Incredible68

Incredible68

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 25 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible68

Incredible68

Heaven on Earth…

Jammu and Kashmir

Sejujurnya Kashmir tak ada dalam list travellingku, seperti halnya Rishikesh, tapi entah mengapa aku begitu dibuat penasaran ingin mengunjungi dia. Sebagai sebuah state yang berbatasan langsung dengan Pakistan, tak hanya satu orang yang bilang bahwa Kashmir bukanlah tempat yang aman untuk dikunjungi. Kabarnya penjagaan disana lebih ketat ketimbang tempat-tempat pariwisata lainnya di India dan di sisi lain biaya travelling ke Kashmir juga tidak sedikit dan aku sadar betul tentang itu. Aku sempat memupus harapan untuk pergi kesana ketika “tragedi” memilukan itu terjadi, aku seperti kehilangan mimpiku dan Kashmir semakin jauh dari jangkauanku. Tapi Tuhan selalu memberikan jalan lain, applikasi ku untuk menjadi volunteer teacher di Ladakh, salah satu tempat di Kashmir terkabul dan yang lebih membahagiakan mereka mensponsori perjalananku kesana karena pada saat yang bersamaan ke Kashmir, team volunteer dari Delhi akan pergi juga. Maka kami bertemu di perjalanan. 

Menempuh perjalanan dengan sleeper bus Chandigarh-Jammu  kemudian dilanjutkan dengan share taxi Jammu-Srinagar, maka sekarang disinilah aku berada, Srinagar-ibukota Jammu and Kashmir. Si cantik Kashmir telah membuat mataku terlena dan aku ingin selalu menatapnya. Dia selaksa gadis cantik yang sedang bersolek, tersenyum manis dan memamerkannya kepada setiap orang yang datang. Tak hanya itu, penduduk Kashmir yang rata-rata adalah muslim membuat aku merasa seperti di Indonesia.

Wanita-wanita berhijab berseliweran di jalan, di bis, di toko-toko, disemua tempat. Dalam pandanganku mereka berbeda dengan wanita-wanita yang aku temui di Punjab. Disana mereka rata-rata berkulit coklat (bahkan cenderung gelap), maka wanita Kashmiri berkulit terang dan bersih, tak hanya itu mereka juga berhidung bangir dengan pipi yang kemerah-merahan seperti tomat. Sekilas tulang pipi mereka seperti selalu tersapu blush on, padahal tidak kawan. Subhanallah, sungguh kecantikan alami dari Sang Maha Kuasa. Kerudung mereka pun sederhana, rata-rata mereka mengenakan pashmina yang dililit-lilit dan disemati dengan satu peniti saja, tanpa aksesoris apapun. Bandingkan dengan para pengguna hijab di Indonesia yang begitu “trendy”, “in” dan “fashionable”, mereka begitu bersahaja.

Yang pertama kali kulihat ketika menginjak Kasmir adalah hamparan Dal Lake yang luas. Danau dengan background barisan pegunungan semakin mengukuhkan Kashmir sebagai surga-nya India. Pesona Dal Lake semakin dipercantik dengan shikara yang banyak berlabuh disana. Shikara adalah sejenis sampan/perahu yang bentuknya lebih besar dan didekorasi dengan cantik sehingga penumpang akan merasa lebih nyaman ketika duduk didalamnya. Daya tarik lain dari Dal Lake adalah houseboat yang tak hanya berfungsi sebagai “hotel” bagi para wisatawan tapi juga merupakan mata pencaharian bagi sebagian besar warga Kashmir. Houseboat bagi penduduk Kashmir tak hanya berfungsi sebagai tempat penginapan tapi juga sekaligus tempat tinggal.

Ayub, salah satu pemilik houseboat menyambut aku dan team volunteer Delhi dengan ramah ketika kami tiba di Dal Lake. Dia adalah generasi kedua pemilik houseboat setelah ayahnya mewariskan houseboat tersebut kepadanya. Dia sendiri tinggal persis dibelakang houseboat yang dia sewakan kepada para wisatawan, sehingga jika ada apa-apa tamu yang menginap tinggal keluar kamar dan mengetuk rumahnya. Hubungan customer dan owner seperti hubungan kekeluargaan di Kashmir. Rumah Ayub selalu terbuka untuk siapa saja yang datang.

Suatu pagi ketika aku keluar untuk menghirup udara segar, ayah Ayub dengan ramah menerima aku di ruang tamu dan mengobrol. Mengenakan kurta putih dan berjanggut panjang, ayah Ayub terlihat masih gagah walaupun sudah menjelang senja. Ayah Ayub tak hanya interest untuk ngobrol mengenai Islam, tapi juga mengenai India,Pakistan dan Indonesia. Aku tak bisa menyalahkan jika setiap orang yang aku temui di India selalu menyangka aku dari negara tetangga, seperti halnya ayah Ayub. Hal ini dikarenakan karena keluarganya selain berbisnis houseboat juga membuka gerai tas di Goa (South India) dan mengekspornya kebeberapa negara di Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia.

Ayah Ayub menerima kedatanganku seperti dia menerima tamu penting. Ini bisa aku lihat dengan jelas dari tata caranya berbicara, pelan dan penuh dengan sopan santun. Dia pun membuka percakapan kami dengan sedikit pengetahuannya tentang Indonesia, tentang ceritanya berhaji dan menunjukkan buku-buku yang tertulis dalam bahasa Urdu kepadaku. Seketika aku seperti melihat seorang guru ngaji dihadapanku. Ayub menyuguhkan teh dan Kashmiri bread sebagai jamuan. Ibarat sang pembantu rumah tangga dia mengundurkan diri kebelakang dan membiarkan aku kembali berbincang dengan ayahnya. Aku merasa seperti menjadi tamu agung di Kashmir.  

  • view 15