Incredible 69

Incredible 69

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 25 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible 69

Incredible69

Meet Muslim Family in Srinagar

Aku tak henti-hentinya mengagumi Kashmir. Di pagi hari burung-burung berterbangan dengan gembira seperti menyambut sang surya. Sampan-sampan kecil maupun shikara saling berlalu-lalang. Sampan bagi penduduk yang tinggal di Dal Lake adalah mobil yang menjadi sarana transportasi. Mereka ke pasar, berangkat sekolah, berjualan dan melakukan aktivitas lainnya diatas sampan. Bahkan aku melihat seorang ibu mencuci baju juga diatas sampan. Tak hanya penduduk yang berlalu lalang, sampan juga membawa Flowerman, Vegetablesman hingga Fruitman menjajakan barang dagangan mereka. Tak hanya para pedagang tadi, ada yang lebih “berat” dagangannya ternyata, mereka adalah para penjual shawl,baju, hingga fotografi diatas shikara. Sungguh pemandangan lain dari yang lain. Transaksi dilakukan diatas sampan persis seperti gambaran iklan salah satu tivi swasta di Indonesia.

Suatu sore ketika aku membaca buku ditepi houseboat, tanpa sengaja sebuah sampan berlalu didepanku dengan seorang pemuda dan dua anak kecil didalamnya. Sang pemuda tanggung tersenyum dan menyapa ramah. Entah mengapa aku tanpa ragu bertanya apakah aku boleh ikut naik sampan. Suatu hal yang tak pernah aku lakukan ditempat manapun selama aku tinggal di India, tapi di Kashmir, aku seperti ingin menjadi bagian dari mereka. Dan ternyata dia tak keberatan.

Pemuda itu kuketahui bernama Javeed, tinggal tak jauh dari houseboat milik Ayub dan dia akan pulang kerumahnya. Dua anak laki-laki yang tadi sempat menangis adalah adik Javeed. Dengan bahasa Inggris yang sedikit terbata-bata, sesampainya di rumah dia memperkenalkan aku kepada adik laki-lakinya (yang sepertinya hanya beda beberapa tahun dari dia), ibunya, bibinya, pamannya hingga tetangga dan orang-orang yang lewat didepan rumahnya. Hal itu tak pelak menjadikan aku seperti tontonan dari tatapan orang-orang itu. Bedanya mereka tidak “staring” seperti yang aku temui di Punjab, tapi melemparkan senyum sambil berbisik-bisik.

Adik Javeed yang bisa berbahasa Inggris lebih baik menerjemahkan apa sebenarnya yang sedang mereka perbincangkan, sementara ibunya sibuk menghidangkan aku segelas teh dan beberapa potong Kashmiri bread.

“They ask, are you a muslim?”.

Oh ternyata mereka menanyakan itu toh, aku menganggukan kepala dan berkata ya, seketika mereka riuh rendah dan kembali berbicara. Sekarang kulihat mereka menyungging senyum yang merekah dibibir mereka masing-masing.

“They are happy knowing that you are a muslim”,

adik Javeed kembali menerjemahkan apa yang mereka bicarakan. Akupun hanya tersenyum kembali kearah mereka.

Meskipun mereka tak bisa berbahasa Inggris tapi mereka adalah pribadi-pribadi yang bersahaja. Mereka menawarkan untuk mampir dan melihat-lihat rumah mereka yang terletak saling berdekatan satu dengan lainnya. Sore itu aku lewati dengan secangkir Kashmiri tea, dua potong Kashmiri bread dan tentunya keramahan keluarga muslim. Sensasi lain aku rasakan ketika meneguk Kashmiri tea. Jika lidahku sudah terbiasa dengan manisnya chai, kali ini indra pengecapku ssedikit dibuat terkejut dengan teh asin.

Rasa ini tak lain ternyata dihasilkan dari pencampuran antara teh dan butter. Yang lebih unik lagi warna teh yang biasanya coklat atau hijau, aku temukan berwarna kemerah-merahan, mirip bunga rosella.

“Strike” in Srinagar     

                Rencana hari kedua di Kashmir adalah kami ingin sightseeing dan booking ticket untuk melanjutkan perjalanan kami ke Leh. Ayah Ayub mewanti-wanti aku agar berhati-hati karena kabarnya di Srinagar sedang terjadi “strike” sehubungan dengan kedatangan sang perdana menteri, Manmohan Singh dan politikus Sonia Gandhi ke Kashmir. Tapi kami tak bisa menunggu karena lusa aku sudah harus meninggalkan Kashmir menuju Ladhak-Leh.

Sesampainya di Srinagar, ternyata memang benar apa yang dikatakan ayah Ayub. Seketika hawa berbeda mulai terasa. Ketika pertama kali aku datang di Srinagar, ibu kota ini ramai sekali, selayaknya sebuah ibukota, tapi hari ini? Hampir semua toko tutup, bahkan tak kulihat satupun yang membuka gerainya. Hanya segelintir orang yang kulihat berlalu lalang di jalan raya. Mengapa Srinagar berubah menjadi kota sepi? Yang mencolok dari Srinagar hari ini adalah para polisi dan tentara yang mendominasi pemandangan jalan raya. Beberapa ruas jalan bahkan ada yang ditutup, sebagai penggantinya terparkirlah mobil-mobil besar khas mobil tentara dan mobil pemadam kebakaran. Hari ini Kashmir yang cantik seperti menunduk bahkan memalingkan mukanya tak ingin melihat wajah sang Prime Minister berturban tersebut.

Kedatangan sang Perdana Mentri membuat Kashmir bermuram durja. Sehari sebelumnya Ayah Ayub menjawab pertanyaanku mengapa rakyat Srinagar seperti tak suka akan kedatangan sang Perdana Mentri. Sebagai ibukota Jammu and Kashmir, Srinagar adalah sebuah “city” bukan lagi “village”. Penduduk kota yang sudah cerdas dan berpendidikan tahu betul apa yang telah dan masih diperbuat pemerintah kota kepada penduduknya. Mereka tak suka tabiat para politikus yang bisanya hanya membagi-bagi kan uang Rs 300-500/hari dengan harapan mereka tetap “loyal” kepada rezim yang ada tanpa “do something” untuk kemajuan Kashmir.

Lebih lanjut, ayah Ayub berkata bahwa sesungguhnya Kashmiri people adalah orang-orang yang independent, mereka berjuang memenuhi kebutuhan hidup mereka tanpa campur tangan bantuan pemerintah pusat. Penduduk Kashmir juga terkenal sebagai entrepeuneur tulen mulai dari berbisnis houseboat, embroidery, karpet, shawl, pashmina. Pemerintah tak terlalu banyak menyediakan lapangan kerja dan hanya sedikit kantor-kantor pemerintahan di Kashmir sehingga sedikit pula kesempatan bekerja disektor formal di Kashmir.

Yang lebih menyedihkan, ayah Ayub bercerita ada beberapa pejabat pemerintah/politikus yang sengaja menggunakan penduduk Kashmir yang masih lugu (terutama pemuda yang tinggal dipedesaan) untuk berdemo dan menuntut bergabung dengan Pakistan. Setiap hari mereka berdemo tanpa tahu apa yang mereka perjuangkan, yang mereka perlukan hanyalah lembaran rupee untuk bertahan hidup. Kashmir seperti terjepit diantara kepentingan para elit politik antara Pakistan dan Hindustan.  

Kashmir yang menyambutku dengan suka cita hari ini sedang bermuram durja. Seperti seorang gadis yang sedang diselingkuhi sang kekasih yang amat dia cintai.  

  • view 26