Incredible60

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 06 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible60

Incredible60

My second meditation   

 

                Jam tujuh aku sudah ada di ashram, pria berwajah Tibetan menyambutku dengan ramah juga sang pemilik ashram yang masih mengenaliku. Meditasi akan dimulai jam 19.15 tapi dia mempersilahkan aku memasuki hall untuk meditasi tersebut. Seorang pria bule dengan pakaian lengkap ala India, sudah duduk diatas matras. Kami saling berkenalan, ternyata dia satu kelas yoga dengan Nicole. Bule asal New Zealand ini cukup ramah, dia mengikuti dua kelas baik yoga maupun meditasi disini. Tepat waktu yang tertera meditasi dimulai dan instrukturnya adalah sang pria Tibetan yang menyambutku tadi.

Dia masih muda mungkin sekitar delapan belas tahunan, fisiknya kecil saja, berambut cepak dan bermata sipit. Sebelum dimulai dia memperkenalkan diri, sayangnya bahasa Inggrisnya tidak terlalu jelas. Hingga sang bule New Zealand dan aku sedikit memiringkan kepala kami untuk mencerna apa yang dia katakan. Dia mengatakan bahwa dia akan mengulangi instruksi sebanyak dua kali, dengan sopan sang bule New Zealand meminta agar instruksi diulangi sebanyak tiga kali, takutnya tidak terdengar jelas dan akupun idem dengan dia.

Kami hanya bertiga diruangan itu, aku, bule New Zealand dan sang instruktur. Ruangan besar dengan lampu temaram menambah suasana semakin hening. Duduk bersila dan memejamkan mata, maka meditasi pun dimulai. Inilah meditasi kedua ku, setelah yang pertama aku melakukannya di Dharamkot bersama McKenzi. Kurasakan kali ini meditasi terasa lebih “padat”, sang instruktur seperti membawa aku kemasa lalu, kemasa kecil, kampung halaman, membayangkan orang-orang terdekatku, keluarga, hingga suatu pertanyaan mendasar mengapa aku sampai ditempat ini?

Ada hal yang aneh ketika dia melafalkan kata “Ooom”, fisiknya yang kecil tidak sebanding dengan pita suaranya yang kemudian membesar, melengking dan seperti membumbung keangkasa. Aku seperti terbawa suasana, mengikuti apa yang dia lafalkan dan akupun “menjerit” sepuasku, seolah berkata kepada Sang Kuasa tentang semua perasaan yang tak bisa aku deskripsikan dengan kata apapun, terutama pertanyaan terakhir yang diajukan sang instruktur. Pada bagian terakhir ketika kami membuka mata, aku merasakan senyum yang mengembang di bibirku sendiri.

Jam setengah sembilan malam kami mengakhiri meditasi ini, kami ngobrol-ngobrol sejenak sebelum meninggalkan tempat ini. Sang instruktur ternyata asal Nepal dan sudah dua tahun berada di ashram ini, katanya ini malam terakhir dia disini karena untuk sejenak dia akan pulang kampung ke Nepal. Mendengar nama Nepal, aku seakan teringat list tempat yang ingin aku kunjungi ketika aku di India, tapi rasanya itu tak mungkin sekarang karena budget ku sudah tak mencukupi lagi. Aku berkata bahwa aku ingin sekali melihat Nepal dan pergi kesana.

“Don’t worry, someday we’ll meet in Nepal or here”,

begitu katanya seolah meyakinkan aku. Aku hanya menjawab seadanya.

“You are not the first one who say that you want to come here again”,

katanya menatapku, hey bagaimana bisa dia membaca fikiranku bahwa aku ingin kembali ke Rishikesh suatu hari nanti, kan aku cuma bicara Nepal.

 

Tanpa diminta dia bercerita bahwa konon kabarnya ada salah satu bule yang datang ke Rishikesh dan ketika pulang dia berkata bahwa suatu hari nanti dia ingin kembali dan itu terjadi sepuluh tahun kemudian, sampai akhirnya mereka berteman baik. Aku hanya tersenyum mendengarkan dia sambil beranjak beriringan meninggalkan aula ini.

 

“Pinky you look so happy”,

Amal menyambutku ketika aku menuruni tangga hall dan menjumpai mereka. Sejak dia melihatku mengenakan jilbab pink dan menurut dia aku fresh dengan jilbab itu dia memanggilku Pinky. Aku tersenyum saja melihat mereka yang datang dengan tentengan belanjaannya.

“Yeah, I can see your smile now”,

Nicole menambahkan. Benarkah? Inikah efek meditasi?

 

Kami berjalan meninggalkan ashram dan mencari tempat untuk makan malam terakhir kami di Rishikesh. Little Budha Café adalah pilihan kami, berlama-lama kami disana, menikmati Rishikesh dimalam hari bersama tenangnya sungai Gangga. Hingga tak terasa makanan sudah berpindah ke perut, ngobrol sudah ngalo-ngidul, lampu-lampu sudah dimatikan oleh para waiter, tapi kami tak ingin pergi. Begitu pula bule-bule yang lain. Saking sudah habisnya topik pembicaraan, kami main tebak-tebakan dari mana cewek Asia yang duduk dibelakangku berasal? Atau main tebak-tebakan bule asal mana yang menang catur diseberang meja sana. Hingga sang waiter memberikan kami bill, kami sudah tak bisa mengelak lagi untuk angkat kaki dari café ini.

 

Aku dan Nicole langsung masuk ke tenda sementara Amal ingin meminta password untuk penggunaan wifi. Ketika aku merebahkan badan diatas kasur, tak lama Amal datang dengan sumringah,

“You know Pinky, I’m so happy that I have a friend who is an Indonesian, hu hu”.

Aku yang masih belum mengerti kemudian duduk dan menanyakan ada apa gerangan. Ternyata dia berkata bahwa dia bebas menggunakan internet, tak perlu khawatir tentang charge/hour, hanya karena dia sekamar dengan aku. Aku bertanya-tanya tak mengerti ada apa sih dengan owner caffeé ini dengan negara kita? Jangan-jangan dia punya istri simpanan di Indonesia, hahahaha… Tak apalah sepanjang itu menguntungkan dan lihatlah Amal yang terus bernyanyi lagu Tunisia pertanda dia senang bukan kepalang dan mulai membuka notebooknya. Tapi malam ini adalah malam terakhir di Rishikesh, besok kami harus pulang kembali…

 

Semuanya duduk termenung didepan meja panjang sambil menatap banana pancake masing-masing. Tak ada morning talk kali ini. “Selamat pagi”, sapaan itu keluar dari mulut “Andi RIF” hippies yang khusus menyapaku. Aku membalas salam pagi nya sambil tersenyum, tapi secepat kilat dia menghilang kembali. Cukup sudah kami menikmati embun pagi dan banana pancake ini, kami harus meninggalkan tempat ini. Tak ada alasan lain untuk berlama-lama karena breakfast sudah selesai, tinggal menyelesaikan bill dan semuanya berakhir. Ketika kami meneliti bill ternyata benar dia memberikan harga small tent untuk big tent yang kami tempati semalam dan Amal hanya dikenakan biaya Rs. 100 untuk unlimited internet. Coba kalau dihitung-hitung berapa jam dia pakai dan kalikan Rs. 25 setiap satu jam nya. Benar-benar kemurahan hati yang menimbulkan keingin tahuan, tapi biarlah itu menjadi rahasia dia.

 

Selamat tinggal, Rishikesh…

  • view 35