Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 26 Mei 2018   09:06 WIB
Incredible72

Incredible72

Ladakh, the Little Tibet

 

 “I’ll put in my CV and let everybody knows if I have been there”.

 Aku masih ingat pernyataan itu, pernyataan Abhisek, salah satu Local Committee Chandigarh, pada suatu hari ketika kami sedang mengobrol. Dia begitu berapi-api menceritakan suasana, orang-orang, pemandangan sekitar dan tempat seperti apa Ladhak itu. Aku sedikit curiga benarkah dia pernah kesana atau hanya sekedar mengagumi, berkeinginan besar tapi belum pernah kesana.  

“Have you been there?”, aku iseng bertanya.

“Not yet” katanya sambil nyengir

Tuh kan benar. Indian! Tapi dia berdalih alasan mengapa dia belum kesana. Kesibukan kuliah ditambah medan Ladakh yang “tangguh” membutuhkan orang-orang tough untuk pergi kesana. Alasan lainnya adalah lokasi Ladhak yang ada di Jammu & Kashmir selalu menjadi excuse yang menimbulkan orang takut kesana.

Waktu itu, sejujurnya aku tak terlalu peduli ketika mendengar kata Ladhak. Begitu istimewakah tempat itu? Diantara Agra, Jaipur, Delhi, Shimla atau Manali, tempat itu tidak happening untuk traveling bagi para intern. Kabar kalau Ladhak sedang naik daun justru aku tahu dari media-media dan buku pelajaran anak kelas 5 ketika aku tanpa sengaja membukanya. Kabarnya Ladhak mendadak naik daun sebagai primadona wisata di India ketika Bollywood memproduksi film “Three Idiots” yang berlokasi syuting disana. Seiring pamornya yang semakin naik, maka harga tiket pesawat menuju Ladhak pun dikabarkan naik dua kali lipat. Mungkin analoginya seperti Belitung yang mendadak melejit setelah Tetralogy Laskar Pelangi keluar bahkan di film kan. 

Selain boomingnya film Three Idiots, bencana banjir yang menenggelamkan rumah penduduk tahun 2012 telah membuat semua mata tertuju pada Ladhak termasuk salah satunya Aamir Khan. Aamir Khan yang terkenal dermawan dan menjadi salah satu pemeran utama film tersebut memberikan donasi yang tidak sedikit untuk membangun kembali fasilitas publik (termasuk sekolah) ketika bencana itu terjadi.

Gambar Ladhak yang ditampilkan dibuku General Knowledge anak kelas 5 memang jelas berbeda dengan pemandangan yang biasanya aku lihat di tempat yang sudah aku datangi sebelumnya. Beberapa hari sebelum mengajar General Knowledge aku biasanya membaca terlebih dahulu materi pelajaran tersebut dan mataku tak pernah bosan membolak-balik satu bab mengenai Ladhak. Gurun pasir, monastery, prayer flag yang menggapai langit, prayer wheel yang amat sangat besar, para biksu, patung Budha dan masih banyak lagi yang sepertinya, bukan India..

Ladakh disebut juga land of high passes. Ada juga yang menyebutnya sebagai the land of peace. Tempat ini didominasi oleh barisan pegunungan Himalaya di selatan dan Karakoram di utara. Disebutkan pula kalau tempat ini extremely dry and cold dan mempunyai distinct culture. Indus River mengalir ditengah-tengah Ladakh. Kalimat terakhir dibuku General Knowledge itu telah membuat aku penasaran.

“Ladakh is remote, inhospitable, and enigmatic, yet serene beautiful and splendrous”.

Tulisan itu semakin memprovokasi aku untuk segera sampai kesana… dan tak lama lagi, esok 27 juni aku akan meninggalkan Srinagar menuju Ladhak.     

Karya : Irma Rahmatiana