Incredible57

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 06 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

4 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible57

Incredible57

Beatles Ashram

Kami terus berjalan dibawah sengatan sinar mentari dengan menenteng air mineral ditangan kami masing-masing. Selain sengatan sang surya yang garang, debu dan pengemis masih menyertai perjalanan kami menyusuri jalanan, tapi mana Beatles ashram yang kami cari? Jangan-jangan kami kebablasan, ketika tengah membolak-balik Lonely Planet, tiba-tiba seorang turis sipit menyapa kami, “Can I help you?”, katanya menawarkan bantuan. Kami mengemukakan tujuan kami mencari Beatles ashram, dia dengan tenang menjelaskan bahwa kami hampir sampai kesana. Tinggal berjalan lurus kedepan dan berbelok ke kiri, maka disitulah Beatles ashram berada.

Setelah mengucapkan terima kasih kami berpisah, turis perempuan dengan tinggi semampai ini kulihat memasuki ashram yoga yang cukup besar. Inilah wajah Rishikesh kawan, aku mempunyai kesan tersendiri dengan kota ini. Disini tak hanya penduduk lokal, para shopkeeper, bhaiya sugar cane yang friendly dengan para pendatang, tapi juga sesama traveler atau sesama turis yang bertemu baik di café ataupun berpapasan dijalan. Jika para shopkeeper atau waiter menyapa dengan “Namaste”, maka sesama turis saling menyapa singkat dengan “Hi” atau “Halo”. Pun, jika ingin shopping tak perlu takut seperti di Jaipur, mereka dengan ramah mempersilahkan untuk melihat-lihat bahkan jika tak membeli, mereka bertanya atau sekedar mengobrol bahkan memberi informasi tentang Rishikesh, hal-hal kecil seperti ini tidak aku temui ditempat-tempat sebelumnya di objek wisata yang telah aku kunjungi. Dan kembali aku bertanya, inikah wujud dari spiritualitas? Karena semua orang tahu bahwa Rishikesh adalah pusat yoga dan meditasi dunia.

Lamunanku yang berjalan seiring langkah kaki terhenti ketika kami berada disebuah jalan buntu, yang sepertinya tak ada jalan lain lagi. Terlihat didepan kami lima orang hippies bersama seorang bule berambut gimbal. Agak sedikit berjarak kami bertanya dimana Beatles ashram, tiba-tiba salah seorang hippy mendekati kami dan berkata, “Come, follow me”. Kami mengekor dari belakang, sedikit ketakutan dengan penampilan fisiknya yang kucel, berkain orange dan hanya rompi melekat ditubuh bagian atasnya juga bandana seadanya yang menghiasi rambut gimbalnya.

Ternyata dari jalan yang kami kira buntu, ada jalanan kecil menanjak dan jalanan inilah yang harus kami lewati menuju Beatles ashram. Tapi kali ini jalanan itu sudah tak berbentuk lagi, rumput liar, semak belukar dan pohon-pohon tinggi berpadu padan dengan teriknya matahari membuat kami sedikit “fighting” dengan itu. “Guide” dadakan kami melangkah tegap didepan, tetap berjalan sambil terus bercerita. Hingga tibalah kami disebuah jalan beraspal mulus dan lebar, hah, kami menghela nafas panjang setidaknya tak perlu fight lagi dengan rumput-rumput liar itu. Kami berpapasan dengan dua orang pemuda dari lawan arah dan didepan kami sebuah gerbang besar yang sudah karatan menganga lebar seolah mempersilahkan kami masuk.

Baba, begitu dia ingin dipanggil mulai menjelaskan satu persatu bangunan-bangunan kecil berbentuk igloo yang terhampar begitu banyaknya mulai dari kami masuk hingga sejauh mata memandang. “This is where The Beatles do their meditation”, katanya sambil mempersilahkan kami memasuki tempat bernomor 9 tersebut. Teriknya cuaca diluar, berbanding terbalik dengan udara di dalam. Nyesss, seketika adem. “Igloo-igloo” untuk meditasi ini berbentuk lingkaran. Bangunan yang terlihat kecil dari luar ternyata berlantai dua. Baba kembali mengajak kami menaiki tangga beton yang sudah mulai lapuk, besi-besi yang menopang tembok tersebut mulai menonjol keluar bahkan ada tangga yang hanya setengah. Langit-langit dilantai dua ini berwarna-warni mencolok dengan dominasi kuning dan biru, gambar hati, bunga, pohon dan tak ketinggalan coretan-coretan huruf besar-besar pertanda sudah banyak orang yang berkunjung ke tempat ini. Dari ademnya tempat meditasi The Beatles kami keluar kembali dan menghadap sang mentari. 

Jalanan mulai berkelok, semakin kebelakang semakin terlihat bahwa dimasa lalu ashram ini memang dilengkapi dengan segudang fasilitas-fasilitas umum mulai dari kantor post, bank, dapur umum, rumah sakit, hall yang amat sangat luas untuk yoga dan puluhan kamar guest house, belum termasuk “igloo-igloo” yang berserakan dimana-mana. Dari rooftop guest house, Baba juga menunjukkan tempat mendaratnya helipad, sekurang-kurangnya roof top bisa menampung dua sampai tiga helipad, jadi sudah terbayangkan berapa luas hanya untuk guest house. Kami beristirahat sejenak di roof top guest house menikmati semilir angin, kicauan burung, barisan gunung, Rishikesh yang bersanding dengan sungai Gangga, tapi ternyata semua ini tak membuat Ringo Star betah disini, konon dikabarkan bahwa lokasi yang terlalu jauh dari keramaian dan makanan yang pure vegetarian membuat dia tak bertahan lama tinggal diashram ini dan memutuskan meninggalkan anggota Beatles yang lain yang masih betah tinggal disini, seperti kami.

“Want to see Beatles room?”

Baba seakan memecah kesunyian. Kami saling melirik, waktu sudah menunjukkan jam setengah lima, teringat pesan Evan akan upacara Aarti. Kamipun berkata pada Baba bahwa kami tak ingin ketinggalan upacara tersebut jadi secepatnya kami harus meninggalkan tempat ini. Baba hanya tertawa lebar sambil berkata, “Don’t worry, the ceremony will be on seven o’clock”. Dia mencoba meyakinkan wajah kami yang tidak percaya pada dia. Setelah beberapa kejadian yang kami alami, memang tingkat kepercayaan kami terhadap orang India berkurang, terutama berkaitan dengan masalah waktu. Lagipula bagaimana dia bisa tahu kalau upacara Aarti hari ini akan diselenggarakan jam tujuh petang? Memang pandit yang memimpin upacara memberi tahu dia?

Seakan bisa membaca fikiran kami, dia kembali meyakinkan bahwa tidak ada waktu yang fix untuk penyelenggaraan upacara Aarti, semuanya tergantung sang pandit, dan menurut dia sang pandit punya perhitungan sendiri jam berapa upacara harus dimulai. Baiklah, kami mempercayai dia dan menyanggupi untuk melihat ruangan dimana Beatles menginap. Ternyata kamar Beatles terletak paling ujung di guest house tersebut dan yang mengejutkan Baba juga memberitahu masih ada ruang bawah tanah!

Maharishi Mahesh Yogi, itulah nama ashram ini. Nama yang juga diambil dari sang guru yang mendiami tempat ini. Ketika mengunjungi hall yoga, meskipun tidak jelas kami mendapat sedikit gambaran seperti apa wajah sang guru, sepertinya dia bertubuh tinggi besar, berambut panjang dan berjanggut tebal. Konon kabarnya diruangan bawah tanah inilah sang guru terbiasa bermeditasi tanpa makan dan minum! Bahkan dia sanggup bertahan berminggu-minggu bermeditasi disini. Keren. 

Ruangan bawah tanah sang guru adalah tempat terakhir kami di Beatles ashram dan kami berpamitan pulang. Tiba-tiba sang Baba berkata, “Tourist guide payment”, kami kembali saling berpandangan dan bertanya untuk mempertegas maksud dia. Dan sebenarnya sudah jelas dia meminta bayaran atas jasanya, yang tanpa diminta, telah mengantar kami kesini. Okay, kami sepakat membicarakan masalah harga ketika kami sudah sampai dijalan menuju keluar meninggalkan ashram tersebut. “Okay,okay” kata sang Baba sambil tetap berdiri didepan memimpin kami keluar.

Akhirnya tiba juga kami dijalan utama dan sebelum berpamitan kami menyelesaikan “transaksi” dengan Baba. Harga yang ditawarkan Baba cukup membuat kami tercengang, dia meminta Rs. 600, what??? Artinya kami harus sharing Rs. 200, no way, kami menawar Rs. 100, eh dia menolak sodara-sodara. Maka dengan alasan kami hanyalah students belaka, akhirnya tercapai kesepakatan bahwa kami share Rs 50 per orang, dan Baba bilang okay ketika kami memberikan dia Rs 150 in total. Deal. Kesepakatan selesai, kami pun pulang meninggalkan area ini dan kembali ke sungai Gangga untuk melihat upacara Aarti.

  • view 21