Incredible70

Incredible70

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 25 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible70

Incredible70

Sightseeing in Kashmir

 

                Hari ini aku ingin jalan sendirian di Kashmir. Kabarnya "strike" yang kemarin terjadi sudah berakhir. Ayah Ayub bilang aku bisa menikmati cerahnya Kashmir hari ini. Dia merekomendasikan beberapa tempat, salah satunya adalah mesjid yang terkenal yaitu Hazratbal, dan aku pun menempatkannya destinasi pertama hari ini.

Inilah Hazratbal Mosque, mesjid yang sudah tua dan masih dalam tahap renovasi ini konon kabarnya banyak dikunjungi umat muslim. "Hazrat" berarti Nabi dan "bal" artinya rambut. Jadi bisa dikatakan Hazratbal artinya “Rambut Nabi”. Konon kabarnya disini kita bisa melihat helai rambut milik Rasulullah S.A.W. akupun bersemangat berjalan menuju arah mesjid tersebut. Tapi sebelumnya aku ingin menunaikan shalat zuhur dulu. Setelah menunaikan shalat, aku melangkah keluar mengikuti arah “arrow” tempat dimana rambut itu disimpan. Memasuki area teras aku melihat beberapa wanita sedang berdoa dengan khusuk. Akupun melangkah masuk, menapakkan kakiku ditangga pertama, tapi tiba-tiba seorang bapak berseragam polisi berseru kepadaku,

“No Madam, prohibited for women”.

Hmm, aku menarik nafas panjang dengan sedikit rasa kecewa, tapi seharusnya aku sadar, bukankah kejadian ini bukan yang pertama. Aku pernah mengalami hal yang sama ketika di Rouja Sharif dan Jama Masjid Delhi. Seperti biasa kaum wanita hanya diperkenankan sampai di depan pekarangan/teras saja tak bisa masuk kedalam. Akupun berbalik arah dan meninggalkan mesjid tersebut dengan sedikit rasa kecewa.

Mengobati rasa kecewa, aku akhirnya menikmati semilir angin Kashmir dipekarangan mesjid yang terhampar luas. Pekarangan ini tak ubahnya lapangan sepakbola, luas sekali dan ternyata ini tak hanya dimanfaatkan untuk duduk-duduk saja. Warga Kashmir lainnya ada yang menggelar tikar dan berpiknik dengan keluarga, ada yang shalat berjamah dialam terbuka dan ada yang sekedar menikmati indahnya Kashmir, seperti aku. Terbentang didepan kami lukisan Sang Pencipta berupa pegunungan yang berbaris-baris dengan danau yang dilengkapi dengan fountain buatan yang sesekali menyemburkan airnya, dan danau itu masih Dal Lake yang aku ceritakan diawal. Tak terfikir berapa panjang danau tersebut mengingat perjalanan dari houseboat menuju Hazratbal cukup jauh.

Sejenak aku menikmati pemandangan disekeliling Hazratbal Mosque. Disana terlihat rumah-rumah penduduk yang tak terawat. Jendela menggantung, seng yang berseliweran, cat tembok yang sudah karatan dan masih banyak lagi gambaran rumah yang sengaja ditinggal penghuninya. Tahukah teman rumah siapa itu? Menurut cerita dari temanku, itu adalah rumah penduduk yang beragama Hindu yang sengaja ditinggalkan ketika terjadinya perang antar agama Islam dan Hindu. Sungguh memilukan, lagi-lagi hal itu terjadi ketika Islam masuk ke India dan disebarkan dengan cara-cara yang keji.

Cukup memilukan memang mendengar cerita tersebut. Perang agama tersebut memang tak bisa dielakkan. Pada akhirnya banyak penduduk yang beragama Hindu memilih meninggalkan Kashmir dan semua harta benda yang mereka miliki menuju tempat yang lebih aman, sebagian besar kemudian pindah ke Delhi.   

Ingin rasanya aku berlama-lama disini, tapi itu tak bisa kulakukan karena masih ada tempat lain yang ingin aku lihat. Aku berjalan menuju bus stand dan menumpang kendaraan sejenis colt yang sudah amat sangat tua dan lapuk. Tapi jangan salah kawan, abang kondekturnya ganteng bukan kepalang. Serius, dia unyu-unyu mirip coverboy majalah remaja atau iklan pembersih muka khusus pria. Kashmir ternyata tak hanya dianugerahi wanita-wanita cantik tapi juga cowok keren seperti abang kondektur ini.   

Colt lapuk berwarna pink akhirnya membawa aku menuju tempat selanjutnya, yaitu “Mughal Garden”. Sebelum memasuki area Mughal Garden kusempatkan mengisi perut dengan makan sepiring nasi rajma dan segelas sweet lassi plus vanilla ice cream yang membuat perutku hampir penuh. Ternyata ada dua Mughal Garden, yaitu Mughal Garden Shalimar dan Mughal Garden Nishat. Dengan membayar RS 10, akupun memasuki taman yang sudah ramai dikunjungi.

Jika kuperhatikan, arsitektur bangunan peninggalan dinasti Mughal memiliki ciri khas dan kesamaan. Dari Pinjore Garden hingga Taj Mahal ciri khas nya sama yaitu, taman selalu berundak-undak dan didepannya terdapat air mancur yang memanjang untuk sampai di bangunan utama. Yang istimewa dari Mughal Garden adalah air yang mengalir deras yang mengisi kolam-kolam dan menyembur melalui air mancur adalah air pegunungan dari barisan gunung yang menjadi background Kashmir. Konon kabarnya Mughal Garden mengadaptasi konsep taman firdaus atau heaven atau jannah, sehingga bisa ditemui tujuh tangga dan tujuh kolam air mancur. Dalam ya, arti dari taman ini.

Mughal Garden selalu dipenuhi pengunjung, terlebih lagi sekarang summer sehingga jam buka lebih lama. Summer yang cerah ceria terhias disetiap wajah pengunjung yang datang. Berduyun-duyun mereka datang mulai dari sekumpulan muda-mudi, orang tua bahkan anak sekolah. Rombongan anak sekolah dengan jilbab putih dikepala mereka, membuat aku merasa seperti di negeri sendiri. Mereka bercengkrama, bermain games, tertawa dibawah sang surya yang masih betah bersinar.

 

 

  • view 23