Incredible59

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 06 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.4 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible59

Incredible59

Rishikesh, aku dan Indonesia

    

                Dua malam menginap di ashram, hari terakhir kami memutuskan untuk mencoba experience lain menginap di bungalow unik yang lagi-lagi direkomendasikan sang bible. Pyramid Café, itulah nama tempat itu. Mengapa kami menyebutnya experience lain, tak lain adalah karena kamarnya berbentuk tenda, mirip kemping pramuka hehehe. Meskipun mereka juga menyediakan kamar-kamar biasa tapi kami bersikukuh ingin menginap ditenda tersebut. Sebelumnya kami kesini hanya untuk dinner saja, tapi melihat restaurant yang juga didesign dengan tenda dan lesehan, tempat ini menawarkan suasana lain. “Are you Indonesian?”, sang cashier restaurant ternyata mengenali aku dengan benar, aku cukup senang dikenali sebagai seorang Indonesia karena kebanyakan mereka mengenali aku sebagai pelancong dari negara tetangga. Berdiri disamping sang cashier adalah lelaki kurus, sekurus Andi RIF, berambut gondrong dan berpenampilan hippies, rupanya dialah owner Pyramid Café, lelaki itu tak banyak berbicara hanya tersenyum saja dan mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa kepadaku dalam bahasa Indonesia yang jelas.

 

Pagi hari ketika kami check in, sang waiter yang sudah familiar dengan wajah kami, menunjukkan dua tenda yaitu ukuran besar dan kecil. Jika dibandingkan tak ada bedanya tapi mengapa harganya berbeda, tentu saja untuk penghematan kami memilih ukuran yang kecil toh sama-sama double bed. Tapi sang waiter menyarankan kami untuk mengambil tenda ukuran besar, tentu saja dia menawarkan itu karena harganya lebih mahal, tapi tunggu dulu ada hal yang membuat kami akhirnya mengambil memutuskan untuk mengambil big tent, tak lain adalah kalimat sakti dari sang waiter yaitu, “Don’t worry we’ll give you discount because she is an Indonesian”, katanya sambil menunjuk kepadaku. Yuhu… kamipun tertawa senang dan berasa seperti kembali kemasa-masa sekolah dulu, kemping dengan api unggun ditengah hutan.

 

Pagi ini Amal dan Nicole memutuskan untuk rafting, sementara aku ingin mengunjungi Ram Jhula bridge yang belum sempat aku jajaki juga melihat Swargashram Temple. Meskipun kemarin aku bersama mereka sudah melewati tempat itu, tapi rasanya aku belum puas. Nicole meyakinkan aku apakah aku benar-benar tidak ingin ikut rafting? Aku pun mengemukakan alasanku bahwa aku bisa melakukan rafting dilain waktu dan tempat, dan akupun sudah pernah rafting, tapi menyusuri dan menikmati Rishikesh kapan lagi? Iya kalau Sang Maha Pencipta mengijinkan aku kembali kesini, kalau tidak, inilah waktu untuk aku menikmatinya. Akhirnya Nicole bisa menerima alasanku. Jam sembilan kami berpisah dan janjian bertemu kembali untuk makan siang.

 

Aku menyusuri jalanan yang kami lewati kemarin, tapi hari ini aku begitu menikmatinya karena aku bisa memutuskan dimana aku ingin duduk-duduk sambil sesekali membaca “Holy Cow” yang aku pinjam di book corner Pyramid Café, memotret objek yang aku anggap unik, dan berjalan tanpa harus selalu melihat peta. Ditemani semilir angin aku tiba di Swargashram Temple, duduk disebuah bangku biru yang terletak tak jauh dari salah satu Dewi. Disini aku bisa melihat bahwa sapi-sapi yang berkeliaran adalah benar-benar dihormati dan dianggap sebagai dewa. Lihatlah kerumunan ibu-ibu yang baru keluar dari temple dan duduk-duduk sejenak sambil mengobrol, tiba-tiba datang sapi besar berwarna kuning, diusap-usapnya sapi tersebut kemudian tangan yang digunakan untuk mengusap sapi tersebut dia usapkan kembali ke kepala dan muka sang ibu. Dan itu tak hanya dia yang melakukannya, tapi juga ibu-ibu yang lainnya. Aku melihat buku yang aku genggam, benar-benar Holy Cow… Eh, tapi kemana ya para pengemis itu, yang kemarin banyak berkeliaran, kok aku tidak melihatnya, apakah mereka cuti mengemis hari ini? Akupun beranjak dari kerumunan Holy Cow dan bergegas menuju Ram Jhula bridge. Seketika kamera ku menangkap objek yang menarik, ternyata disinilah mereka berada.

 

Puluhan pria berseragam orange dan berambut gimbal tersebut berdiri, mengantri dan memegang nampan disebuah tempat luas bertuliskan bahasa Hindi dan Inggris, “KITCHEN”, rupanya mereka tengah breakfast saudara-saudara. Asyik jeprat-jepret, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seorang pria dari belakang, “Madam, picture, one rupee”. Akupun teringat pengalaman di McLeodGanj, rupanya hal yang sama terulang kembali, sang pengemis meminta bayaran jika diambil gambarnya. Aku berlalu tak menggubris apa yang dia katakan, bahkan aku mempercepat langkahku, dia masih berteriak-teriak, “One rupee Madam, one rupee”, hanya itu yang masih bisa kudengar.

 

Aku merasa bersalah dalam hatiku, apalah artinya satu rupee bagiku, tapi tampang mereka terlalu menyeramkan dan apakah benar mereka hanya meminta satu rupee saja??? Entahlah, hingga terengah-engah akhirnya aku sampai juga di Ram Jhula bridge. Jembatan beton berayun-ayun seperti diterpa angin. Orang-orang, motor, sapi, pedagang sayur dan entah apa lagi semuanya tumpah ruah disini, sementara dibawah sana pekikan suara datang dari perahu-perahu rafting. Gangga tak hanya sebagai sungai penebus dosa, kini sungai suci itu telah berubah fungsi menjadi sarana olahraga, terutama para pecinta rafting. Melewati Ram Jhula, aku berbaur dengan orang-orang yang lagi-lagi menawarkan dagangannya terutama penjual aksesoris. Tapi dikawasan ini jauh lebih tenang dari kawasan sebelumnya.

 

Meskipun banyak toko souvenir tapi para pedagang tidak terlalu heboh menawarkan dagangannya. Aku duduk sebentar ditepi sungai Gangga menatap kearah ke sebrang dimana aku tadi berjalan. Tak banyak orang yang “melebur dosa” disini, maksud hati ingin berlama-lama disini tapi dua anak kecil yang menghampiri dan menengadahkan tangannya membuat aku berubah fikiran. Tak lama aku berjalan kembali pulang, selain itu waktu sudah menunjukka kami untuk janjian bertemu kembali. Kembali aku menyusuri Ram Jhula bersama semilir angin dan ratusan orang yang hilir-mudik di jembatan itu.

 

Hari semakin siang dan jalanan semakin padat. Hari libur sepertinya tak hanya milik manusia untuk berkumpul bersama keluarga, tapi juga para kera itu. Bhaiya Manoj, sebelumnya mewanti-wanti aku agar jangan memberikan makanan kepada mereka karena mereka adalah jenis kera yang aggressive, kera memang selalu menjadi bagian dari trip dimanapun hili area berada, Shimla, Manali, McLeodGanj hingga ke Rishikesh. Lihatlah kera-kera yang bergelantungan disebuah pohon besar kemudian menclok seadanya ditempat-tempat duduk untuk manusia, mereka benar-benar ber-”family gathering”. Ukurannya pun bervariasi mulai dari yang kecil, sedang hingga besar, dan mereka tak hanya berkeliaran disini, mereka juga ber-“hang out” ria di Laksman Jhula.

 

Bergegas aku berjalan supaya tak ketinggalan lunch bersama mereka, tiba-tiba suara seorang wanita menghentikan langkahku. “Are you Indonesian?”, aku menoleh kebelakang dimana arah suara berasal, hebat juga wanita setengah baya ini bisa mengenali aku padahal aku berjalan cepat. Aku memundurkan badanku menghampirinya, anak muda harus menghormati orang yang lebih tua, dia kuperkirakan berumur lima puluh tahunan. Kami berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri. Mimi namanya, asal Amerika, oma ini berpenampilan sporty dengan celana gunung selutut, t-shirt pink juga topi yang menutupi rambut pendeknya.

 

Ketika kutanyakan bagaimana dia bisa mengenaliku, dia menunjuk tas (yang sudah hampir belel) yang kusampirkan dipundak kananku. Aha, tas batik oleh-oleh dari Jogja ini ternyata bisa jadi jati diri juga. Dan yang lebih mengagetkan, dia juga lancar berbahasa Indonesia, wow. Akhirnya dari sekedar berbasa-basi kami berbincang cukup serius. Oma Mimi yang baru menyelesaikan kelas yoganya sudah berada di Rishikesh selama kurang lebih sepuluh hari, dia datang memang serius untuk mengikuti yoga class yang dia rencanakan selama lima belas hari. Dia bertanya banyak mengenai aku dan Indonesia, dari mana aku berasal, sedang apa aku di India, berapa lama akan tinggal disini, sudah kemana saja di India, kapan pulang dan lain sebagainya. Kami berbincang hangat meskipun cuaca mulai terik tepat diatas kepala kami.

 

Giliran dia bercerita, bahwa tak terhitung berapa kali dia mengunjungi Indonesia, bahkan dia punya enam anak angkat di Indonesia, tiga di Ponorogo dan toga di Lombok. Entah apa pekerjaannya, yang jelas saat ini dia sedang mengerjakan sebuah project dengan anak angkatnya di Ponorogo mengenai reog dan kemungkinan project tersebut akan di film kan, dia sendiri dan salah satu anak angkatnya yang menulis skrip cerita tersebut. Sayangnya perbincangan kami harus segera berakhir, sepertinya dia mulai lelah berdiri dan berkata bahwa dia harus kembali ke ashram. Kamipun berpisah dan saling berharap bisa bertemu lagi jika dia berkunjung ke Indonesia.

 

Kutemui mereka yang basah kuyup setelah rafting, kami saling bertukar cerita ketika lunch tiba. Sayangnya lunch kali sedikit mengecewakan aku karena nasi goring yang kupesan tak ada rasa sama sekali, padahal aku merindukan salah satu makanan favoritku ini. Kami menyusun rencana malam terakhir di Rishikesh. Aku akan mengikuti meditasi di ashram tempat kami menginap sebelumnya, sementara mereka akan menghabiskan malam dengan bershopping ria di Rishikesh. Kami kembali berpisah dan bertemu kembali ketika waktu dinner tiba.

  • view 31