Romawi, cerita tujuh orang pemuda dengan satu anjingnya, cerita Sang Nabi tampan yang digoda sang majikan, cerita “pengurapan” Sang Al-Masih, perintah tak berputus asa kepada Zakaria agar selalu optimis mendapatkan keturunan, kisah Alexander the Great, kaum Ad, Tsamud hingga kaum Sodom, mungkin hanyalah sebagian kecil dari yang aku bisa ingat.

Selebihnya?

 “Dan sungguh, Kami telah menyampaikan perkataan ini (Al-Quran) kepada mereka agar mereka selalu mengingatnya.”

“Orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Quran, mereka beriman pula kepada (Al-Quran)” (Q.S Al-Qasas 51-52)

Sungguh paripurna! Bahkan penganut Yahudi dan Nasrani pun percaya akan kebenaran Al-Quran dan kebenaran Baginda Nabi Besar Muhammad S.A.W. Benarlah kiranya Dia disebut Kitab Penyempurna, sebuah kitab yang menjawab semua pertanyaan dari dulu hingga akhir zaman.

Kita selalu memperdebatkan halal dan haram mengucapkan selamat kepada saudara lintas kepercayaan. Kita selalu bertanya, sampai dimana batas “kesabaran”, bahkan kita berani berkata, “Sabar ada batasnya”. Kita kadang tak menemukan jawaban bagaimana memaafkan orang lain, bagaimana akhlak ketika berdebat agar tak menyakiti hati orang lain. Kita selalu bingung “membagi rata” penghasilan kita. Kita selalu bergumam, apa yang harus dilakukan ketika menjemput rezeki, jodoh dan pekerjaan. Pun kita bingung bersikap kepada trend akhir zaman, dimana pernikahan sesama jenis menjadi suatu hal yang kemudian dianggap normal adanya. Padahal Dia sudah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu.

Perbincangan tentang agama, spiritualitas atau apapun itu namanya selalu menarik untuk direnungkan dan diperbincangkan. Meskipun untuk beberapa teman saya, yang rata-rata orang Eropa tidak pernah tertarik untuk mengangkat ini sebagai topik perbincangan.

“It’s not a sexy topic to talk”

Begitulah kira-kira pendapat mereka. 

“And it’s too privacy”

Namun kemudian, sebagian kecil dari mereka masih tertarik untuk membicarakan hal ini. Sehingga hal yang aku anggap baik pun menjadi hal yang menarik untuk dijadikan bahan renungan ketika kami berbincang-bincang. Ya dia adalah seorang teman yang begitu kritis terhadap semua lintas kepercayaan. Sungguh, aku tak meragukan kemampuan nya dalam berdebat. Aku dengan pengetahuanku yang mungkin tak seujung kukupun, sering dibuat terdiam dan berfikir ketika berbicara dengannya.

Tak kusangsikan wawasan dia seluas-luas nya. Dia membaca hampir semua kitab suci agama, bahkan Al-Qur’an melalui terjemahannya. Dia telah membaca begitu banyak buku dan terkadang merekomendasikannya kepadaku untuk selalu membaca tak hanya setiap hari namun setiap detik. Ya, setiap ada kesempatan kamu harus terus membaca Irma, begitulah pesannya.

 Membaca? Iqra?

Inilah perintah pertama wahyu kepada Sang Nabi.

Bahkan dia (atau mereka) yang bukan Muslim adalah “pengamal” ulung wahyu pertama untuk selalu membaca, dimana saja dan kapan saja.

Dalam satu perbincangan kami, ketika berbasa-basi apa kegiatanku sekarang, aku berkata baru saja bergabung dengan komunitas untuk membaca Al-Quran setengah juz (lima lembar) sehari. Diluar dugaan, kegiatan yang baru aku katakan disambut olehnya dengan tawa yang cadas. Bagi sebagian orang tertawanya adalah tertawa sinis. Namun, mari lihat isi didalam tawa besarnya.

Dia kemudian menukil dari pepatah sufi. Sang sufi yang lahir sekitar abad ke lima belas bernama Sufi Saint Kabir. Dari beberapa sumber yang aku baca Sufi Saint Kabir adalah seorang yang tak hanya dikenal sebagai sufi namun juga seorang yogi. Di sebutkan  pula dia adalah seorang suci diberbagai agama monotheisme. Saking dikaguminya, ketika ajal menjemput, orang-orang kemudian kebingungan untuk menguburkannya, antara dikubur (sesuai syariat Islam) atau di bakar (seperti penganut HIndu). Konon kabarnya ketika mereka berdebat, sang murid mendapati jasad sang guru telah menghilang dan berganti menjadi kumpulan bunga segar. Diakhir kisah, sebagian bunga itu dikubur dan sebagian nya dibakar.

Tentu kita mempunya pendapat yang berbeda-beda jika membaca syair yang di tulis Kabir, namun saya pribadi menganggap bahwa apa yang Kabir katakan sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dan inilah pandangan sang sufi.

“Pothi pad pad pandit bhaya na koi dahi akhar prem ka padi pandit who hi hoi”     
(Reading the book often does not make anyone a saint. One who reads and understands what love is, is a true saint). -A share of old Sufi Saint Kabir

Aku terdiam memandang barisan kata-kata Sansekerta tersebut.

“I understand that Indonesia is the biggest Muslim country and they like to go to Mecca. You must be want to go there too”

Tanpa banyak berfikir aku menjawab.

“Definitely! It is one of dream list”

Dia kembali tertawa. Tanpa banyak kata dia menukil kembali perkataan sufi, namun kali ini dari seorang sufi asal Pakistan, Bulleh Shah. 

“Makkay gayaan, gal mukdee naheen. Pawain sow sow jummay parh aaeey.”
(Going to Makkah is not the ultimate, even hundreds of prayers are offered)

“Ganga gayaan, gal mukdee naheen. Pawain sow sow gotay khaeeay”.
(Going to River Ganges is not the ultimate, even hundreds of cleansing are done)

“Ved Purana pad pad thakke. Sajde kardeya ghis gaye mathe Na Rabb Tirath Na Rabb Mecca. Jis paya tis dil rich yaar.”
(We have grow tired of reading the Ved/Purana (Hindu holy text) by prostating so often our foreheads have developed a mark. The God is not in pilgrimages (Hindu) nor is the God in Mecca. Those who has found Him, have found Him inside their hearts).

Nukilan puisi sang sufi membuat aku semakin merenung. Betapa malunya hati ini, hidup ditanah dengan penduduk Muslim teratas namun peringkat korupsi kitapun tak kalah paling atas. Berbanding terbalik dengan rendahnya tingkat  literasi kita yang berada diperingkat 50 dari 56 negara ( Data PISA 2006). Pembicaraan kami pun akhirnya melebar kemana-mana. Kami yang tadinya hanya berbicara tentang “kesalehan individual” kini meluas berbicara tentang “kesalehan kolektif”.  

Masalah kemaslahatan umat adalah yang utama bagi negara barat (politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan,dll). Mereka tidak mencampuradukan antara kepercayaan dan politik, namun anehnya negara-negara yang menganut kepercayaan diluar Islam (bahkan tak bertuhan sekalipun) ternyata “lebih syariah” daripada negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Di sini, di negara kita bahkan dana haji dan beberapa travel umrah sering menelantarkan ummat.

Beberapa tahun lalu aku membaca artikel lawas berjudul “How Islamic are Islamic Countries?”. Ada satu orang blogger dan seorang rektor yang membahas mengenai artikel ini dikaitkan dengan pengalaman mereka masing-masing baik sebagai seorang muslim Indonesia yang memang bermukim di negara barat dan seorang rektor yang kerap mengadakan study banding dengan negara-negara barat dalam kapasitasnya sebagai seorang praktisi pendidikan. 

Sang blogger bercerita bahwa selama dia hidup di barat dia begitu bahagia mencicipi begitu banyak kemudahan dan keuntungan tinggal di barat. Sarana kesehatan dan pendidikanadalah gratis tis tis. Membaca tulisan mba blogger ini mengingatkan aku pada seorang bapak tua yang memberikan testimoninya ketika seminar sekolah di luar negeri. 

Bapak tua yang mengambil sekolah S3 di Inggris bercerita bahwa pada suatu hari petugas galian jalan (mungkin di kita seperti pengerjaan proyek PU) harus menghentikan pekerjaannya karena sang kepala sekolah merasa bahwa anak-anak sekolah terganggu konsentrasinya dengan kegiatan penggalian jalan tersebut. Suara sang kepala sekolah lebih di dengar karena berkaitan dengan kegiatan belajar mencari ilmu daripada kegiatan melebarkan jalanan yang bisa ditunda sampai liburan sekolah tiba sehingga tidak mengganggu kegiatan sekolah.

Dari dua ilustrasi ini kita bisa melihat dengan jelas betapa pelayanan publik adalah prioritas utama. Kesehatan dan pendidikan adalah hal fundamental dalam kehidupan. Bandingkan dengan negara kita yang “masih merintis” pelayanan publik yang tak kunjung “ajeg”. Sistem pelayanan kesehatan yang di claim “membebaskan” pasien dari uang berobat ketika sakit masih amburadul, termasuk salah satunya birokrasi yang berbelit-belit dan betah berlama-lama.

Begitupun dengan sistem pendidikan. Meskipun banyak sekolah-sekolah berkualitas dengan kualitas nomor wahid dan guru top luar negeri, namun kita semua tahu siapa yang bisa mencicipinya. Belum ratanya “distribusi pendidikan” menciptakan gap yang begitu jauh antara kemapuan anak yang bersekolah di kota dan didesa. Belum lagi jika kita sudah berbicara klasifikasi sekolah berbasis kurikulum internasional atau tidak, tambah puyeng kepala beta..

Ah, lelah rasanya berbicara mengenai hal ini. Namun memang itulah yang terjadi. Jika kita kembali ke artikel “How Islamic are Islamic Countries” kita memang akan disuguhkan pada kenyataan pahit bahwa ternyata negara yang dinobatkan telah mengamalkan nilai-nilai yang syariah adalah negara Selandia Baru pada posisi pertama dan Luxemburg diperingkat kedua.

Bagaimana dengan Indinesia? Negara kita ada di nomor 140 dari 208 negara. Dalam skala 10 besar negara-negara lain yang dinilai mendekati nilai-nilai syariah ternyata masih didominasi negara-negara diantaranya Kanada, Inggris dan Australia. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan negara-negara peserta OKI sekalipun yang mendapat posisi dipojokan. Seperti halnya Indonesia, peserta lain memang berada di atas kita seperti Maroko (119), Arab Saudi (131) dan Pakistan (147). Jika memang kita ingin belajar mungkin kita bisa berguru pada negara tetangga Malaysia yang berada di peringkat 38.

Melihat kenyataan ini apa yang sebaiknya kita perbaiki? Ada penutup yang disampaikan oleh bapak rektor yang mengulas artikel diatas yang sangat baik sekali kita simak dan perhatikan dengan seksama.

“Keberagamaan kita lebih senang dilevel semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam-shahadat,shalat,puasa, zakat, haji – dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. Padahal misi Rasulullah itu datang untuk merubah peradaban yang memiliki tiga pilar utama: keilmuan, ketakwaan dan akhlak mulia (integritas).” 

Dari ketiga hal yang disebutkan diakhir kalimat, menurut Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University (lembaga yang melakukan penelitian), dunia Islam mengalami krisis!

Kiranya kita harus banyak-banyak berbenah.  

Note:

Coretan ini hanyalah ditulis sebagai pengingat diri, dari seorang yang fakir ilmu namun tetap ingin beristiqomah mencari ilmu. Jika dirasa ada kata/kalimat yang tidak sempurna, mohon diluruskan dan diberi pencerahan. Terima kasih.

  • view 35