Ali dan Gandhi

Ali dan Gandhi

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Mei 2018
Ali dan Gandhi

Ali dan Gandhi

Saya senang membaca kata-kata mutiara. Bagi saya kata mutiara ibarat mantra yang bisa menyembuhkan luka, utamanya lara yang tak bisa diungkapkan dengan kata (puitis amat sih Mba :p)

Beberapa minggu yang lalu saya mendapati dua kata-kata mutiara namun berasal dari sumber yang berbeda. Anehnya, dua sumber tersebut mengarah pada esensi yang sama, yaitu ketakutan. Iya, ketakutan adalah kata yang menyeramkan (bagi saya) karena terus terang saya sendiri mengaku bahwa saya adalah seorang penakut, lebih halus sebenarnya dari kata yang jauh lebih ironis, yaitu coward. Yes, I'm a coward sometimes!

Tapi, membaca kata-kata indah dari Ali dan Gandhi setidaknya memberikan saya sedikit keberanian. Tidak banyak, sedikit bagi saya sudah cukup untuk menambal gorong-gorong ketakutan saya.

Mari kita simak kedua sumber mutiara ini.

“Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tetapi ketakutan yang membuat kita sulit, karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah, dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Jangan katakan kepada Allah aku punya masalah besar, tetapi katakanlah kepada masalah bahwa aku mempunyai Allah yang Maha Besar”  -Ali bin Abi Thalib r.a

“The enemy is fear. We think it is hate, but it is fear”  -Mahatma Gandhi

Bagaimana? Dahsyat bukan? Untuk kamu sang pemberani, mungkin ini tidak berarti. Tapi bagi saya pribadi, ini sungguh laksana surgawi.

Membaca kedua sumber untaian kata nan indah itu membawa saya kepada dua nama besar sepanjang jaman. Keduanya membuat rasa kagum saya semakin bertambah kepada kedua lelaki hebat ini. Siapa tak kenal dua nama besar ini. Dua-dua nya begitu termashur akan kejayaan di masa yang berbeda, pun tanah yang jauh bermil-mil jaraknya.

Sosok Ali sejatinya saya kenal pertama kali dari teman daya sendiri. Dia yang mengaku diri seorang Syiah adalah pengagum Ali sejati. Raut mukanya selalu berubah riang gembira jika dia mengatakan semua hal tentang Ali. Persis seperti seorang gadis yang pertama kali jatuh cinta, yang walaupun hanya mengucapkan nama sang pujaan hati, maka dadanya dipenuhi dengan bunga-bunga di taman asmara. Bahagia sekali <3. Indra Gunawan, Lc dalam bukunya “The Downfall of the Dynasty” menyebutkan bahwa seorang Syiah diukur derajatnya berdasarkan rasa cintanya terhadap Imam Ali dan keturunannya. Ungkapan ini persis seperti gambaran teman saya.

Bagi pemeluk agama Syiah, Ali adalah tokoh sentral, prominent figure yang tak boleh di ganggu gugat kedudukannya setelah Baginda Rasul, Muhammad SAW. Dalam satu kesempatan saya bertanya, apakah ada perbedaan yang mencolok antara Sunni dan Syiah? Dia dengan tegas menjawab, tentu ada. Imamah adalah salah satu hal yang crucial dalam agama Syiah. Ummat Syiah berpendapat bahwa Ali adalah orang yang berhak memegang tampuk kepemimpinan sepeninggal Nabi Muhammad, karena Ali adalah satu-satu nya "direct descendent" dari keluarga Nabi. Ali juga dikenal sebagai orang yang memiliki ilmu mumpuni dan terkenal sebagai pemuda yang cerdas cendekia. Umat Syiah percaya bahwa Ali ditunjuk langsung oleh Nabi Muhammad sebagai penerus tongkat kepemimpinan umat Islam setelah garis maut menjemput Rasulullah. Tasaro GK dalam bukunya berjudul "Muhammad  Para Pengeja Hujan", menggambarkan proses pergolakan pergantian kepemimpinan Khalifah ini sebagai proses yang sulit karena pada saat itu ummat Islam berasal dari dua golongan yang berbeda yaitu kaum Muhajirin dan kaum Anshar.

Buku Indra Gunawan,Lc mengupas secara lengkap tentang runtuhnya kekhalifahan Islam, termasuk didalamnya konflik antara Sunni dan Syiah. Bagi saya pribadi, membaca runtutan silsilah Syiah sedikit membuat kening berkerut. Begitu ruwet, njelimet a.k.a complicated. Belum lagi jika dikaitkan dengan pertikaian dengan Ahlussunah yang pada akhirnya malah membawa kepada jatuhnya keruntuhan dan kemunduran peradaban Islam. Dibutuhkan sumber-sumber literature yang sempurna untuk membahas masalah ini, terlebih ini masalah sejarah, jadi saya tak akan membahasnya disini ya (masih cetek pengetahuannya :p)      

Terlepas dari sejarah kepemimpinan Ali dan kedudukannya dalam agama Syiah, bagi saya pribadi, hal yang paling menarik tentang Ali adalah romansa cintanya bersama Fathima, yang tak lain adalah putri Rasulullah sendiri.

Meskipun Ali adalah pemuda pemberani dimedan perang, gerbang ilmu dan sepupu Rasulullah, Ali digambarkan sebagai sosok yang pemalu dan tidak percaya diri ketika dia menyadari bahwa dia mencintai Fathima. Hati Ali semakin dibuat tak menentu ketika mengetahui bahwa beberapa lelaki terpilih sudah mengajukan lamaran untuk meminang Fathima. Diantara lelaki pilihan itu adalah Abu Bakar.

Siapa yang tak kenal Abu Bakar, seorang kaya raya, yang dengan kekayaannya bersedia berkorban apa saja demi kemaslahatan ummat. Bahkan dikisahkan Abu Bakar tak meninggalkan sepeserpun kekayaan untuk diri dan keluarganya sendiri. Kekayaan adalah alat untuk menjadi orang terpilih dan terdepan dalam kemajuan Islam pada jamannya. Dalam setiap kesempatan, Abu Bakar mengajukan diri sebagai pengawal pribadi Rasulullah yang untuk memastikan bahwa segala sesuatu aman dan selalu menjaga Baginda Rasul dalam keadaan apapun. Maka kesetiaan Abu Bakar kepada Islam dan Rasulullah sudah tak diragukan lagi.


Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya Ali pun mengetuk rumah sang paman. Tertunduk dan malu-malu ketika Ali mengutarakan maksud hatinya untuk meminang putri sang Nabi. Konon setelah mengajukan lamaran Ali tak bisa tidur. Dia dihinggapi keraguan akan kemungkinan ditolaknya lamaran kepada putri Sang Nabi.Pun Ali masih tidak percaya ketika lamarannya dinyatakan diterima. Sahabat-sahabat Ali lah yang kemudian meyakinkan dia bahwa memang benar Rasulullah menerima dia sebagai menantunya. Sampai pada akhirnya terjadilah pernikahan antara Ali-Fatima.

Saking miskinnya Ali, dikisahkan bahwa dia hanya memiliki iman kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah ketika mengajukan mahar pernikahannya. Kekayaan materinya hanyalah sebilah pedang dan seekor unta. Ali kemudian memberikan baju perang (yang merupakan hadiah dari Rasulullah) sebagai mahar, setelah disarankan oleh Rasulullah.

Kehidupan rumah tangga Ali dan Fathima ternyata tak kalah dramatisnya. Kisah yang paling mengena tentu saja mengenai cerita "Gandum 3 Sha". Dalam kisah ini betapa kita ditunjukkan akan keluhuran budi Ali dan Fathima dalam menghadapi kemiskinan dalam kehidupan pernikahan mereka.

Suatu hari Ali meminta sepangkas bulu domba kepada seorang Yahudi untuk dipintal oleh Fathima dengan imbalan gandum sebanyak tiga sha (1 sha = 3.621.5 gr). Pintalan disepakati akan selesai dalam waktu tiga hari. Fathima pun memintalkan bulu domba tersebut dan memisahkan satu sha setiap harinya untuk dibuatkan roti gandum selama tiga hari. Namun selama tiga hari itu pula, setiap kali Ali dan Fathima hendak makan roti gandum, maka setiap itu pula datang silih berganti mereka yang meminta roti, mulai dari orang miskin, anak kecil hingga tawanan perang. Keadaan yang berlangsung secara terus-menerus membuat puasa pasangan hidup ini semakin panjang. Itulah salah satu tauladan yang ditunjukkan Ali dan istrinya.

Dalam berperang Ali pun terkenal sebagai ksatria berakhlak mulia. Dalam buku “The Downfall of the Dynasty” dikisahkan seorang gembong kafir bernama Amr bin Abdi Wud yang masih sempat-sempatnya mengejek dan meludahi Ali padahal dia sudah tidak berdaya dan diujung kematiannya. Ali pun meninggalkan dia, karena dia takut membunuh musuh bukan karena Allah tapi karena rasa benci.

Mari tinggalkan sejenak kisah kemashuran budi pekerti Ali bin Abi Thalib. Mari berkenalan dengan seorang pria yang hanya dengan melihat tatapan matanya kita tahu bahwa dia adalah seorang genius berhati lembut. Yup dialah Mohandas Karamchand Gandhi atau yang lebih dikenal dengan nama Mahatma Gandhi. Dia adalah lelaki hebat yang akan kita bicarakan.

Jika Ali bin Abi Thalib namanya hanya saya kenal lewat buku (dan teman saya), maka Gandhi lebih dekat dengan saya karena setidaknya saya sudah menginjakkan kaki di tanah Hindustan lima tahun lalu. Gandhi lebih mudah untuk dikenal karena kita masih bisa melihat vide-video nya yang bertebaran di Youtube. Nama nya pun diabadikan menjadi salah satu nama sekolah di Jakarta.

Gandhi adalah salah satu orang yang dikenal sebagai pejuang persamaan hak-hak asasi manusia dan simbol perlawanan tanpa senjata ketika India dijajah Inggris. Jika kawan punya kesempatan menjelajah Hindustan, sempatkanlah bertandang ke Amritsar. Hadirilah upacara pergantian petugas penjaga keamanan perbatasan India-Pakistan. Disana kamu akan melihat foto Gandhi dengan tenang namun gagah terpampang dibata merah sebagai simbol perlawanan dengan perdamaian.

Gandhi muda digambarkan sebagai seorang yang timid. Bahkan Gandhi muda dikabarkan takut tidur dalam keadaan lampu padam.

Meskipun berkeinginan menjadi dokter, ayah Gandhi berharap dia menjadi seseorang yang bekerja di pemerintahan. Maka Gandhi pun diarahkan untuk mengambil kuliah hukum di University of College, London. Tahun 1988, pada usia 18 tahun Gandhi meninggalkan India untuk berkuliah di Inggris. Konon diceritakan sang istri, Kasturba Makanji, kurang setuju akan kepergian Gandhi. Dua sejoli yang menikah atas perjodohan ini menikah pada usia yang sangat muda, Gandhi dikabarkan baru berusia 13 tahun ketika dia menikah.

Sang istri takut jika Gandhi akan terpengaruh budaya dan gaya hidup western. Gandhi pun berjanji bahwa dia akan tetap menjalankan kebiasaannya sebagai pengikut Jainism (meskipun beliau sendiri adalah seorang Hindu). Jainism dikenal ketat dalam urusan fasting, meditating dan vegetarianism. Gandhi pun menepati janjinya untuk tidak makan daging dan bahkan dia menjadi executive komite London Vegetarian Society. Di Inggris, diapun mempelajari semua agama di dunia.

Tahun 1893, Gandhi memulai karirnya di Afrika Selatan sebagai legal service setelah dua tahun sebelumnya dia menyelesaikan pendidikan dan mencari kerja di India sebagai seorang pengacara.

Tak disangka tak dinyana justru di Afrika, Gandhi mendapatkan perlakuan yang mengejutkan. Dibawah naungan pemerintahan Inggris, sebagai imigrant asal India dia mengalami racial segregation. Gandhi diminta untuk melepaskan turbannya dalam suatu courtroom. Gandhi menolak dan memilih untuk meninggalkan courtroom tersebut. Bahkan dia diejek sebagai “unwelcome visitor”.

Dilain kesempatan, Gandhi pernah juga ditolak untuk masuk kereta gerbong first-class (padahal dia memiliki tiket). Gandhi memilih turun daripada harus duduk ditempat yang tidak sesuai dengan kursi yang seharusnya dia duduki hanya karena perkara warna kulit. Tahun 1894 Gandhi akhirnya membentuk Natal Indian Congress untuk melawan dan memperjuangkan hak-hak sipil. Setelah itu masih banyak lagi yang Gandhi lakukan untuk memperjuangkan hak-hak imigrant India di Afrika. 

Salah satu jejak perjuangan non-violent Gandhi saya temukan di Amritsar, Punjab tepatnya di monumen Jallianwala Bagh. Tahun 1919, seorang jenderal Inggris, E.H Dyer melepaskan tembakan dikerumunan warga yang sedang menjalankan peaceful protest menentang kebijakan Rowlatt Act yang dianggap merugikan bangsa India. Gandhi menyerukan pemboikotan atas barang-barang yang berbau Inggris. Dia menanggalkan bahkan membakar baju nya dan menggantinya dengan kain putih yang melilit di badannya, yang dia pintal sendiri. Kain putih yang melilit di badan Gandhi adalah simbol perlawanan Gandhi kepada pemerintah Inggris. Gandhi menjadi simbol kepemimpinan bagi pergerakan kemerdekaan India.

Berbicara masalah kemerdekaan India memang bukan hal yang mudah. Didalamnya tak hanya ada konflik bagaimana sebuah negara memperjuangkan pembebasan diri dari bangsa asing, namun juga berjuang untuk menghadapi konflik internal. Konflik internal ini tak lain adalah masalah keyakinan. Inggris yang menjajah India selama dua abad, waktu itu berpendapat jika warga India berperang antara Hindu, Muslim, Kristen dan Sikh maka mereka tak akan melawan Inggris, namun melawan saudara nya sendiri. Ide kolonialisasi memang sadis dan mengerikan dimana-mana.

Dan disaat itulah ide untuk partisi India dan Pakistan mulai bergulir. Politisi Muslim yang digawangi Muhammad Ali Jinnah menghendaki pemisahan antara India dan Pakistan. Teman baik saya di India berkata bahwa saat-saat itu adalah saat yang sulit karena mereka harus memilih antara India atau Pakistan dibawah rasa ketakutan.

Hingga meletuslah perang Dunia pertama, Inggris menjajikan kemerdekaan kepada India, jika rakyat India membantu mereka. Mereka pun membantu, namun kemerdekaan tak kunjung tiba. Dua dekade kemudian meletus Perang Dunia ke dua, lagi-lagi Inggris menjanjikan kemerdekaannya. Disaat inilah Gandhi dan Jawaharlal Nehru berkata, No! Sementara Muhammad Ali Jinnah menginginkan Inggris untuk mensupport berdirinya negara Muslim.

Ketika Perang Dunia ke dua berakhir, jelaslah bahwa Inggris akan meninggalkan India. Maka terjadilah ketakutan diantara masing-masing pemeluk agama. Pemeluk agama Muslim takut dibawah mayoritas pemerintahan agama Hindu yang demokratis, sementara umat Hindu marah karena warga Muslim menginginkan berdirinya negara Islam. Sehingga pecahlah perang antar agama. Empat ribu warga Hindu dibunuh dalam tragedi “the Great Calcutta Killings”. Hal inilah yang membuat Inggris ketakutan untuk secepatnya pergi meninggalkan India. Jinnah mengambil kesempatan ini untuk membentuk Muslim state. Sementara Nehru enggan menyetujui ide itu. Gandhi pun menolak, namun sayang  dikatakan itu sudah terlambat.

Adalah Cyril Radcliffe seorang British lawyer yang dipercaya untuk membagi wilayah antara India dan Pakistan berdasarkan agama, jalur kereta dan jalur irigasi. Sayangnya Radcliffe tidak membuat border untuk wilayah Kashmir. Maka jangan heran bila kawan berkunjung ke Kashmir, kamu akan banyak sekali melewati security check terkait isu perbatasan. Hingga saat ini hubungan India-Pakistan seperti hubungan negara kita dengan negara tetangga hihihi. Seriusan ini, konon kabarnya pertandingan cricket antara India-Pakistan syarat dengan issue politik sama halnya dengan isu pertandingan bola negara kita dengan negara tetangga yang selalu saja di bumbui isu-isu tak sedap.

Meskipun Gandhi berusaha untuk tetap mempersatukan umat Hindu dan Islam di India dan tak menginginkan perpecahan, namun sayang upaya nya tidak berhasil. Partisi dua negara tetap terjadi. Yang lebih menyedihkan, Gandhi berpulang dengan cara yang mengenaskan. Beliau ditembak mati oleh seorang fanatik Hindu, sesaat sebelum beliau berpidato dihadapan rakyatnya.

Bagi saya pribadi, Ali dan Gandhi adalah dua sosok yang tak hanya simbol perwakilan atas nama agama tapi juga atas nama kemanusiaan. Quote Ali bin Abi Thalib sering dikutip orang tentang kemanusiaan. Masih ingatkah teman quote ini: 

“Jika kita tidak bersaudara dalam satu akidah, maka kita bersaudara dalam kemanusiaan.”

Saya kira kita bisa belajar banyak dari quote ini, terutama kita sebagai bangsa yang besar dalam segi populasi penduduk dan beragam dalam hal agama, ras dan kebudayaan.

Begitu pula dengan Gandhi. Meskipun dia seorang Hindu tapi dia tak pernah lelah merangkul kebersamaan antara umat Hindu dan Muslim bahkan tak menginginkan adanya perpecahan diantara kalangan mayoritas dan minoritas. Bahkan saking tak inginnya ada perpecahan antara dua agama ini, Gandhi dituduh balik sebagai pengkhianat umat Hindu.    

Sebagai penutup saya ingin mengutip kembali dua quote favorite saya dari dua orang besar ini. Bagi saya pribadi dua quotes ini bagaikan “quote pembangun jiwa”, terlebih jika kita sedang berada dalam kondisi yang tengah putus asa, down dan memerlukan booster untuk menaikkan kembali semangat kita dalam meraih cita-cita dan impian-impian besar kita. Berikut adalah dua quotes tersebut.

 “When my prayers are answered, I am happy because it was my wish. When my prayers are not answered, I am even more happy because that was Allah’s wish" 
(Ali bin Abi Thalib) 

Keep your thoughts positive
because your thoughts
become your words

Keep your words positive
because your words
become your behaviour

Keep your behaviour positive
because your behaviours
become your habits

Keep your habits positive
because your habits
become your values

Keep your values positive
because your values
become your destiny

(Mahatma Gandhi)

 

 

 

  • view 73