Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 6 Mei 2018   13:10 WIB
Incredible50

Incredible 50

 

May 21th, 2013

Our Guide

 

                Jam 22.45 kami sampai Delhi. Sebenarnya kami gambling dengan rencana ini. Tiba di Delhi hampir tengah malam dan tak tahu akan bermalam dimana. Meskipun kami sudah mempunyai ancer-ancer untuk menginap di rumah teman Amal yang kadang membuat kami paranoid. Bertemu dan menginap di flat yang hanya dihuni dua orang laki-laki tanpa orang tua dan di Delhi! Kami hanya mempersiapkan satu precaution, berteriak!!! Konon kabarnya, inilah tindakan yang paling banyak disarankan jika terjadi sesuatu di Delhi. Meskipun kedengarannya konyol, setidaknya itu sudah terbukti pada kasus Mila dan Shendy.

 

Harpreet Singh, itulah orang yang kabarnya akan menjemput kami di stasiun kereta. Dan di flat dia jugalah kami akan bermalam. Dari namanya saja sudah aku tahu kalau dia pasti berasal dari Punjab dan pasti seorang Sikh. Opsi lain yang kami siapkan jika Harpreet tidak nongol batang hidungnya adalah mencari hotel terdekat didekat stasiun, kami sudah menandai beberapa hotel di bible-nya Nicole.

 

Begitu kereta berhenti, dari jendela kereta aku melihat sekilas seorang cowok yang tengah celingak-celinguk. Kutanyakan pada Amal diakah sosok orang yang akan menjemput kami? Meskipun sebelumnya aku pernah melihat wajahnya melalui facebook, tapi kami harus meyakinkan karena wajah cowok Punjab rata-rata sama. Kami keluar persis dimana si cowok itu berdiri dan dia tidak sendiri! Kami berbicara melalui bahasa “mata”, seolah-olah berkata, “hati-hati, irit-irit suara kalian dan persiapkan suara paling tinggi kalian jika mereka berbuat macam-macam”.

 

Amal “irit” berbasa-basi dengan mereka. Tak seperti cowok Punjab yang biasanya berbicara cowong, aku hanya mendengar lirih suara Harpreet. Kami masih memasang “kuda-kuda”. Apalagi temannya, tak sedikitpun kudengar suaranya setelah dia memperkenalkan diri, Babar. Nama yang aneh! Kedengaran seperti barbar.

 

Mereka menunjukkan jalan untuk keluar dari stasiun. Naik, turun, berbelok dan lurus keluar dari stasiun kereta, kami menjadi saksi orang-orang yang hidup di dalamnya. Kami menyaksikan wanita dengan baju saree tergeletak tidur ditengah jalan yang banyak dilalui orang untuk berjalan. Aku dan Nicole saling menatap, dan ternyata kami mempunyai fikiran yang sama, dia tidak takut diperkosa? Menuju kearah depan stasiun, ternyata jumlah orang yang “tidur sembarangan” tak terhitung jumlahnya. Laki-laki, perempuan, anak-anak, orang dewasa, tua, muda, semuanya menjadi satu. Miris!

 

Tak ada yang berbicara didalam mobil. Kami semua terdiam, hanya alunan musik yang terdengar, itupun tak terlalu hingar bingar, seperti typical Punjabi yang umumnya kutemui. Mobil tetap melaju menembus malam dan meninggalkan Delhi! Kemana kami akan dibawa. Kami semua cermat mengamati setiap tulisan yang tertera di pinggir atau tengah jalan tol yang menunjukkan kemana kami pergi. Noida, itulah papan nama yang aku baca. Setahuku itu di luar Delhi, meskipun jaraknya tak jauh. Dan yang aku tahu, Noida berada di Uttar Pradesh.

 

Kami tiba disebuah gerbang apartemen yang menjulang keatas. Kami tetap berkomunikasi melalui mata kami, mencatat dalam hati apa nama apartemen tersebut. Setelah mobil di parkir di basement, kami melewati beberapa tangga. Terlihat beberapa petugas keamanan yang sedang berkeliling. Kami tetap awas memperhatikan nama blok dan nomor apartemen. Mendadak kami menjadi Charlie Angels.

 

Harpreet dan Babar mempersilahkan kami masuk dan ada satu penghuni yang menyambut kedatangan kami, seekor anjing! Mereka masih tak banyak berbicara, hanya menyuguhkan kami air mineral dingin dan menunjukkan kamar untuk kami beristirahat dan mengucapkan good night. Begitu kami masuk kamar, kami sibuk berbisik-bisik, berbicara mengumpulkan informasi yang kami dapat dan menulisnya diselembar kertas, hahahaha.   

 

Udara yang panas, Agra trip yang melankolis dan kunjungan kami ke pabrik marmer telah membuat kami kelelahan dan tertidur pulas dibawah suhu pendingin ruangan.

 

Jam 10.00 kami sudah bersiap-siap untuk memulai trip kami di Delhi. Kami sudah menyusun tempat-tempat yang akan kami kunjungi dan akan menanyakan rute-rute nya kepada mereka. Kami tak ingin mengganggu jadwal kegiatan mereka dan akan melakukan trip secara mandiri. Tapi diluar perkiraan, mereka berdua sudah dandan rapi sekali dan berkata bahwa hari ini mereka sedang malas untuk memasak, maka kami akan breakfast di fast food.

 

Pagi ini dari Noida kami menuju Delhi. Jalan layang, gerai baju dan tas branded berderet-deret, merek fast food yang juga ada ditanah air saling berdekatan, mobil-mobil mewah terparkir dimana-mana. Delhi yang pagi ini kulihat sungguh berbeda dengan yang kami lihat tadi malam. Harpreet memesan burger dan banyak ayam untuk kami. Aku mulai meng “observasi” penampilan dua orang cowok guide kami. Dia berdandan amat sangat modern, tidak seperti cowok Punjab tradisional pada umumnya. Rambutnya memang panjang tapi dia tidak mengenakan turban. Rambutnya dia sembunyikan dibalik penutup kepala hasil “modifikasi”nya sendiri, slayer hitam dan dia tutup kembali dengan topi, trendy kan, tetap mengikuti aturan Sikh tapi tetap in. Lain lagi dengan Babar, dia mengenakan kemeja putih dan jeans warna coklat muda. Jika Harpreet lebih sporty dengan kaos biru dan sandal gunungnya, Babar jelas berbeda, meskipun terkesan kasual tapi kemeja putih dan sepatu yang dipakainya membuat dia seperti eksekutif muda yang kabur dari tugasnya untuk presentasi.

 

Kami mulai cair, mereka menanyakan rencana kami dan manggut-manggut. Mereka berbicara dalam bahasa Hindi. Cukup lama kami berdiam diri di fast food ini, bahkan Harpreet sempat marah karena burger untuk kami tak diantar-antar. Mereka meminta maaf berkali-kali, sampai sang Manager turun tangan, entah apa masalahnya karena mereka berbicara dalam bahasa Hindi. Sampai akhirnya burger kami datang, kami berpesta dengan junk food ini sampai kekenyangan.

 

Delhi Trip

 

                Kini mereka resmi menjadi guide kami. Merekalah yang tahu rute terbaik untuk itinerary kami. Mereka meninggalkan mobilnya di area parkir pusat kota itu dan mengajak kami menikmati metro sebagai alat transportasi selama trip kami di Delhi.

 

Red Fort adalah destinasi pertama kami. Benteng merah yang ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage Site seakan menyambut kedatangan kami di Delhi. Kibaran bendera India semakin mengukuhkan kegagahannya. Kami masuk melalui Lahore Gate dan terlihatlah wajah India zaman doeloe. Tak heran Red Fort disebut sebagai Cultural and Natural Heritage. Lihatlah toko-toko itu bentuknya vintage sekali. Sayangnya tidak seperti Amber Fort di Jaipur, di Red Fort ada beberapa jalur yang ditutup untuk umum. Sehingga kami hanya bisa menikmati jalanan-jalanan besar saja, tidak leluasa seperti di Jaipur yang bebas berlari kesana kemari hingga ke ruang kecil sekalipun. Beberapa penjaga tampak berdiri memanggul senjata laras panjang, jelas berbeda dengan Amber Fort di Jaipur, dimana petugas nya amat sangat santai.

 

Melihat Red Fort seperti menjadi saksi kejayaan kekaisaran Mughal di India. Shah Jahan, kaisar Mughal kala itu memindahkan ibukota India yang tadinya berada di Agra ke Delhi pada tahun 1638. Dibutuhkan waktu 9 tahun 3 bulan untuk membangun Lal Qila atau Red Fort ini. Pada masa perjuangan menghadapi Inggris, Red Fort juga menjadi pasukan pertahanan militer. Setelah India merdeka pada tahun 1947, Red Fort kemudian berada dibawah naungan Kementrian Pariwisata dan Budaya India untuk memfasilitasi restorasi dari monument ini. Rupaya upaya restorasi ini masih berlangsung sampai sekarang terbukti dibeberapa titik terlihat para buruh yang sedang bekerja dengan alat-alat beratnya.

 

Masih di kompleks Red Fort, kami menyempatkan diri mampir ke Indian War Memorial Museum. Museum ini memamerkan alat-alat yang digunakan rakyat India ketika melawan penjajahan mulai dari peralatan tradisional hingga senjata buatan Jerman. Sayangnya ruangan museum yang tidak terlalu luas, terlalu ramai oleh hiruk pikuknya pengunjung yang bertampang mengambil foto, padahal jelas-jelas terpampang tulisan “NO CAMERA”. Hmm, peraturan dibuat memang untuk dilanggar.

 

Keluar dari museum ini seperti keluar dari pasar. Orang-orang India yang terbiasa berbicara seperti berteriak dan ruangan yang hanya dilengkapi kipas angin di langit-langit membuat kami seperti susah bernafas. Huffff, kami menarik nafas panjang sambil meneguk air mineral dingin, hah segar rasanya.

 

Dari Red Fort kami naik rickshaw menuju destinasi berikutnya. Jika di Chandigarh kami terbiasa dengan autorickshaw atau tuk-tuk, naik rickshaw disini seperti naik angkot di Indonesia. Mereka ngetem dan menunggu para penumpang, berebutan, tawar-menawar dan deal! Tak tega rasanya melihat bhaiya rickshaw itu, dibawah terik matahari summer, kulit hitam legam mereka semakin terbakar dan dengan penutup kepala seadanya mereka membawa kami ketempat yang hanya dua orang guide itu yang tahu, mereka tak membiarkan kami tahu destinasi berikutnya.

 

Kami melewati jalanan besar Delhi yang rapi, terus berjalan sampai akhirnya sekarang kami berada di jalanan yang sempit, mirip seperti pasar. Dikanan dan kiri kami adalah bapak-bapak yang rata-rata berpostur kurus dengan peci haji yang warnanya sudah tidak jelas antara broken white atau memang berubah warna dari putih menjadi kumal. Kios baju, sepatu, selimut, barang-barang kelontong, hingga jajanan pasar adalah pemandangan kami saat ini. Ini sepertinya bukan pasar resmi karena mereka hanya memanfaatkan sisa ruang jalan yang dilewati rickshaw yang lalu lalang. Baju mereka pun terlihat sama yaitu, kurta pajama warna putih. Hanya sedikit wanita yang terlihat dan mengenakan dupatta-nya diatas kepalanya.

 

Rickshaw berhenti tepat didepan seorang kakek dengan tumpukan buku-buku dan tasbih. JAMA MASJID DELHI, itulah kalimat yang kubaca dibelakang sang kakek. Plang berwarna hijau dan aksara yang ditulis dalam Hindi, Arab dan Latin ini kelihatan usang dan digantungi banyak tambang. Mulai dari tambang untuk menyangga terpal sampai menggantungkan lampu bohlam.

 

Inikah masjid termashur peninggalan kerajaan Mughal yang gilang gemilang itu? Aku mengeluarkan kamera ku untuk menjepret Jama Masjid dari luar. Tiba-tiba Harpreet setengah berteriak mewanti-wanti aku. “Hati-hati disini, bisa-bisa orang yang lewat langsung menyambar kameramu”. Hah, sampai segitu nya kah? “Masukkan kembali kamera mu kedalam tas”. Aku masih termenung sambil memasukkan kamera dan memandangi si kakek yang acuh tak acuh menata dagangannya.

 

Aku dan Babar adalah orang yang beruntung siang ini. Sejak memasuki area masjid semua orang diharuskan membuka sepatunya dan bisakah kawan bayangkan berjalan diatas lantai dibawah teriknya matahari summer. Nicole, Harpreet dan Amal terjinjit-jinjit dan setengah berlari memasuki pelataran masjid, sedangkan aku dan Babar melenggang dengan santai. Inilah gunanya kaos kaki, padahal sebelumnya Amal dan Nicole selalu menganggap aku aneh dengan memakai kaos kaki dikala summer. Jarak dari gerbang hingga pelataran masjid memang cukup jauh.

 

Kini kami berdiri didepan masjid dengan pelataran amat sangat luas dan arsitek khas kerajaan Mughal, berwarna merah bata dan menjulang tinggi. Tidak seperti bangunan lain peninggalan Mughal yang kulihat sebelumnya, Jama Masjid kuperhatikan lebih sederhana meskipun tetap megah. Sayangnya sempat terjadi sedikit “keributan” sebelum kami masuk Jama Masjid. Ketika kami ingin masuk, seseorang yang berjaga dipintu gerbang tiba-tiba mencegat kami dan menanyakan ticket. What? Ticket to the mosque? Aku dan Amal sempat protes. Didepan memang tertulis beberapa peraturan sebelum memasuki Jama Masjid, tapi tak tertulis harga ticket. Nicole ikut bingung dan bertanya, mengapa harus bayar untuk beribadah. Harpreet dan Babar, selaku tuan rumah agaknya tak enak dengan apa yang terjadi.

 

Mereka berdua berbicara dalam bahasa Hindi. Kami menunggu sambil nyengir dan kepanasan. Entah berapa lama mereka berdebat sampai akhirnya berbalik dan menghampiri kami, mempersilahkan kami masuk. Sayangnya entah alasan apa, Babar menolak ikut masuk. “Biar aku menunggu dan menjaga sepatu kalian saja”. Alasan yang aneh, kalau cuma karena itu bukankah ada tempat penitipan sepatu. Atau ini karena alasan agama? Entahlah, ketika kami ngobrol santai mengenai keyakinan kami, Babar mengatakan bahwa agama dia bukanlah Hindu, bukan Sikh, bukan pula Muslim, Kristen, Katolik, Jainism, Bahai, Budha, Zoroastrianism, atau apa saja. Semua nama agama sudah kami sebutkan tapi tak ada yang fit dengan apa yang dia katakan. Akupun susah mengingatnya. Yang jelas menurut dia, agama nya masih memegang teguh nilai-nilai ke-Punjabian. Merekapun mempunyai tempat ibadah sendiri, bukan gurudwara, seperti umat Sikh. Tata cara perkawinan pun berbeda dengan umat Sikh, agama yang umum bagi penduduk Punjab. Terlalu banyak nama agama yang harus aku ingat di India!

 

Adzan zuhur berkumandang, jamaah mulai merapatkan shaff-nya. Aku yang sedang libur, seketika menyingkir keluar bangunan utama dan duduk-duduk diluar bergabung dengan Nicole dan Harpreet. Jama Masjid amat sangat megah, ditengah-tengah bangunan ini terdapat sebuah kolam besar yang digunakan untuk berwudhu. Jauh di depan kami ada sebuah menara besar dan tinggi, tapi seperti biasa wanita tidak diizinkan memasukinya. Typical India! Dan jauh diluar sana, diluar gedung Jama Masjid nan indah ini, pemukiman dan pasar kumuh adalah tempat dimana kaum muslim mencari rezeki. Cerita kejayaan Islam di Delhi hanya tinggal kenangan. Larangan Harpreet kepadaku untuk tidak mengeluarkan kamera ketika kami keluar dari areal masjid setidaknya menjadi gambaran bagiku seperti apa daerah ini sekarang.      

  

Puas menikmati megahnya Jama Masjid, kami bergerak menuju tempat yang lain, yang lagi-lagi tak diberi tahu. Kami benar-benar turis yang harus mengikuti agenda mereka. Menggunakan bis akhirnya kami tiba didepan sebuah bangunan yang kabarnya tak lama baru selesai dibangun dan masih dalam tahap grand launching, ya dialah Lotus Temple. Apa sich yang special sampai orang berbondong-bondong datang kesana?   

 

Bahai House of Worship, inilah yang aku temui sekarang. Otakku tiba-tiba mencari-cari kata “Bahai” dalam CPUnya, rasanya aku pernah mendengar nama itu. Anganku melayang pada suatu siang dua tahun lalu. Waktu itu ketika makan siang, aku yang nyambi ngajar sambil kuliah kedatangan rekan kerja baru. Cewek cantik itu banyak dibicarakan oleh teman-temanku karena keyakinan nya. Teman-temanku merasa bingung karena dia tak pernah mau terbuka jika ditanya apa agamanya, meskipun menurutku itu adalah hak nya. Tapi hidup dilingkungan orang yang terbiasa menganggap agama adalah hal yang crucial ternyata tak mudah bagi dia. Dan entah dengan alasan apa, dua minggu setelah dia masuk, dia menghilang entah kemana. Aku sempat mendengar kata Bahai keluar dari mulutnya dan teman-temanku bingung, agama macam apa itu? Tak kusangka aku yang justru cuek malah menemukan jawabannya disini. Was it a coincidence?

 

Dan untuk yang kedua kalinya, trio Amal, Nicole dan Harpreet kembali terjinjit-jinjit karena harus berjalan telanjang kaki, sementara aku dan Babar ga ada masalah. Di banding ketika kami berjalan di Jama Masjid, kali ini malah kami harus berjalan lebih jauh, tak terbayang penderitaan mereka. Belum lagi setelah berjalan jauh kami harus mengantri. Dan seperti biasa ketertiban adalah harga mahal disini. Kami dan beberapa foreigner lainnya benar-benar dibuat kesal dengan antrian yang harus di tertibkan cukup lama. Setelah antrian dirasa tertib, maka dua orang yang tadi meluruskan antrian ini, berdiri di depan kami, satu orang wanita dan satu orang pria.

 

Sang wanita berbicara dalam bahasa Hindi sedangkan sang pria dalam bahasa Inggris. Sayangnya suara mereka seperti tertelan diantara gemuruh orang-orang, tak terdengar jelas. Dari penjelasan sang pria aku hanya mendapat sedikit penjelasan bahwa umat Bahai percaya akan kekuatan api dan mereka juga terbuka untuk setiap umat agama. Didalam sana, ruang yang akan kami masuki semua agama boleh berdoa dan membawa kitab suci masing-masing. Didalam mereka boleh merenung, berdoa, atau sekedar diam saja. Tak sabar kami ingin masuk, bukan karena apa-apa diluar kulit kami benar-benar terbakar kepanasan.

 

Begitu pintu dibuka, semua orang yang mengantri tak sabar masuk kedalam. Ruangan ini mirip gedung pertemuan daripada tempat ibadah. Tak ada lambang apa-apa. Tak ada gambar, tak ada lukisan, kitab suci atau apapun. Yang ada hanya deretan kursi kayu, semuanya kursi, tak ada yang lain. Kami menjadi mati gaya, hanya terdiam.

 

Dan ternyata tak hanya kami yang mati gaya, buktinya hampir separuh dari pengunjung yang masuk, keluar kembali. Kami berjalan-jalan keluar dan ya ampun ternyata dibawah bangunan ini ada sebuah kolam yang amat sangat besar dan designnya mirip kolam renang. Diatas “gedung pertemuan”, dibawah “kolam renang”, tinggal buat caffee didepan library sana, maka sempurnalah gedung ini hahaha. Kami duduk-duduk di depan kolam sambil bersembunyi dari matahari. Amal dan Nicole memamerkan telapak kaki mereka yang sudah berwarna merah.   

 

Tak terasa sudah jam setengah lima dan sudah tiga tempat yang kami kunjungi. Dari Lotus temple kami kembali ke subway dan naik metro ketempat tadi pagi kami datang. Kami kira hari ini trip kami sudah selesai, ternyata belum kawan. Harpreet dan Babar masih mengajak kami ke tempat yang lain.   

Karya : Irma Rahmatiana