Incredible58

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 06 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

4.8 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible58

Incredible58

Aarti Ceremony 

 

                Waktu sudah menunjukkan setengah enam ketika kami kembali dari Beatles ashram, tapi ketika melewati tempat yang disebut Evan diselenggarakannya upacara Aarti, tak ada tanda-tanda akan digelarnya upacara. Tak ada petugas yang bisa ditanyai, yang kulihat lagi-lagi pengemis yang berkeliaran dimana-mana. Kami memutuskan mampir sejenak disebuah kedai kecil menikmati mango shakes bersama sunset di samping sungai Gangga. Pemandangan yang terlihat adalah masih banyak saja orang yang mandi ditepi sungai ini, semakin sore malah semakin ramai. Samar-samar dari kejauhan kami mendengar petikan sitar yang merdu berpadu dengan tabla juga disertai lantunan nyanyian, ini benar-benar Rishikesh…

 

Dari kedai kecil tempat kami menyeruput mango shakes terlihat beberapa pemuda berbaju orange entah sedang mempersiapkan apa, jangan-jangan upacara akan segera dimulai. “Lets go”, aku berkata pada Nicole sambil beranjak. Kami bergegas menuju tempat upacara tersebut. Benar saja beberapa orang sudah duduk didalam sana. Tempat penitipan sandal dan sepatu ramai dikunjungi, petugas yang berjaga seorang diri tampak kewalahan melayani para tamu yang ingin menyaksikan acara ini.

 

Berderet didepan sana, para pemuda yang kuperkirakan berusia delapan belas hingga dua puluh tahun. Mereka membentuk formasi dimana sebagian duduk berjejer di tangga atas dan sebagian lagi menghadap api yang tengah menyala. Duduk bersama para pemuda yang menghadap api adalah beberapa orang yang kuperkirakan satu keluarga. Semua pemuda yang menjadi “pemandu acara” ini mengenakan seragam dengan warna orange terang dan selendang yang tersampir di bahu kiri mereka. Nyanyian pujian terus mengalun mengiringi jalannya ceremony, para pengunjungpun seperti larut dalam suasana. Tak hanya penduduk lokal, bule-bule yang duduk lesehanpun seperti ikut meresapi apa yang sedang terjadi. 

 

Sepuluh menit kemudian, semua orang berdiri, ada apa gerangan? Tiba-tiba seorang pria berjanggut dan berambut gondrong memasuki arena ceremony dengan menangkupkan tangannya, para pemuda tadi menyentuhkan tangan mereka di lantai kemudian menyentuhkannya dikening mereka sendiri dan menangkupkan tangan mereka seperti membalas salam sang guru yang baru datang. Dialah sang pandit yang akan memimpin upacara ini. Lantunan syair terus dikumandangkan kali ini bertambah syahdu karena sang pandit sendiri yang bernyanyi dan memimpin umat untuk bersama-sama larut dalam suasana. Yang menarik perhatianku justru bukan sang pandit melainkan dua orang wanita yang datang bersamaan dengan dia. Dua orang wanita tersebut dipastikan bukan penduduk lokal karena mereka berkulit pucat dan berambut blonde dan mengenakan kain berwarna putih, mereka duduk tak jauh dari sang pandit. Jika kemudian aku tahu bahwa barisan pemuda berseragam orange adalah murid sang pandit, mungkinkah dua orang bule tersebut juga muridnya? Entahlah…

 

Sesekali hadirin bertepuk tangan mengikuti irama dan nyanyian sang pandit. Tak lama kemudian cawan-cawan berwarna emas menghiasi tangga-tangga dimana upacara dilangsungkan. Aku masih menantikan untuk apa cawan-cawan tersebut. Waktu terus berjalan, dari yang terang benderang hingga sekarang mulai gelap-gulita dan cawan-cawan itu kini telah berubah menjadi penerang bagi kami. Tapi lebih dari itu, ternyata cawan-cawan dengan api didalamnya itu dijunjung tinggi, disebarkan kepada umat dan semua umat menyambutnya dengan gembira, seperti menyentuhkan tangan mereka diatas api tersebut dan berdoa.

 

Meskipun upacara telah usai, tapi cawan-cawan dengan api tersebut masih dikerubuti umat yang berharap blessing dan berdoa. Matahari telah tenggelam, hari mulai malam, tapi orang-orang masih setia bersama Gangga, berfoto, berdoa dan menghanyutkan bunga yang disertai dengan nyala api kecil, indah sekali… Hari ini perjalanan kami ditutup dengan kedamaian, keindahan dan keramahan Rishikesh.

  • view 24