Incredible 49

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 05 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.1 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible 49

Incredible 49

May 20th, 2013

The 3G

 

                Pagi-pagi kami sudah packing dan meninggalkan Jaipur. Bus stand sudah dipenuhi ribuan orang. Bersama kami memang banyak foreigner lain yang menuju Agra melakukan Golden Triangle Trip seperti yang disarankan Lonely Planet. Nicole merasa senang sekali karena bertemu sesama Jerman. Empat cowok Jerman ini sebelumnya bertemu dan dinner bareng dengan kami karena kami menginap di hotel yang sama. Travelling mereka ke India diawali dengan tujuan menghadiri undangan pernikahan dan sudah hampir dua minggu mereka disini. Melihat Nicole mengobrol dengan mereka seperti sedang melihat Paman Fuhrer dari dekat. Bicara mereka lantang, tegas, tak ada kesan bergurau, mimik muka serius, membusungkan dada dan lagi-lagi membicarakan planning, typical Germany.     

 

Jam 08:04:22 bis melaju meninggalkan Jaipur. Enam jam perjalanan sampailah kami di Agra. Tak sabar rasanya ingin melihat dia. Begitu bis berhenti, seperti biasa bhaiya auto langsung mengerubungi kami. Dari tempat pemberhentian bis ternyata Taj Mahal masih jauh. Kami membuntuti empat cowok keren Germany yang ignore dengan para bhaiya dan memasuki Agra Cantt. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jika kawan ingin ke Taj Mahal dan naik kendaraan umum, sesampainya di Agra, masuklah ke Agra Cantt. Disana tersedia semua informasi, mulai dari rute menuju Taaj Mahal hingga harga auto. Mereka juga menyediakan bhaiya auto yang dijamin tidak akan “menguras” kantong anda.

 

Agra Cantt akhirnya menunjuk seorang bhaiya auto yang keren untuk kami. Bagaimana tidak, untuk ukuran seorang sopir autorickshaw dia terlalu rapi. Dandanannya mengingatkan aku pada penyanyi A.Rafik. Serius, kemeja panjang bermotif bunga-bunga dipadu dengan celana cutbray dan sepatu pantofel. Performance-nya semakin sempurna dengan kaca mata besar berwarna coklat tua dan rambut yang dibelah pinggir dengan rapi. Benar-benar seperti artis era 60an. Aku membayangkan dia menyanyikan lagu “Pandangan Pertama” sambil mengelilingi autorickshaw-nya, pasti India banget hihihihi…    

 

Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Vicky. Seketika kami duduk didalam auto nya, dia membagikan kami kartu namanya. Sanjeev Manchanda alias Vicky adalah orang yang ramah. Dia yang mengaku berasal dari Pakistan dengan mudah bercerita tentang dirinya. Sudah tak mempunyai ayah dan ibu dan hanya hidup seorang diri, dia akhirnya memutuskan untuk menjadi warga India ketimbang warga Pakistan, entah apa alasannya. Kami berbicara dengan akrab, dia bertanya apa saja rencana kami, siapa tahu aku bisa membantu, begitu katanya, menawarkan jasa.

 

Kami memang tak punya rencana fix, untuk sisa travelling kali ini. Rencananya sederhana saja yaitu, ke Taj Mahal kemudian ke Delhi dan pulang ke Chandigarh. Pun kami tak tahu akan menginap dimana di Delhi. Sudah kalian tentukan kapan, jam berapa dan naik apa ke Delhi? Kami bertiga saling menatap, mungkin naik kereta, jawabku sekenanya. Sudah booking ticketnya? Belum, kami menjawab serentak, kami akan membeli secara on the spot, entah mengapa travelling kali ini kami mendadak menjadi rock n’ roll.

 

“Oh My Dear, this is summer, everybody are going for holiday, bagaimana kalau kalian tidak kebagian tiket? Mau menginap di stasiun kereta, itu tidak aman. Bagaimana kalau ku antar kalian ke stasiun kereta dulu, book your ticket first, ada stasiun kereta terdekat dan kita bisa pergi sekarang sebelum kalian ke Taj”

 

Kamipun setuju. Aku dan Nicole mengantri sedangkan Amal menunggui tas-tas kami di auto bersama A.Rafik. “Bagaimana?”, tanya A.Rafik. kami memang sudah membeli tiket, tapi statusnya postphone, artinya jika ada penumpang lain yang membatalkan, ada kursi untuk kami. “Tuh kan apa kubilang, sudahlah mudah-mudahan nanti statusnya berubah jadi confirm”, begitu katanya. Akhirnya kami bersepakat, kalaupun kami tak mendapat tiket ke Delhi malam ini kami akan menginap di Agra satu malam dan ke Delhi esok hari. Short plan deal!

 

Vicky mengemudikan kembali auto nya. “Jangan khawatir, nanti kalian bisa konfirmasi via sms untuk menanyakan status nya, jadi tak usah kembali ke stasiun. Kalau memang kalian mau bermalam di Agra, aku tahu beberapa hotel disini”. Vicky memang aktif terus mengajak kami mengobrol, sesekali dia tertawa meskipun tak ada yang lucu, tapi kami tak keberatan. Kami menganggapnya sebagai bagian dari cerita travelling kami, termasuk ceritanya tentang The 3G, apa sih maksudnya?  

 

Vicky yang membawa auto cukup ngebut sering membunyikan klakson, padahal tak ada mobil didepannya, tak akan berbelok atau hal lain yang mengharuskan dia membunyikan klaksonnya.

 

“That’s the first G, good horn”, katanya sambil membunyikan klakson nya lagi. Diawal-awal ketika aku di India, kadang aku bingung dengan habit orang India yang senang membunyikan klaksonnya tanpa tujuan jelas.

Cekittttttttttttttttttttttttttttttttttt…, tiba-tiba Vicky mengerem secara mendadak, membuat kami semua berpegangan ke jok auto dan mengelus dada. Eh dia malah cengar-cengir, “That’s the second G, good break”. Menurut dia kita tak akan bisa berkendara di India kalau tidak mempunyai skill good break. Kendaraan bisa datang dari arah mana saja dan kapan saja, tak peduli marka jalan. Mereka bisa memotong jalan dari kanan, kiri, depan, belakang atau mungkin dari atas dan bawah tanah, katanya sambil tertawa. Anehnya kami ikut tertawa juga. Kami terdiam menantikan apa G terakhir. Kali ini dia sedikit pelan membawa auto. “What is the last one?”, iseng-iseng kami bertanya.      

“The last one is…”, dia menginjak gas dan ngebut lagi. “The last one is good luck hahahaha”. Uedan… tapi kami ikut-ikutan tertawa terbahak-bahak dan menjadi gila dalam sekejap karena prinsip 3G-nya Vicky.

 

“Mengapa kalian baru datang ke Agra sekarang? This is not tourist season, this is Indian season. The perfect time to come for you is on November to March.”

 

“We have no time”

 

Dia mengangguk-ngangguk. Kami memintanya berhenti di jika melihat restaurant. Kami ingin makan siang dulu sebelum melihat Taj Mahal. Diluar auto, cuaca benar-benar terik, kami bermain tebak-tebakan berapa temperature diluar sana, 43. 44 atau 45?     

 

“Oh my dear, tahukah kalian berapa temperature diluar sana? Sekarang empat puluh delapan derajat. Bawalah air minum yang banyak, kemarin temperature mencapai lima puluh dan ada satu orang yang meninggal di dalam Taj, saking panas dan crowd-nya pengunjung. Kalian harus tahu, orang India begitu mencintai Taj, bahkan terlalu cinta, mereka tak akan bosan datang berkali-kali kesana.”

 

Vicky membawa kami kesebuah restaurant yang menurut dia tak jauh dari Taj Mahal. “Maya Restaurant”, itulah nama restaurant tersebut. Hawa adem langsung terasa begitu kami duduk. Restaurant ini terasa ganjil, bentuknya tak seperti rumah makan India.

 

“This is Jewish restaurant”, Amal berbisik kepadaku

“How do you know?”, ujarku tak kalah berbisik

“Look at that”, katanya sambil menunjuk langit-langit restaurant. Kami berdua saling berbisik membuat Nicole penasaran.

Ya benar, ini yang membuat suasana berbeda. Langit-langit restaurant dipenuhi dengan segitiga bintang khas lambang Yahudi. Restaurant ini tidak terang, tetapi temaram, membuat kami mengantuk dengan hawa sejuk setelah kami kepanasan diluar.

“But don’t worry we can eat chicken or meat here”. Amal berkata sambil melihat-lihat daftar menu. Menurut dia, kita lebih safe untuk makan daging di Jewish restaurant daripada ditempat manapun di India karena mereka mempunyai tata cara yang sama ketika menyembelih hewan, seperti layaknya orang Muslim.

 

Tak jauh dari kami, sepasang couple memperhatikan dan melemparkan senyum kepada kami. Mereka mengenalkan dirinya sebagai Israeli. Paras mereka berdua mirip dan berwajah tenang. Ternyata mereka baru saja dari Taj Mahal dan mendengar berita yang sama seperti yang diceritakan Vicky, ada satu orang meninggal kemarin di Taj. Dia juga menyarankan membawa air minum yang banyak supaya tak dehidrasi dan tak segan-segan untuk menolak jika ada yang menawarkan untuk menjadi guide di Taj Mahal meskipun mereka berkata bahwa itu free of charge.

 

Speechless in front of Her

 

Setelah kenyang dan tak lupa membekali diri dengan satu liter air mineral kami siap berangkat. Tak sampai sepuluh menit kami sudah ada digerbang Taj Mahal. Vicky memarkir auto dan menunggu kami tak jauh dari gerbang. Ada dua opsi untuk masuk karena ternyata jarak dari gerbang menuju Taj Mahal cukup jauh. Kami bersepakat untuk berjalan kaki dan berkata “No”, kepada bhaiya auto, penjual gantungan kunci berminiatur Taj Mahal, penjual air mineral dan tentu saja guide yang menggantungkn ID Card di lehernya. Kami terus melangkah hingga tiba didepan penjualan ticket.

 

Benar apa kata Vicky, antriannya panjang, berliku-liku dan hampir semua pengunjung perempuannya ber-saree. Dibawah teriknya matahari kami menjadi salah satu pengunjung bangunan termashur ini. Setelah melalui antrian dan checking yang cukup ketat, kami akhirnya berjalan melenggang untuk melihat dia.

 

Kami berjalan sejajar melewati “pintu masuk” berwarna merah bata yang tinggi menjulang. Setelah perjalanan jauh Jaipur menuju Agra dan diantar oleh Vicky dengan prinsip 3G nya tiba-tiba kami berdiri dan speechless didepan dia.

 

Kami sudah membaca semua naskah tentang dia. Nicky bahkan sudah menjelaskan bagian-bagian dari “tubuhnya” melalui “bible”-nya yang berbahasa Jerman. Kami juga sudah tahu bahwa ini adalah symbol cinta abadi seorang hamba yang ditinggal orang tercinta. Tapi kami tak menyangka mempunyai rasa yang sama ketika kami melihatnya langsung. Rasanya character darah kami semua menjadi sama yaitu melancholy. Panas yang menyinari nya malah membuat kami merinding. Aku menyebutnya sebagai The Greatest Prove of Love, Taj Mahal.  

 

Salah satu peninggalan kekaisaran Mughal ini cantik tak terperi. Dia berdiri kokoh didepan taman terhampar dengan fountain yang menjadi ciri khas Mughal Garden. Empat pilar menjaga dia. Pesonanya sangat kuat menyihir mata semua orang. Berbondong-bondong orang silih berganti duduk di Diana bench dan mengambil foto dengan latar belakang dia. Kami belum berani mendekati dia, kami masih ingin menikmatinya dari jauh. Refleksi kecantikannya tergambar jelas dari air yang berkumpul, diam dan tenang didepannya.

 

Kini kami telah berani mendekatinya, hati kami semakin berdebar-debar. Seperti hendak bertemu sang kekasih, kami rasanya ingin segera saling bertemu pandang dan bersentuhan. Menyentuh dinding nya penuh dengan rasa kekaguman, bagaimana tidak, lihatlah semua ornament yang menghiasinya, begitu rumit tetapi cantik. Dan lihatlah pahatan kaligrafi yang menghiasi dinding pintu disisi kiri dan kanannya. Subhanallah, indah tiada duanya. Entah daya magis atau dorongan emosi apa, tiba-tiba kami, aku khususnya menjadi benar-benar melodrama. 

 

Aku tak dapat membayangkan ada seorang hamba Allah yang membangun istana sedemikian besar sebagai tempat untuk mengenang dan menyemayamkan seseorang yang dicintainya. Taj Mahal adalah bukti cinta sejati Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal. Inilah bukti cinta abadi, siapa yang dapat menandinginya? Rasanya tak ada.

 

Cukup lama kami memandangi pusara mereka berdua, permaisuri yang amat sangat beruntung dicintai dan dikukuhkan bukti cintanya disini. Kami duduk dibagian belakang menghadap sungai dan menikmati semilir angin meskipun hanya sebentar bertiup. Meskipun ada bangunan lain selain Taj Mahal tapi kami tak ingin pergi dari sini. Kami hanya terdiam dan sesekali meneguk air yang kami bawa sambil tetap mengagumi bangunan megah ini. hari sudah beranjak sore, tapi kami tetap tak mau pergi. Apalagi kini sedang summer, pasti jam buka Taj Mahal lebih lama. Tak ada yang meminta pulang seperti yang kadang biasanya terjadi jika kami pergi kesuatu tempat. Tapi disini, kami begitu relax, tak ingin pulang.

 

Kedamaian kami hanya terusik dengan warga India yang tidak bisa menjaga “kecantikan” Taj Mahal. Untuk menjaga kebersihan, ketika kami masuk dan membeli ticket kami juga diberikan sepasang “sepatu”. Tentu saja bukan sepatu betulan karena sepatu ini hanya terbuat dari bahan semacam karet dan amat sangat ringan, seringan kapas. Dan mereka dengan gampangnya membuang sepatu-sepatu tersebut diatas lantai, disini, disamping bangunan Taj Mahal yang elok.   

 

Entah jam berapa kami keluar Taj Mahal. Yang kami sadari adalah persediaan air mineral kami sudah habis. Tapi Vicky bilang masih ada waktu sebelum kami menginggalkan Agra menuju Delhi. Dengan handphone nya dia mengetik kode untuk mengkonfirmasi status kereta kami dan Alhamdulillah ternyata statusnya berubah menjadi confirm dari postphone. Wow, congratulation, you are lucky. Begitu Vicky berkata kepada kami sambil memberitahu seat number kami.

 

So, karena menurut dia kami masih punya waktu, maka kamipun menerima tawarannya untuk sightseeing di Agra tapi kami menegaskan bahwa kami tak ingin shopping! Dia mengangguk-ngangguk dan berkata, Okay.

 

Dan tahukah kawan kemana kami dibawa? Dia membawa kami ke pusat pembuatan marmer yang dipakai untuk bangunan Taj Mahal. Wow, awesome! Meskipun ujung-ujungnya mereka menawarkan untuk membeli cinderamata dari marmer-marmer hasil produksi mereka, tapi kami patut bangga karena ini adalah keluarga yang dipercaya oleh fihak kekaisaran Mughal dan pemerintahan India hingga kini untuk tetap mempertahankan keaslian design khas Taj Mahal. Puluhan bahkan ribuan marmer hasil produksi mereka tersimpan dalam satu ruangan besar. Kami memang terkesima dengan semua design dan lebih terkesima lagi ketika lampu diruangan itu dipadamkan, terlihatkah design-design cantik yang berkilauan dan tak ada duanya.

 

Mereka masih mempromosikan beberapa design, sayangnya kami harus pergi. Kami harus mengejar kereta menuju Delhi. Meskipun tergambar kekecewaan diwajah mereka bahwa kami tak membeli satupun koleksi marmer itu, tapi bukankah dari awal kami sudah menegaskan bahwa kami tidak ingin shopping! Lagipula harga yang ditawarkan amat sangat mahal, tak cukup untuk ukuran kami.

 

Vicky mengantarkan kami sampai stasiun kereta dan disanalah kami berpisah.

  • view 20