Incredible53

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 06 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.1 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible53

Incredible53

 

May 26th, 2013

Beas

 

Meet The Master

               

                Kami kembali ke Chandigarh hari kamis malam. Hanya dua hari kami bekerja, Jumat dan Sabtu kemudian libur lagi hari Minggu. Bosan dan homesick melanda di bulan April. Ingat Jatin Gupta? My Indian friend, yang merekomendasikan aku bermalam di Palampur? Ya, lewat situs pertemanan, akhirnya kami berteman baik. Dia memberikan aku solusi untuk mengatasi kebosanannya. Dia menawarkan aku untuk menghadiri lecture spiritual di ashram Beas. Lecture spiritual? Apa maksudnya? Tapi aku harus sabar menunggu kapan “The Master” akan memberikan lecture-nya. Konon kabarnya lecture ini dihadiri tak hanya oleh orang India sendiri tapi juga para turis dari berbagai negara. Lecture memang berbicara tentang spiritualisme tapi itu tidak terbatas oleh dinding agama, pemeluk agama apa saja boleh datang menghadiri lecture dan menginap di hostel yang sudah disediakan oleh fihak ashram, tapi tentu saja dengan beberapa ketentuan.

 

Saking banyaknya peminat akan lecture ini, fihak ashram kini membatasi bahwa foreigner hanya bisa menghadiri lecture ketika winter, sementara sekarang adalah summer. Dan untungnya orang tua temanku ini tinggal di ashram, tapi meskipun begitu tetap saja mereka tidak bisa sembarangan menerima tamu, apalagi orang asing.

 

Karena usianya yang lebih tua, aku terbiasa memanggil Jatin dengan panggilan bhaiya, sebutan untuk kakak laki-laki di India. Sabtu jam sebelas siang Bhaiya mengabari aku bahwa dia sedang berada di Beas karena ayahnya sedang sakit dan harus mengantarnya ke dokter. Tak hanya itu dia juga memberitahu aku bahwa esok hari sang Master akan menyampaikan lecturenya. Karena hostel ashram saat ini tidak menerima kedatangan foreigner maka bhaiya mem-booking-kan hotel untuk ku tak jauh dari ashram. Dia pun mewanti-wanti aku agar membawa Indian dress termasuk chuni (selendang yang biasa disampirkan dipundak). Pertanyaan mengapa aku harus mengenakan Indian dress hanya dijawab bahwa dia akan menerangkannya nanti. Aku menurut saja, kumasukkan Punjabi suit koleksi ku kedalam bagpack dan berangkat meninggalkan Ropar menuju Beas.

 

Perjalanan Ropar-Beas memakan waktu sekitar tiga setengah jam, searah jika kita menuju Amritsar. Dengan mengikuti petunjuk Bhaiya aku merasa tak akan tersesat karena rute yang aku lewati adalah rute yang sama ketika aku, Ha dan Salma pergi ke Golden Temple. Selain dari itu di Punjab, Beas juga terkenal dengan sungai nya dan Radha Swami Satsang, aku pun merasa aman dan riang gembira dengan perjalanan ini, meskipun temperature diluar diperkirakan 46 derajat yang membuat keringat tak henti berjatuhan dan bus yang aku tumpangi adalah bus non AC.

 

Ada hal baru ternyata yang aku temui di Punjab ketika summer datang, bus-bus kadang berhenti sejenak ketika sekumpulan anak muda naik dan memasuki bus kemudian memberikan air dalam gelas-gelas silver itu kepada para penumpang. Air dingin yang disajikan begitu menggoda selera, tak hanya air mineral saja kulihat juga ada yang berwarna pink, mungkin semacam sirup, tapi aku tak tergoda, aku takut sakit perut.

 

Jam setengah enam aku tiba didepan gate Beas Hospital dan mengabari Bhaiya bahwa aku sudah sampai. Tak lama dari kejauhan dia datang terengah-engah.

 

Dari situ dia mengantar aku ke hotel untuk menginap dan kami berbicara panjang-lebar tentang apa yang terjadi selama ini, aku tak canggung menceritakan semua yang terjadi selama empat bulan “hidup” di India, tentang sekolah, cerita tentang para intern, Indian stuff dan lain sebagainya, semuanya. Aku seperti menemukan tempat yang aman untuk aku berbicara, tertawa dan berkeluh kesah. Tak ada yang aku tutup-tutupi dari dia toh dia tahu yang sebenarnya karena dia seorang Indian, yang tahu persis karakter bangsanya seperti apa. Kami berbicara sambil menikmati mie goreng hingga maghrib tiba. Dia pamitan pulang ketika aku akan menunaikan shalat. Dia berjanji untuk menjemputku besok pagi dan mengingatkan aku untuk memakai Indian dress ku.

 

Jam setengah tujuh, handphone kecilku berdering dan dengan riang gembira aku menyapa Bhaiya-ku, tapi ternyata yang bersuara diujung sana adalah perempuan. Oh rupanya Didi (panggilan untuk kakak perempuan) yang berbicara. Dialah sang istri yang memberitahu aku bahwa mereka akan menjemput dan menyuruh aku untuk bersiap-siap. Aku yang sudah bersiap dari jam enam hanya menunggu beberapa saat ketika pintu diketuk. Tampak pasangan suami istri tinggi besar ini tersenyum menyapa pagiku. Didi merubah letak chuniku yang tadinya kusampirkan di pundak kiri menjadi dikepala, menutupi semua jilbab pink-ku. Aku tak bereaksi apa-apa hanya tersenyum saja ketika dia berkata, “Now you’ll be an Indian for three hours”.

 

Lecture akan dimulai jam setengah sembilan tapi Bhaiya begitu pagi menjemputku, dan aku tahu alasannya mengapa ketika mobil yang dikendarainya memasuki kawasan ashram. Di sepanjang jalan raya menuju ashram banyak “polisi” yang berjaga dan siap mengarahkan para pengemudi. Mengapa aku memberi tanda petik pada kata polisi tersebut, karena aku melihat perbedaan dari polisi India pada umumnya. Biasanya polisi India berseragam cokelat muda dan bertopi juga memegang pentungan, tapi “polisi” yang aku temui kali ini hanya berseragam putih-putih, mengenakan rompi oranye dan berbekal wistle.

 

Tak hanya “polisi” yang bertebaran dimana-mana, dari kaca mobil aku melihat para pemuda tanggung usia dua puluhan juga ikut berjaga-jaga dan dileher mereka menggantung ID Card bertuliskan “GUIDE”. Aku semakin terpana ketika mobil benar-benar memasuki kawasan ashram, Ya Allah, lihatlah diluar sana, puluhan bahkan ratusan manusia mengular memasuki ashram, semua petugas ikut sibuk. Keterpanaanku terhenti ketika mobil berhenti disebuah rumah bercat putih dan merah bata yang sunyi senyap. Inilah rumah orang tua Bhaiya, tak ada siapa-siapa, kulihat hanya seorang perempuan muda sedang bersih-bersih.

Didi langsung membawaku kelantai atas dan “menyembunyikan” aku satu ruangan kamar. “Are you okay to stay here?” tanyanya dan aku hanya mengangguk saja meskipun sedikit kebingungan. Pintu, jendela dan gorden ditutup rapat-rapat padahal aku ingin melihat pemandangan hijau diluar sana. Tak lama berselang Bhaiya membawakan segelas mango shake yang membuat mataku berbinar. Segelas mango shake belum selesai aku minum, Bhaiya sudah membawakan aku gelas yang kedua, dan gelas yang kedua belum selesai dia sudah membawa gelas yang ketiga. Tak hanya itu kawan, dia juga membuatkan aku toast, oh sungguh pagi yang membuat aku kekenyangan, tak hanya satu tangkup toast tapi dua toast. Bayangkan betapa kenyangnya aku dengan tiga gelas mango shakes dan dua tangkup toast mengisi perutku dipagi hari.

 

Iseng-iseng ketika dia pergi aku membuka gorden dan jendela dan melihat kearah luar. Diluar sana begitu hijau dan bersih, begitu berbeda dari pemandangan India yang biasanya semrawut dan maaf, kotor dan jorok. Dari belakang punggungku Bhaiya mengingatkan aku untuk tidak melihat terlalu lama keluar sana dan membuka jendela lebar-lebar. “Don’t take too long, otherwise somebody will notice there is foreigner inside this house”. Bhaiya yang seperti mengetahui bahwa aku masih ingin berlama-lama melihat pemandangan diluar sana, dia membukakan pintu dan membiarkan aku melihat lebih jelas dan terbuka, tidak seperti mengintip dari jendela, tapi itupun hanya sebentar karena tak lama kemudian dia mengajakku turun.

 

Seorang wanita berpenampilan sporty dengan Punjabi Suit berwarna biru laut tersenyum kepadaku, “This is my mom”, ujar Bhaiya. Aku hanya mengucapkan halo dan kemudian mengikuti mereka keluar menuju garasi mobil. Dijok depan, duduk seorang bapak tua bertopi dan berkemeja kotak-kotak memegang tongkat. Sejenak dia menatap dingin kearahku dan berpaling. Mungkin dia ayah Bhaiya, fikirku. Mobil meninggalkan rumah dan berputar arah menuju area utama. Dan sekarang aku semakin terpana. Jika sebelumnya aku hanya melihat puluhan bahkan ratusan manusia, kini aku melihat mungkin ribuan manusia berduyun-duyun diluar sana.

 

Petugas “polisi” maupun “GUIDE” terlihat semakin sibuk menertibkan mereka, antrian terlihat dimana-mana, mobil-mobil sudah terparkir dengan rapi dan halaman parkir penuh sesak. Ketika mobil sudah terparkir kami semua turun, kini bapak tua itu kembali melihat kearahku, aku mencoba tersenyum dan dia berkata seperti mengabsen “Papa, mommy, son, daughter in law, guest”, yang terakhir dia menunjuk kepadaku, sekarang dia menyungging senyum di bibirnya.

 

Kami berpisah diparkiran mobil karena kabarnya antara laki-laki dan perempuan duduk terpisah. Memasuki ruang inti, kini para “panitia” kulihat jumlahnya lebih banyak, karena aku memasuki area perempuan maka para perempuan dengan name tag sudah berdiri sejak awal memasuki area luar gedung hingga duduk kedalam. Bhaiya mengingatkanku untuk memegang erat-erat passportku, just in case, mereka mengenaliku sebagai foreigner, sebelumnya didalam aku diberi tahu jika ditanya aku berasal dari mana, maka aku harus menjawab bahwa aku berasal dari Nizarom, salah satu kota di India Utara.

 

Bagaimana mungkin aku mengaku orang India sementara aku tak bisa bahasa Hindi, hanya sedikit yang aku tahu tentang bahasa ini, “Don’t worry they cannot speak Hindi as well”, ujar Bhaiya seolah “mengamankan” penyamaranku.

 

Aku lolos dari “pemeriksaan”, pasti ini berkat kulitku yang makin gelap hari demi hari. Bayangkan saja panas matahari yang garang telah membuat kulitku yang typical Indonesia, sawo matang, menjadi sawo hitam hahahaha. Jika aku membuka jilbabku, maka terlihatlah perbedaan kulit yang ditutupi dan yang tidak, seperti topeng. Begitulah India di kala summer kawan, ganas membakar kulit. Aku duduk disebelah Didi dan diantara ribuan manusia lainnya, entah berapa orang yang memadati tempat ini.

 

Tempatnya sendiri mirip stadion, ada stage khusus, mungkin untuk sang Master menyampaikan lecture-nya. Sementara para jamaah yang terus berdatangan duduk lesehan dibawah dengan menggunakan bantal-bantal putih berbentuk bujur sangkar yang sudah disediakan panitia. Panitia juga mengarahkan dimana kita harus duduk ketika memasuki area utama. Seketika kita memasuki area ini kita tidak boleh berbicara satu sama lain. Suasana begitu tertib, yang terdengar hanyalah kidung yang diikuti oleh para jamaah. Aku menyapu sekelilingku, semua wanita yang hadir menutup kepala mereka dengan chuni nya sambil tetap khusuk mengikuti syair-syair yang dikumandangkan oleh seorang laki-laki di tengah-tengah sana.

 

Tepat jam setengah sembilan seperti yang dijadwalkan, kidung berhenti dikumandangkan, hadirin semakin sunyi dan screen monitor seukuran dengan dinding panggung mulai dinyalakan. Masuklah dua orang pria dari balik tirai biru, seketika para jemaat menangkupkan tangannya dan menunduk. Dua orang pria tersebut berpakaian serba putih-putih yang satu dengan turban dan berjanggut panjang sedangkan yang satu lagi mengenakan peci mirip peci Jawaharal Nehru dan tanpa janggut. Suasana hening, semua orang seperti bersiap sedia mendengarkan sabda sang Master.

 

Sang Master berwajah tenang, tinggi langsing dan proporsional untuk ukuran seorang Sikh yang biasanya tinggi besar, kutaksir usianya sekitar lima puluhan sedangkan yang berpeci Jawaharal Nehru kutaksir berbeda sepuluh tahun lebih muda dari Sang Master. Sayangnya lecture disampaikan dalam bahasa Punjabi dan aku tak mengerti sama sekali apa yang dia bicarakan. Sesekali sang Master berhenti dan bapak berpeci Jawaharal Nehru mengumandangkan kidung dan dia meneruskan kembali lecture nya, begitu seterusnya hingga lecture berjalan satu setengah jam.

 

Karena tidak ada ide apa yang sedang dia sampaikan, jujur aku setengah mengantuk dan hampir tertidur. Hanya dua kata yang aku dapat aku tangkap dari lecture tersebut yaitu “computer” dan “program”, tapi apa hubungannya dengan spiritualitas ya?  Aku gregetan ingin bertanya tentang apa yang dia sampaikan kepada Didi yang duduk tepat disampingku, tapi mana bisa? Sebelum memasuki area ini dia sudah mengingatkan bahwa kita tidak diperkenankan berbicara selama lecture berlangsung.

 

Dan tepat jam sepuluh lecture selesai, dia kembali menangkupkan tangannya dan menunduk kepada para hadirin sebagai tanda dia pamitan dan meninggalkan stage, begitu juga para hadirin membalas dengan hal yang sama. Serentak para hadirin berdiri, mungkin ingin bersalaman dengan dia seperti layaknya fans yang bertemu dengan idola, tapi fihak panitia sepertinya jauh lebih tanggap, bahkan tirai tiba-tiba ditutup ketika jamaah perempuan termasuk aku dan Didi sudah berdiri dan bersiap untuk keluar.

 

Begitu tirai dibuka, tak terlihat lagi kemana Sang Master pergi, mungkin dia sudah diamankan. Dan begitu aku melangkah keluar meninggalkan tempat ini, aku melihat ribuan orang layaknya bubaran shalat Ied, bagaimana tidak, banyak dari mereka baik laki-laki dan perempuan berpakaian baju putih-putih bahkan jamaah perempuan menutup kepala mereka dengan chuni-nya, persis seperti kerudung meskipun tanpa peniti dan pernak-pernik dikepala mereka. Sepertinya mereka berduyun-duyun datang dari desa maupun kota hanya untuk menghadiri lecture sang Master yang hanya berdurasi satu setengah jam.

 

Mereka yang datang tak hanya bermobil, bersepeda motor, berjalan kaki, tapi juga menginap dan membawa “perbekalan” mereka dengan ciri tas-tas besar yang dibawa oleh mereka layaknya bepergian untuk beberapa hari. Bahkan menurut Bhaiya, sebagian diantara mereka ada yang datang paling awal sekali (sekitar jam enam pagi, padahal lecture dimulai jam setengah sembilan) hanya untuk duduk di shaf paling depan demi untuk mendengarkan dan melihat wajah sang Master. Jikalau boleh dianalogikan mungkin Sang Master adalah dai kondang sejuta umat yang banyak diidolakan masyarakat Indonesia.

 

Seusai lecture kami semua kembali kerumah, Bhaiya terlihat terburu-buru mengemudikan mobilnya, sesampainya di rumah dia menyuguhkan aku coke dingin, chips, dan buah melon yang segar dari refrigerator, mereka semua adalah hal terbaik ketika udara panas melanda. Semua orang sibuk berlalu-lalang didapur dan menyuguhkan aku makanan, sementara aku sibuk mengamati laki-laki yang tak jauh berada dihadapanku, aku ingin berbincang dengannya tapi sepertinya dia terlalu lelah lagipula dia baru pulang berobat dari dokter setelah dua kali terjatuh.

 

Laki-laki itu tak lain adalah Papa Bhaiya, sebagai pensiunan tentara angkatan udara dimataku dia terlihat tender padahal menurut Bhaiya justru sebaliknya hahahahaha dan aku merindukan sosok itu, sosok ayahku.

 

Lamunanku seketika memudar ketika Bhaiya menyuruh aku dengan cepat menghabiskan makanan dan beranjak masuk kedalam mobil, mengapa terlalu cepat pergi, fikirku, aku ingin berbincang dengan lelaki itu, tapi aku tak kuasa menolak. Semua orang sudah berdiri di pintu dan aku hanya berdiri didepan lelaki itu, menatap matanya dan berkata, “Nice to meet you”, dia sepertinya tak menangkap maksud perkataanku, aku mengulanginya kembali, “Nice to meet you”, dia masih tidak bereaksi sampai Didi mendatangi kami berdua dan berkata kepada Papa dalam bahasa Hindi, sekarang dia mengangguk-agukan kepalanya. Didi masih berbicara dalam bahasa Hindi ketika aku menangkap maksud pembicaraannya bahwa aku sudah menganggap bhaiya sebagai kakakku sendiri, laki-laki itu menepuk-nepuk bahuku sambil berkata, “Daughter, daughter”, aku menatap matanya dan harus mengucapkan selamat tinggal. Oh aku benar-benar merindukan dia, ayahku dibelahan dunia sana.

 

Kami meninggalkannya seorang diri ketika semua orang menuju tempat masing-masing, Mama menuju bookshop, Didi juga ternyata bekerja dikawasan ashram, dan Bhaiya mengantarkan aku menuju bus stand. Hari ini aku mendapati keluarga yang lengkap, Papa, Mama, Bhaiya dan Didi adalah bagian cerita hari-hari di India yang menjadi pelipur lara dan obat kangenku pada sebuah kata “keluarga”.

  • view 29