Incredible54

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 06 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

3.9 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible54

Incredible54

 

Tentang Beas   

 

                Aku berada dijok belakang duduk diantara Didi dan Mama Bhaiya ketika menikmati pemandangan orang-orang berjalan memenuhi kawasan yang disebut Beas. Jika melihat Beas seakan kamu tak akan percaya sedang berada di India. Tak ada sapi beserta kotoran-kotoran yang biasanya bertebaran dimana-mana, tak ada anjing kotor yang sembarangan tidur di trotoar, tak ada sampah yang biasanya menjadi salah satu pemandangan, semuanya tak ada. Yang ada hanyalah pohon-pohon hijau besar nan rindang, tong-tong sampah yang tertata rapi, rumah-rumah bercat merah bata dan jalanan yang mulus dan tak berlubang, its totally green and clean.

 

Banyak ashram yang sedang dibangun, nampak para pekerja sedang sibuk dengan adukan pasir, semen dan batu batanya. Entah berapa luas kawasan Beas ini, yang jelas selain ashram, Beas juga mempunyai public service seperti rumah sakit, terminal bis yang menghubungkan Beas dengan kota-kota lain di Punjab, pasar dan bahkan mereka mempunyai lahan yang dikelola dan menghasilkan bahan makanan untuk konsumsi sehari-hari. Ada juga dapur umum dimana kamu bisa makan sekenyang-kenyangnya, as much as you can…

 

Dari semua yang ada sudut yang paling aku suka adalah tempat ini, tempat dimana Mama Bhaiya bekerja. Mama bekerja di toko buku dan bersebelahan dengan toko buku adalah kios-kios kecil yang cantik seperti toko pernak-pernik souvenir, foto studio dan yang lainnya, semuanya rapi dan bersih, kalaupun ada sampah hanyalah daun-daun yang berjatuhan karena tiupan angin. Sisi lain dari Beas adalah jika biasanya masyarakat India saling menyapa dengan “Namaste”, “Namaskar”, atau lebih spesifik di Punjab dengan kalimat “Shat Shri Akal”, maka di Beas mereka saling menyapa dengan kata “Radhasoami”.

 

Tidak seperti ditempat lain di India yang “kurang ramah”, di Beas sepertinya setiap orang bersedia membantu bahkan menawarkan bantuannya untuk menolong dan tahukah kawan yang lebih mencengangkan aku dan membuat aku tidak percaya, bahwa semua yang bekerja disini tidak mendapatkan upah, termasuk papa dan mama bhaiya. Papa yang bekerja sebagai office manager dan mama yang bekerja dibookshop hanya mendapatkan fasilitas rumah sederhana selebihnya mereka bekerja secara sukarela. Namun fikirku mereka pasti mendapat subsidi dari pemerintah karena kotanya jauh lebih bagus dari kota yang lain, jalanan lebih mulus dan perawatan fasilitas umum pasti jauh lebih mahal karena kulihat kebersihan amat sangat terjaga disini, ternyata tidak juga kawan. Bahkan menurut Bhaiya kota ini dikelola secara mandiri oleh para penduduk tanpa sedikitpun campur tangan dari pemerintah.

 

Jika kau lihat taman-taman yang rindang nan hijau maka tak perlu ditanya siapa yang merawatnya, ada penduduk yang tanpa diminta akan memotong rumput dan mempercantik taman tersebut, lihatlah “polisi-polisi” berbaju putih itu, itupun polisi sukarela tanpa bayaran, begitu juga para “Guide”, semuanya serba sukarela, tak ada nilai untuk membayar mereka. Kenyataan ini membuat aku bertanya pada diriku sendiri, inikah wujud dari spiritualiatas?

  • view 19