Incredible67

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 25 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible67

Incredible67

Kisah sedih dihari Minggu…

@ our (class) room, in the morning till noon

 

Tepat jam dua belas siang hari, tanggal 23 Juni aku resmi “melarikan” diri dari “suck” Ropar!!! Aku tak bisa menunggu, aku ingin cepat pergi! Untuk menuju satu tempat yang sepertinya sudah memenuhi relung jiwa dan menguasai fikiranku untuk secepatnya pergi kesana. Ya, dialah Kashmir… tempat yang digadang-gadang sebagai “Paradise of India” atau jargon yang lebih terkenal dari itu, yang semakin mengukuhkan aku untuk segera mengunjunginya, dialah “Heaven on Earth”, aku tak sabar menemuinya.

Malam ini, dalam sleeper bus Chandigarh-Jammu, aku memalingkan pandanganku keluar sana. Tak ada yang terlihat jelas, dari balik kaca bis yang terus merangsak meninggalkan Chandigarh, yang terlihat hanyalah gelap gulita malam, barisan pohon yang seperti berlari, riak-riak percakapan dibalik bilik “kamar” lainnya, sementara aku melamun, membayangkan kejadian tadi pagi hingga siang, ketika aku meninggalkan suck Ropar!

Dari pagi buta aku sudah bersiap untuk meninggalkan Ropar dengan menunggu taksi yang dijanjikan oleh bapak berturban besar pemilik sekolah. Meskipun taksi yang dijanjikan akan datang jam sembilan, tapi semua barangku sudah rapi sejak dari subuh bahkan kemarin malam. Amal, Nicky dan aku sudah berkumpul dikamar dengan morning talk kami. Nicky masih lemas, dia tertidur diatas ranjang sambil memegangi perutnya. Sedangkan Amal sudah terlihat agak segar meskipun masih bolak-balik ke toilet. Ya mereka berdua keracunan sepertinya, hanya aku yang “selamat.”

Beberapa hari yang lalu mereka berdua entah kenapa begitu lahap makan nasi kuning yang dihidangkan oleh aunty, bahkan sampai nambah sedangkan aku seperti biasa dengan “porsi”-ku. Setelah itu kami mampir di mini market, mereka berdua membeli kopi yang dikemas dalam kaleng dan aku memilih sweet lassi. Cuaca panas menambah nikmat kami bertiga dengan meneguknya dalam keadaan dingin. Tapi setelah itu terjadilah “tragedy”. Mereka semalaman bolak-balik ke kamar mandi, hampir habis tenaga mereka. Mereka menuduh bahwa kopi instant itu adalah penyebabnya karena hanya mereka berdua yang sakit perut, sedangkan aku tidak. Tak bisa dibiarkan, akhirnya merekapun diantar ke rumah sakit dan pulang dengan wajah pusat pasi. Mereka pulang membawa sekantong kresek obat cair dan beberapa butir pil. Kasihan sekali dua roomies-ku ini… 

Dari cerita mereka berdua aku tahu bahwa konon kabarnya, seharusnya mereka berdua dirawat di rumah sakit. Hebatnya lagi mereka berdua menolak hal itu dan kompak dengan tegas menolak disuntik! Hal ini kurasa beralasan mengapa mereka berdua menolak hal itu.

Bayangkan saja rumah sakit yang biasanya “bau rumah sakit” dan lantai putih mengkilat benar-benar tak ada dalam penglihatan kita. Dulu waktu aku, Ha dan Salma menengok Rajoo dirumah sakit ketika dia melahirkan William, sempat bergidik begitu memasuki halaman rumah sakit. Rumah sakit memang rumah untuk orang sakit, tapi ga kayak gini juga kaleyyy. Rumah sakit ini lebih tepat kukatakan rumah yang bisa disewa untuk syuting film horror. Penerangannya amat sangat kurang, bahkan cenderung gelap. Dimanapun selalu kutemui kalau lantai rumah sakit rata-rata adalah putih, tapi lantai yang sekarang kami pijak sudah kopek-kopek dan tak jelas apa warnanya. Tak terlihat bidan atau suster jaga, pasien dibiarkan begitu saja. Aku benar-benar tak tahan melihat wajah para pasien yang merana. Benar-benar seperti berada dalam adegan film-film horror khas Indonesia yang berlatar belakang rumah sakit tempo dulu yang sudah tak terawat. Seketika dengan cepat ingatanku melayang pada banner film Suster Ngesot atau Bangsal 13.

Waktu itu masih aku ingat aunty menawari kami minum, dengan gerakan cepat kami menggelengkan kepala. Bagaimana kami tega menempelkan bibir kami ke gelas-gelas yang entah bekas siapa. Rasanya tak lebih dari tiga puluh menit kami melihat si bayi merah William dan bergegas pulang dengan alasan waktu sudah mendekati malam. Begitu keluar dari pintu EXIT yang kami lihat adalah tumpukan sampah dan sapi-sapi yang dengan santai membaringkan tubuh mereka yang gemuk. Kami menarik nafas panjang, berfikir bagaimana para pasien bisa cepat sembuh?

Maka jika kini Nicole dan Amal dengan tegas menolak bermalam dan disuntik, sungguh itu adalah hal yang masuk akal dan amat sangat lebih dari tepat.

“Bagaimana kami tidak menolak, jarum suntiknya saja bekas dipakai orang. Amat sangat tidak steril. Lagipula kami tak yakin dengan orang yang memegang suntikan. Dia tak tampak seperti seorang dokter atau suster atau tenaga medis.”      

“I will never ever have an injection in India!”

Mereka berdua saling sahut menyahut, sambil membicarakan “standard kesehatan”, rumah sakit, dokter dan suster dinegara masing-masing. Iseng-iseng Nicole browsing mengenai semua obat yang diberikan melalui internet. Dia penasaran apa penyebab sampai mereka benar-benar dibuat tak berdaya dan bolak-balik ke kamar mandi setiap sepersekian detik. Dan tahukah teman apa hasil “investigasi” kecil-kecilan Nicole? Ternyata semua obat yang diberikan adalah obat yang berkaitan untuk membunuh bakteri yang ada dalam makanan!

Sementara aku semakin gelisah, waktu sudah tiga puluh menit berlari dari jam sembilan, tapi tak ada tanda-tanda ada taksi yang parkir didepan sekolah kami.

“Irma, you have already known Indian time, just calm down. Kashmir is still there”  

“I’m going to check outside”, kataku sambil beranjak keluar.

Aku celingak-celinguk melihat sekeliling, masih sepi, tak terlihat ada taksi yang terparkir. Aku masuk kembali kedalam. Kembali meneruskan percakapan kami, walaupun hati semakin gelisah.

Satu jam berlalu…

Aku memutuskan untuk menelepon bapak berturban itu. Tidak ada yang menjawab. Ku coba lagi, sekarang malah terdengar mesin penjawab yang bernyanyi. Kedua roomies ku mencoba berempati dengan menghentikan obrolan mereka, melihat aku yang terus menerus mendekatkan handphone mungil di telingaku.

“How is it?”

“I guess they didn’t arrange the cab for me”, aku menggantungkan kalimatku.

Aku berdiri dan melihat barang-barangku. Tak mungkin aku membawanya menggunakan autorickshaw ke bus stand kemudian ke Chandigarh. Aku amat sangat yakin, tak mungkin taksi terlambat sampai beberapa jam.

Setelah dua jam, aku semakin yakin bahwa tak ada taksi yang akan menjemputku. Aku naik ke rooftop, mencoba menghubungi Uncle siapa tahu dia bisa mengantarku sampai ke bus stand atau Chandigarh. Uncle terlihat bingung, aku tahu dia tak bisa berbahasa Inggris, kami hanya memakai bahasa isyarat.

Aku mencari jalan tengah dengan menelepon sang Principle. Aku menjelaskan keadaanku dan meminta tolong, tapi tahukah kawan apa jawaban dia? Tak pernah kuduga itu akan keluar dari mulutnya. Dari balik pesawat telepon, aku bisa mendengar dengan jelas bahwa dia tak bisa mengizinkan Uncle mengantarkan aku dan dengan jelas pula dia tanpa ada sopan santun, maaf, berkata bahwa aku harus mengurus sendiri bagaimana agar aku keluar dari Ropar. Aku sedih bukan kepalang. Principle yang berwajah kalem tiba-tiba berubah menjadi nenek sihir yang jahat. Mereka sudah mengambil uangku, tidak do something untuk menolongku, kini aku akan meninggalkan tempat mereka selama-lamanya, mereka bahkan tak beritikad baik untuk sekedar mengantarkan aku! Sedih, marah dan kecewa semuanya beradu dalam dadaku. Aku berlari dan masuk kembali ke kamarku sambil menangis sejadi-jadinya.

Amal dan Nicole panik melihat aku. Aku tak berhenti mengeluarkan airmata.

“What happened?, what they say? Pinky, take a deep breath”

Aku masih saja sesegukan. Kuambil botol minumanku dan meneguknya sambil menghela nafas dalam-dalam. Amal bahkan memelukku. Nicole yang baru keluar kamar mandi masih memegangi perutnya menunjukkan ekspresi iba. Dia duduk disampingku. Kami duduk bertiga diatas ranjangku.

“Don’t cry, they don’t deserve to have your tears”

“They’re so, so rude!”

Silih berganti mereka menenangkan aku. Aku menyeka air mataku. Aku berdiri.

“I’m going to find out how to get car to Chandigarh. It is impossible for me to go to Chandigarh with this luggage and all my stuff”

“Are you sure you can arrange by yourself? Should I come with you?”,  Amal menawarkan bantuan.

“I’ll try. I’ll go to the place where I saw many cars there. Do you want something to buy?”

“Is it okay for you?”

Aku mengangguk. Sudah siang aunty belum memberi kami breakfast. Aku kasihan kepada dua orang teman yang sedang sakit dan tak diberi makan. Nicole berkali-kali bertanya, apakah aku benar-benar tak keberatan mencarikan mereka makanan diluar. Aku tak bisa berbuat banyak membantu mereka, ini adalah kali terakhir aku bersama mereka, setelah itu kami tak akan bertemu lagi.

Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya aku menemukan juga orang yang bisa mengantar aku ke Chandigarh. Bukan taksi, tak apalah fikirku! Yang penting aku sampai Chandigarh. Mobil sedan jadul yang sudah tak menarik dipandang mata. Aku tak perduli! Setelah tawar menawar disetujui, kami meluncur ke sekolah.

Dua orang roommate ku tergolek lemas di ranjang masing-masing. Aku membelikan mereka roti dan selai serta beberapa biskuit.

“Okay girls, I have to go”, aku mengambil backpack dan mengeluarkan semua barang-barangku keluar kamar. 

“Did you get the cab?”, Nicole mendongakkan kepalanya.

“Yup, he’s waiting for me outside”

Mereka berdua duduk di ranjang masing-masing. Aku memandangi mereka berdua. Dua orang yang sudah melewati hari-harinya bersamaku hingga hari terakhirku di Ropar. Aku memeluk mereka cukup lama dan menyerahkan dua amplop kartu berwarna hijau yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari. Mereka berdua kelihatan terkejut, mungkin aku terlalu cepat memberikan mereka kartu perpisahan. Dulu Ha,Sharmi dan cowok-cowok Afghani memberikan sebuah kartu ketika mereka meninggalkan India, kini giliranku memberikan untuk dua orang roomies-ku.

“I don’t know whether we’ll meet again or not. You’ll be going to Goa and start a new project in Patiala. Hope both of you will get better soon”  

“Keep contact Pinky. Tell us about Kashmir when you’ve been there, upload the pictures as much as you can”

Seketika kami menjadi melodrama. Mereka berdua yang masih lemah dan pucat bangkit dari ranjang dan berusaha membantuku membawa barang-barang. Sang sopir membantuku membawa barang-barang. Kami berdiri di balkon. Aku menatap mereka berdua. Kusampaikan permintaan maafku karena meninggalkan mereka dalam keadaan yang tidak sehat. Kami berpelukan lagi, lama sekali.

Aku terus berjalan keluar, meninggalkan mereka berdua. Tak kuhiraukan pandangan Uncle dan keluarganya. Aku terus berjalan menuju mobil jadul hingga langkahku terhenti ketika Amal dan Nicole berteriak memanggilku.

“Pinkyyyyyyy, show your finger…”

Aku membalikkan badanku. Tanpa fikir panjang kuacungkan jari tengahku. Mereka berdua bersorak sorai.

“One more for school…”

Seumur hidup aku selalu berusaha menahan diri agar tak melakukan hal-hal yang tidak sopan, tapi kali ini, amarah dan kekecewaanku sudah tak terkontrol. Nicole dan Amal terlihat puas dengan “gesture” sempurnaku.

Aku melambaikan tangan dari meninggalkan Ropar!

  • view 31