Incredible51

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 06 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.1 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible51

Incredible51

 

“Bhaiya”  style

 

                Empat bulan di India, aku sudah mulai bisa mengerti beberapa kosa kata. Kata “bhaiya” yang mempunyai arti khusus saudara laki-laki yang lebih tua (kakak) juga mempunyai arti umum yaitu untuk sebutan untuk para lelaki diluar sana mulai dari bhaiya auto, bhaiya kondektur, bhaiya mango shake, bhaiya waiter, dan masih banyak lagi. Memanggil “bhaiya” di India seperti halnya memanggil abang atau mas di Indonesia. Ada abang bakso, abang somay atau abang tukang parkir.

 

Seharian ini kami sudah bersama, tak ada lagi kecanggungan diantara kami sekarang. Sejenak kami melupakan semua prangka buruk kami kepada mereka. Kini, kami sudah bisa tertawa dan share air mineral bareng-bareng. Dan sekarang kamipun mulai mereka yang sesungguhnya. Mereka mulai ngebut dan menaikkan volume tape mobil. Hadeuh, cape dech…

 

Sesekali mereka berhenti dan menanyakan kepada semua bhaiya dijalan mulai dari bhaiya yang parkir, bhaiya yang sedang minum chai dan bhaiya auto adalah yang paling sering ditanyai. Dan percayakah kawan, dari semua bhaiya yang ditanya mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda, hahahaha. Mereka yang asli orang India saja bingung, apalagi kita. Bahkan Babar sempat bertanya kepada satu orang bhaiya yang naik sepeda motor dan sedang minggir dipinggir jalan. Yang lucunya, si bhaiya yang ditanya tak bisa memberikan jawaban karena dia sendiri tersesat. Wakakakakak.

 

Selain memberikan jawaban berbeda-beda, sang bhaiya juga mempunyai gesture yang hampir sama yaitu membolak-balikkan tangannya, menunjuk arah yang tidak jelas anatara kanan, kiri, depan, belakang bahkan ke atas. Kami yang menyaksikannya tertawa terpingkal-pingkal. Mana ada arah jalan keatas, mau ke langit? Kami semakin terpingkal-pingkal. Kamipun make fun dengan para bhaiya itu, Harpreet memelankan mobilnya, dan membiarkan kami bertanya, mereka menjawab dengan gesture nya, kemudian kami tertawa terbahak-bahak bersama.      

 

Hampir jam setengah enam kami sampai disana. Dan satu tempat yang dari tadi kami tanyakan kepada para bhaiya adalah Qutub Minar. Yup, kini kami sudah ada didepan Qutab Complex.

 

Berada disini, kami menjadi saksi kembali kegemilangan kejayaan dynasty Islam di India. Seperti biasa kami disambut oleh Mughal Garden yang asri. Ada beberapa spot ketika kami masuk selain Mughal Garden yaitu Mughal Mosque dan Mughal Sarai. Terus berjalan diantara rindangnya pepohonan, sampailah kami disuatu prasasti yang berisi map construction Qutub Minar.

 

Qutub Minar dibangun pada akhir abad ke-12 oleh Qutbudin Aibak. Menara yang terdiri dari lima tingkat ini ternyata dikerjakan oleh setidaknya tiga orang. Pembangunan minar ini sempat terhenti ketika Quthbudin meninggal dunia dan menyelesaikan tingkat yang pertama. Pembangunan tiga tingkat minar selanjutnya kemudian diteruskan oleh Iltutmish, atau yang lebih dikenal dengan nama Altamash pada tahun 1230. Pada tahun 1368 menara ini sempat disambar petir dan mengalami kerusakan. Adalah Firuz Shah Thugluq yang menyelesaikan pembangunan minar ini dengan meletakkan tingkat paling atas. Qutub Minar layaknya menara gigantic dan berdiri menyentuh langit. Semakin keatas dia semakin mengecil.

 

Pada tahun 1503 untuk kedua kalinya minar itu tersambar petir dan Sikandar Lodi lah yang kemudian memperbaikinya. Dengan tinggi 238 ft dan 379 lantai, Qutub Minar menjadi menara tertinggi di India meskipun ternyata hanya berbeda 5 ft dari Taj Mahal (243 ft). Sayangnya kini pengunjung tidak diperbolehkan untuk masuk kedalamnya. Mungkin kita bisa melihat seantero India jika kita berdiri di minar paling atas ya J

 

Semakin kebelakang aku semakin berdecak kagum, bagaimana tidak, pada abad ke-12 para cendekia muslim sudah amat sangat memperlihatkan taji-nya. Didalam Qutab Complex masih ada bangunan lain yang diantaranya College of Alaudin Khalji. Sisa-sisa reruntuhan ruangan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan dan tembok yang berdiri kokoh masih dapat kita lihat. Dan lihatlah tembok-tembok merah bata itu, seperti halnya Qutub Minar hampir semua dinding tembok itu berlukiskan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Quran. Subhanallah…

 

Meskipun lelah tapi puas rasanya kami dengan trip hari ini. Dari Qutab Complex kami menuju India Gate. Kami benar-benar menghabiskan hari ini menikmati Delhi dari pagi hingga malam. Kami melepas lelah dengan lesehan dan makan es krim di pekarangan India Gate. Untuk yang kedua kalinya aku menghabiskan malam menatap India Gate.

 

 

May 22nd, 2012

 

                Hari kedua di Delhi kami berlima sudah semakin akrab dan mereka benar-benar meng-host kami. Sekarang hilang sudah semua kecurigaan kami. Kami memulai pertemanan kami dengan lebih banyak mengobrol dan tertawa. Dari Amal kami tahu kalau ayah Harpreet senang mengetahui ada tamu di apartemen mereka, terlebih tamu itu berasal dari tiga negara yang berbeda. Aku tak sengaja memperhatikan Harpreet yang sejak dari tadi selalu mengangkat telepon dari seseorang dan “melaporkan” kami sedang berada dimana.

 

Harpreet bercerita konon ayahnya pula yang berpesan agar Harpreet menjamu kami dengan sebaik-baiknya, termasuk menanggung semua hal selama trip kami. Bayangkan, kami benar-benar tidak mengeluarkan sepeserpun untuk trip ini. Kami benar-benar cuma bawa badan teman. Harpreet dan Babar selalu menolak jika kami ingin membayar apa yang kami beli. Bahkan ketika air mineral kami sudah mau habis, Harpreet akan buru-buru membelikannya untuk kami. Oh teman, kami merasa bersalah sudah suudzan diawal.        

 

Tadi malam, Harpreet dan Babar berkata bahwa hari ini kita akan main-main ke tempat rekreasi. Tak ada tempat bersejarah, kami hanya akan bersenang-senang saja, begitu kata mereka. Menyusuri Noida, Babar menunjukkan kampusnya, Amity University. Kawasan elit ini seperti kota mandiri yang banyak berkembang di Indonesia. Apartemen, rumah sakit, super market, sekolah-sekolah elit dan kampus-kampus yang banyak berseliweran iklannya di televisi, termasuk kampus Babar.

 

Sepanjang perjalanan Harpreet menunjukkan gemerlap Uttar Pradesh termasuk bangunan-bangunan pusat kota yang belum dan sengaja tak diselesaikan karena sang penguasa sudah lengser keprabon. Akhirnya gemerlap pilar-pilar di Uttar Pradesh itupun terbengkalai begitu saja. Korupsi, adalah masalah yang sama yang terjadi dinegara berkembang. Babar, bahkan bercerita kalau dikampusnya ada seorang mahasiswi yang setiap datang ke kampus ditemani beberapa bodyguard. Sang mahasiswi tak lain adalah anak salah satu politikus terkemuka di Uttar Pradesh. Korupsi di India memang bisa terjadi pada siapa saja, “Kalian fikir Salman Khan, Kareena Kapoor, dan sederet bintang Bollywood lainnya tidak memberikan sejumlah uang untuk menjaga keamanannya sebagai seorang artis?” Entah itu benar atau tidak apa yang dikatakan Harpreet. Seperti halnya di Indonesia, politikus India juga gemar menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri dan sebagian lainnya dibelanjakan untuk membeli asset di luar negeri.      

 

Kami berbicara agak “berat” pagi ini didalam mobil, tentang politik! Tunisia, salah satu negara di North Africa ini juga ternyata tidak terbilang stabil. Baru-baru ini terjadi revolusi hebat tentang pergantian tampuk kepemimpinan. Mendengar cerita Amal seperti melihat kembali Reformasi yang terjadi di Indonesia tahun 98. Revolusi ini bahkan menurut dia berimbas kemana-mana, termasuk kedalam dunia pendidikan. Beberapa kebijakan undang-undang ingin mereka ganti. Dan dalam masa transisi itu Amal kebingungan untuk meneruskan kuliah masternya, orang tuanya sempat berfikir untuk menyekolahkan dia di negara-negara Asia Tenggara. “Maybe I can go to your country, I heard there are some good university there”, ujar Amal sambil melihat kepadaku.

 

Dalam pandangan kami berlima, mungkin hanya Nicole yang mempunyai cerita “bahagia” tentang negaranya. Rakyat sangat puas dengan kinerja Angela Markel, sang Perdana Mentri perempuan. Dia kabarnya membuat kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Pemimpin di Jerman kabarnya tak akan dipilih jika dia terlibat korupsi dan anehnya menurut dia, tak ada yang korupsi. Semua rakyat berkesadaran untuk memajukan Jerman salah satunya melalui peningkatan kualitas pendidikan. Saat ini Jerman tengah mempelajari dan mengembangkan system pendidikan yang diterapkan di Finlandia. Dalam dunia pendidikan Finlandia memang dikenal sebagai negara nomor wahid, bukan rahasia lagi di Finlandia menjadi guru adalah professi yang menjanjikan. Mereka dibayar paling mahal dari professi apapun!

 

Mungkinkah karena politik pula otonomi daerah di Indonesia banyak dikembangkan? Dalam suatu perbincangan ditelevisi, seorang pakar berkata bahwa kelahiran satu kota mandiri akan melahirkan kemiskinan disisi yang lain. Hal itu rupanya tak jauh berbeda dengan Noida, di India. Jika dari tadi kami disuguhi jalanan licin dan gedung-gedung mewah, kini ketika kami mencari Fun World, keadaannya sungguh amat sangat berbeda. Dibelakang gemerlap kemewahan kota, disinilah kami harus melewati rumah-rumah penduduk dengan jalanan rusak dan pedagang asongan yang mendekatkan barang dagangannya kedalam mobil yang Harpreet kendarai. Dan kini kami iseng bertanya kepada semua orang dengan bhaiya style yang membuat kami tertawa kegirangan jika mereka menjawab. Bahkan kini kami benar-benar tertawa terbahak-bahak, ketika bertanya kepada seorang bhaiya kaki lima dimana Fun World. Bhaiya penjual buah berwajah hitam legam itu dengan polos menjawab dua puluh lima rupees, hahahahaha. Inilah bhaiya style yang kedua, yaitu ga nyambung antara pertanyaan dan jawaban. Tapi itulah bumbu perjalanan kami kawan.

 

Setelah berjuang dan bertanya akhirnya kami tiba juga didepan Fun World. Kami bertiga mempunyai fikiran yang sama yaitu kami hanya akan berjalan-jalan dan menikmati semua wahana disini, tapi ternyata kami semua salah besar kawan. Tiba-tiba kami sudah berada dikawasan Water Park! Dan mereka sudah siap berenang dan kami kebingungan. Kami tak membawa baju ganti apalagi baju renang. Tapi hal itu tak menjadi masalah bagi mereka. Mereka mendatangi sebuah toko yang menjual semua keperluan, termasuk baju renang. Mereka bertanya kepada sang penjaga toko baju renang untuk kami bertiga dan dua baju renang khusus untuk aku dan Amal yang berjilbab. Teman, kami semua benar-benar tak enak hati ketika Harpreet langsung membayar semuanya untuk kami. Baju renang dengan kualitas Lycra dan bandrol dibelakangnya membuat kami saling berpandangan. “Come on, don’t waste your time”.

 

Kami akhirnya larut dalam suasana suka cita berenang dikala summer yang terik di India. Kami mencoba semua wahana air dan berteriak sekencang-kencangnya.

  • view 54

  • Mellisa Nasution
    Mellisa Nasution
    2 bulan yang lalu.
    Ya ampun, destinasi yang sudah hampir 2 tahun lamanya direncanain tapi gak pernah kesampean hehehe. Semoga bisa menyusul cerita si mbaknya ke India tahun ini. Keren mbak tulisannya.

    • Lihat 3 Respon