Incredible56

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 06 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible56

Incredible56

Dan, inilah wajah Rishikesh…

                Jumat pagi kami memulai aktivitas sightseeing di Rishikesh, Nicole dan Amal memulai kelas yoga mereka, sementara aku lebih tertarik mengikuti kelas meditasi nanti malam. Yoga class berlangsung selama satu jam sampai jam setengah sembilan setelah itu kami mencari tempat untuk breakfast. Namaste Café yang terletak tak jauh dari ashram adalah tujuan kami, café ini cukup unik karena menyediakan cat air dan kuas jika pengunjung ingin berkreasi ria dengan seni menggambar.

Background dinding yang berwarna kuning menambah kontras suasana ceria kami dipagi hari. Semua orang sibuk berkreasi dengan imajinasi masing-masing dan menuangkannya di atas  sikuning yang terpampang lebar. Ketika sedang asyik dengan gambar masing-masing dua orang cowok bule datang dan mereka terlihat serius berbincang-bincang. Tapi kemudian mereka menyapa kami dengan ramah dan akhirnya kamipun terlibat pembicaraan yang fun dengan mereka. Evan, salah satu cowok bule itu terlihat serius membahas India bersama kami. Dia ternyata cukup interest dengan agama Hindu di India dan berdiskusi banyak hal kepadaku dan Amal tentang agama Islam. Dia dan temannya akan berada di India selama empat minggu untuk travelling. Tak hanya berbicara tentang agama dia yang juga seorang pengajar berdiskusi banyak hal tentang pendidikan dinegara kami masing-masing.

Perbincangan yang hangat dipagi hari membuat kami tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan tengah hari. Mereka berdua ternyata juga interest dengan gambar yang kami buat dan menanyakan arti dari gambar-gambar tersebut. Nicole menggambar symbol perdamaian, Amal menggambar symbol Negara Tunisia dan aku menggambar peta Indonesia. Berdasarkan peta tersebut mereka bertanya dari mana asalku dan minta dijelaskan satu persatu dari kelima pulau yang aku gambar. “Why don’t you paint our country, we’re neighbour”, begitu katanya, ternyata mereka dari Australia kawan dan amat sangat berminat untuk mengunjungi Indonesia setelah India. Benar kata Dalton Tananaka dan Rahayu Saraswati, jika kita bepergian keluar negeri secara tidak langsung kita menjadi brand ambassador untuk negara kita sendiri.

Kami bertukar cerita tentang spot-spot yang wajib dikunjungi di Rishikesh sebelum kami berpisah dan meneruskan planning masing-masing. Bertemu sesama traveler memang selalu menjadi hal yang mengesankan.

Amal dan Nicole meneruskan langkah mereka berjalan kearah bazaar-bazaar yang terhampar disisi kiri dan kanan jalanan mulai dari ashram hingga jembatan Laksman Jula, aku mampir ke ashram sebentar untuk shalat zuhur. Setelah kami berkumpul kami siap menunaikan agenda “sightseeing” hari ini, first of all adalah kedua temple besar yang terletak tak jauh dari Laksman Jula yang juga merupakan icon kota Rishikesh yang terpampang di postcard-postcard.

Bunyi lonceng pertanda sang hamba menghadap sang dewa dewi saling bersahutan antara satu dengan yang lainnya, maklumlah hari ini cukup banyak umat Hindu yang berdatangan dikedua temple tersebut. Kedua temple tersebut mempunyai kesamaan yaitu sama-sama menjulang tinggi keatas dan bertingkat-tingkat.

Temple yang pertama kami datangi bernama . Sebelum kami memasuki temple kami harus menitipkan sandal/sepatu kami ditempat yang sudah disediakan. Ketika kami hendak beranjak masuk, sang penjaga sepatu berkata, “Donation fee, Madam”, kami saling melirik, Nicole berkata bahwa mereka tidak memungut bayaran kepada Indian, tapi sang penjaga sepertinya tetap menunggu kami sambil memegang nomor tempat sepatu dan sandal kami berada. Kuberikan dia sepuluh rupees dan dia pun memberikan bulatan pipih untuk mengambil sepatu dan sandal kami.

Suara lonceng semakin jelas terdengar dan kadang memekakan telinga, maklumlah disetiap lantai terdapat lonceng mulai dari ukuran yang kecil hingga yang besar, jumlahnya pun bervariasi mulai dari single bell hingga group bell. Jadi bisa dibayangkan satu lonceng saja sudah gaduh apalagi lima lonceng sekaligus dan itu dibunyikan secara berulang-ulang setiap lantainya. Di setiap lantai terdapat dewa dan dewi yang bervariasi juga lukisan-lukisan, sayangnya semuanya di tulis dalam bahasa Hindi, aku hanya mampu mengenali Hanuman, Krishna, Ganesha dan Saraswati, selebihnya aku tak mengenal mereka.

Tapi ada dua hal yang menurutku sedikit mengurangi kesakralan akan makna sebuah tempat ibadah, yaitu toko-toko souvenir yang ada hampir disetiap lantai, persis disebelah patung dewa dan dewi tersebut juga para pandit yang duduk tak jauh dari para dewa dan dewi. Kami yang sudah berbekal “pengetahuan” tentang semua hal dan kemungkinan yang terjadi ditemple, selalu berkata “No”, jika sang pandit, menawarkan “jasa” mereka yang tak lain adalah mengajak singgah disalah satu patung dewa ataupun dewi kemudian menggoreskan tilaka di kening dan meminta sejumlah uang. Kamipun menyebutnya “fake pandit”, kuperhatikan mereka semua berdandan sama dan “berproperti” sama juga yaitu meja kecil, “cat warna” merah untuk tilaka yang disimpan diatas mangkuk kecil dan kwitansi hahahaha.

Semakin keatas bangunan semakin mengerucut dan entah sebelas atau dua belas tingkat sudah kami berjalan menaiki tangga-tangga disetiap sudut dan sesekali membunyikan lonceng. Dari tingkat paling atas Rishikesh begitu indah, sejauh mata memandang terlihatlah wajah Rishikesh yang cantik, Laksman Jula yang gagah tampil selaras bersama Sungai Gangga yang tenang, sedangkan jika menengok kebelakang barisan pegunungan Himalaya dan ashram-ashram berpadu-padan satu sama lain. Subhanallah, disinilah aku sekarang berdiri, ditempat yang menenangkan hati dan fikiran, bahkan ditempat yang tidak terdapat dalam list tempat yang harus aku kunjungi.    

Puas berlama-lama ditemple ini, kami memtuskan untuk melihat temple yang kedua yang letaknya tak jauh dan hanya berjalan kaki beberapa langkah untuk menuju kesana, dialah Swargashram Temple. Agak sedikit berbeda dengan temple sebelumnya, disini tak ada petugas untuk menitipkan sepatu/sandal. Sepatu dan sandal dari semua ukuran dan jenis berserakan tanpa tuan, memasuki lantai pertama temple, orang-orang seperti melepas lelah, duduk lesehan dan bercengkrama bahkan kulihat beberapa bersenda gurau, sementara para dewa dan dewi berdiri mematung dan tersenyum seperti menyambut kami yang langsung naik kelantai berikutnya. Meskipun typical temple ini sama yaitu setiap temple, lagi-lagi terdapat toko souvenir, tapi disini kami tidak menemukan fake pandit bahkan temple ini terkesan sepi pengunjung. Hanya beberapa orang saja yang datang dan membunyikan lonceng bahkan disalah satu lantai tak ada orang sama sekali, kalaupun ada hanyalah sesosok makhluk setengah mati alias sedang tidur dengan tenang dan menghadap sang dewa yang tegak berdiri mematung dan tak bergerak.

Berbekal sedikit informasi dari dua orang bule Australia yang kami temui di Namaste Café, maka destinasi kami selanjutnya adalah menyusuri sungai Gangga dan melihat upacara Aarti, upacara penghormatan untuk Dewi Gangga, yang katanya diadakan setiap petang. Evan, mewanti-wanti jika ingin melihat full ceremony, setidaknya kami harus ada dilokasi sekitar jam lima, jika terlambat maka dijamin kami tak kebagian tempat duduk dan upacara hampir selesai. Tapi waktu baru menunjukkan jam tiga, kemana kami harus pergi? Masih ada sisa dua jam, sambil berjalan akhirnya kami tahu kemana kami harus pergi, The Beatles ashram, adalah destinasi kami berikutnya.

Kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana karena perjalanan diperkirakan hanya memakan waktu tiga puluh lima atau empat puluh menit saja. Aku semangat, begitu pula Nicole dia tak pernah cape berjalan, yang lara tentu saja Amal, mekipun dia tidak berkata tapi kami bisa membaca dari mimik mukanya. Kadang-kadang kami berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas dan duduk menikmati sugar cane juice yang banyak dijajakan ketika summer tiba. Hanya Rs 10, untuk segelas sugar cane yang manisnya bukan kepalang, membuat cadangan gula dalam tubuh bertambah dan siap digerakkan. Tapi Amal tetap lemas, dia bahkan tak menghabiskan sugar cane juicenya, entah mengapa dengan dia padahal biasanya dia penyuka makanan manis dan asin. Tapi kami terus berjalan, walaupun Amal tertinggal jauh dibelakang.

Berjalan melewati Swargashram Trust, salah satu temple yang juga cukup banyak dikunjungi umat Hindu, kami menjumpai begitu banyak pengemis dengan “seragam” orange dan berambut gimbal, keadaan mereka kadang menimbulkan ironi karena umat yang berkunjung ke Swargashram tampil bersih dan rapi, para wanita bersahaja dengan sari yang berkilauan, tapi lihatlah para pengemis yang berada tak jauh dari temple tersebut, jangankan rapi dan bersih, aku mempertanyakan apakah mereka mandi atau tidak?

Melewati Swargashram kami terus menyusuri jalanan yang menukik ke bawah, bunyi lonceng keras dan cukup lama terdengar saling bersahutan, rupanya ada dua temple disana dan ya ampun, ternyata lebih banyak pengemis disini, jika di Swargashram hanya terdapat pengemis laki-laki, maka pengemis disini adalah perempuan, anak-anak, kakek, nenek bahkan kulihat ada satu keluarga full mengemis, tragis… Mereka memanggil-manggil kami berharap mendermakan rupee, tapi jumlah mereka terlalu banyak, bayangkan saja jalanan menuju Ram Jhula bridge ini hanya dihiasi pengemis disisi kiri dan kanan!!! 

Mendekati Ram Jhula, jalanan penuh sesak dipenuhi penduduk lokal dan para pelancong, suara keras dari pemilik warung makan dengan brand “Chotiwala” seakan semakin membuat ribut suasana. Sekilas kulirik restoran ini, ternyata ada hal lain yang menarik perhatian pengunjung yang rela berdesakan, yaitu seorang laki-laki yang duduk mematung diatas kursi yang dijunjung tinggi dengan makeup menyerupai patung yang terletak disudut restoran. Fisik sang “patung” pun jenaka dengan perut buncit dan rambut dikuncir satu, dia mirip seperti jin yang ada di film-film kartun. Tak pelak hal ini yang membuat sedikit “kemacetan”, karena mereka ingin mengabadikan sang Chotiwala yang kadang-kadang terlihat ramah dengan menjabat tangan pengunjung dan tersenyum walaupun terlihat jelas diwajahnya dia kelelahan, bahkan bedak tebal yang menutupi permukaan wajah dan lehernya kulihat hampir meleleh oleh keringat bercampur panasnya cuaca disiang hari ini.

Ada dua persimpangan ketika kami sampai diujung jalan, kekiri adalah Ram Jhula bridge dan kekanan adalah jalanan besar dengan bazaar, yang lagi-lagi dipenuhi pejalan kaki. Kami melihat sebentar Ram Jhula dan berbalik arah menuju jalanan bazaar tadi yang menurut bible-nya Nicole adalah jalanan menuju Beatles ashram. Bazaar lebih banyak dan semakin merapat sementara dibelakang sana Gangga River mengalir dengan derasnya. Jika di Laksman Jula tidak terlalu banyak tempat untuk menikmati sungai Gangga, maka disini, disepanjang sungai Gangga dibangunlah tembok-tembok untuk duduk-duduk, juga ada gate khusus untuk wanita, selain itu tempatnya cukup bersih. Bahkan untuk kawasan diselenggarakannya upacara Aarti dijaga oleh seorang petugas berseragam. Aku yang bertanya apakah boleh masuk kedalam sebelum upacara berlangsung sekedar mengabadikan Dewa Vishnu yang duduk tersenyum dan Hanuman dengan dada terbuka, hanya dijawab singkat oleh petugas, “Six o’clock Madam” katanya sambil menggembok kembali pintu pagar besi tersebut.

  • view 25