Incredible61

Incredible61

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 22 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.6 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible61

Incredible61

Hesitating June…

Chaotic Summer Camp 

                Udara semakin memanas, matahari semakin tinggi dan gagah menyinari permukaan Hindustan, cooler merajai pasaran, pedagang sugar cane juice berjejeran dimana-mana, inilah summer di India… Sepulang dari Rishikesh wajah kami kembali menekuk. Amal semakin sering kudengar menyumpahi orang, Nicole semakin freakin out dan aku sudah kehabisan ekspresi atau mungkin aku tak bisa berekspresi lagi? Senyum sepertinya sudah menjadi barang mahal, padahal baru kemarin aku bermeditasi dengan wajah happy di Rishikesh, tapi tidak hari, hari pertama summer camp tiba.

Nicole complaining rightaway ketika dikelas ballet nya tak ada bar ataupun musik, mana mungkin menari tanpa di iringi musik? Begitu complain nya kepada Sang Principal. Sementara Amal tak menemukan ruangan kelas untuk belly dance-nya. Sementara aku “di todong” untuk mengajar Spoken English class selain stage drama yang aku ajukan. Akupun terkejut mendapati murid-murid yang bervariasi, bayangkan tingkat peminat untuk kelas Spoken English hampir sama jumlahnya dengan kelas Punjabi dance dan mereka adalah anak-anak ingusan bercampur dengan mahasiswa tahun kedua, benar-benar gila. Mereka menerima semua orang yang mendaftar tanpa mengklasifikasikan dan mengatur kelompok belajar berdasarkan kelas atau tingkat pendidikan, dasar money minded!!! Kami bertiga memperhatikan sang cashier yang sibuk menghitung lembaran rupee dengan besaran lima ratus dan seribu rupee. Jumlah uang yang berada ditangannya pasti lebih dari cukup untuk membayar allowance kami yang sering terlambat setiap bulannya.

Belajar dari Nicole aku mengajukan masalah kelas Spoken English ku kepada Sang Principal, aku tak ingin sekolah ini menerima uang tanpa memperhatikan output untuk orang yang membayar. Aku ingin sekolah juga bertanggung jawab menyediakan guru jika mereka menerima orang yang mendaftar. Dengan memperhatikan aku dan fakta-fakta yang aku kemukakan, Sang Principal menarik nafas panjang diapun berkata, “I’ll take them”, sebagai pertanda dia akan mengajar dua anak perempuan yang sudah dewasa dan aku mengajar anak dengan range kelas dua hingga kelas lima.

Jika aku menerima “todongan” Sang Principle untuk mengajar Spoken English class itu bukan karena aku “lemah iman”, tapi lebih semata karena melihat wajah-wajah lugu itu yang datang jauh-jauh untuk belajar disini, terutama tiga bocah kakak beradik itu. Kulit mereka jauh lebih gelap dari orang-orang India pada umumnya. Berbeda dengan anak-anak Panjab pada umumnya yang berkulit terang dan berhidung bangir, tapi nakalnya ga ketulungan, mereka jauh lebih pendiam dan kurang percaya diri, bahkan satu anak perempuan di hari pertama menangis entah karena apa. Dari hasil “penyelidikan” ku ternyata mereka berasal dari Tamil Nadu, South Indian. Mereka boleh berkulit gelap, tapi gentle nya bukan main, tidak seperti anak Panjab yang brangasan, jika mereka terlambat mereka berdiri didepan pintu kelas dan berkata,

“Sorry Mam, we come late”,

sambil menunduk dan tak masuk kelas jika aku tidak melihatnya. They are so genuine... Menatap mata mereka, aku seperti ingin memberikan semua ilmu dan pengetahuan yang aku punya, semuanya…

  • view 18