Incredible 48

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 05 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.2 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible 48

Incredible 48

Mengenal Jaipur

 

                Bis yang kami tumpangi adalah bis non AC, jadi bisa kawan bayangkan summer 45 derajat dalam bis non AC, rasanya seperti ubi madu cilembu yang dimasukkan kedalam oven! Tapi kami menikmati setiap perjalanan yang ada termasuk staring guy in the bus. Nicole yang mengenakan tank top dan berkulit pucat begitu menarik perhatian setiap mata dibandingkan aku dan Amal yang berjilbab. Dan percayakah kawan ada satu orang laki-laki yang menatap Nicole terus menerus mulai dari kami naik bis hingga dia turun terlebih dahulu!

 

Sejauh mata memandang yang kami lihat selama perjalanan adalah tanah gersang. Coke dingin adalah hal terpenting setiap kami break, tak ada yang lain. Perjalanan selama tujuh jam dalam bis “oven” membuat kami exhausted dan seperti mendapati surga ketika sampai di Pearl Palace Hotel, Jaipur. Hanya sebentar kami beristirahat, kami tak ingin buang-buang waktu di Jaipur dan memulai sightseeing kami. Begitu kami keluar pintu hotel, beberapa bhaiya auto langsung menawarkan jasanya. Sore ini kami memang hanya ingin berjalan-jalan saja, bahkan kalau bisa berjalan kaki. Tapi seperti tak bisa menghindari, kami akhirnya luluh juga, toh tidak mahal.     

 

Begitu kami duduk, tiba-tiba bhaiya auto langsung menyodorkan buku berisi “testimoni” auto-nya. Kami sempat bingung maksudnya apa? Dan entah apa maksud bhaiya auto itu, nyatanya sekarang kami sudah sampai didepan sebuah bangunan yang dia sebut sebagai pabrik pembuatan kain. Kami mengikuti dia yang mengenalkan kami kepada seorang pria yang dia sebut sebagai pemilik pabrik. Aku memang belum pernah berkunjung ke pabrik kain, tapi yang kami lihat hanya satu ruangan temaram dengan beberapa helai kain dan cap kain bermotif gajah dan bunga.

 

Tak lama setelah itu kami digiring menuju lantai atas. Berjejer koleksi kain dari mulai yang kecil hingga lembaran besar. Begitu kami duduk, dimulailah presentasi dari seorang bapak berkacamata dan ujung-ujungnya kami tahu kalau mereka sedang berjualan! Ya ampun sungguh strategi yang mulus. Terlihat raut wajah kecewa karena tak satu pun kain yang diperlihatkannya menarik kami untuk membeli. Bagaimana kami mau membeli harganya saja selangit. Tak putus asa, dia terus menawarkan kami, kini barang yang ditawarkannya adalah pernak-pernik tapi tetap saja harganya mahal. Kami tetap tak berminat membeli.

 

Akhirnya kami keluar juga dari bangunan itu, kami baru sadar ternyata bhaiya auto itu menghilang! Lama kami mencari-cari dia, yang terparkir hanya auto-nya saja. Tiba-tiba dia datang sambil cengar-cengir dan bertanya barang apa yang kami beli. Tak ada yang kami beli, dan kami langsung menegaskan kepada dia bahwa kami ingin sightseeing bukan shopping! Menyadari bahwa kami berbicara dengan nada serius, dia tidak cengar cengir lagi.

 

Dari complimentary copy yang kami dapat dari hotel, nyatanya mereka mewanti-wanti setiap turis mulai dari bhaiya auto yang lebih sering membawa para turis ke tempat shopping daripada sightseeing. Mereka juga akan meminta anda untuk menulis testimoni tentang mereka padahal anda baru saja naik auto-nya. Dua modus ini benar-benar kami temui pada bhaiya auto yang membawa kami. Untunglah kami insist bahwa kami ingin sightseeing meskipun dia tetap merayu bahwa ada pabrik pembuatan jewelry yang kabarnya disana kami bisa mendapatkan harga miring. Tapi kami adalah pejuang keukeuh sejati, dan bhaiya itu tak bisa berbuat apa-apa lagi.        

 

Berhati-hatilah di Jaipur kawan, masyarakat Jaipur yang menyandarkan kehidupan mereka dari sektor pariwisata amat sangat agresif. Mulai dari bhaiya auto sampai pedagang-pedagang dipasar yang menjajakan souvenir hingga fabric. Kami nyaris terlibat pertengkaran ketika seorang pedagang setengah memaksa untuk membeli barang dagangannya. Meskipun tawar-menawar adalah hal yang lumrah ketika berbelanja, tapi yakinkanlah diri anda sebelum mampir disatu toko dan membeli sesuatu di Jaipur.

 

Welcome to Pink City

 

               Sebagai ibukota Rajasthan, Jaipur adalah kota yang menyatakan dirinya sebagai kota dengan bangunan yang grand in style dan intricate in design. Hal itu tak berlebihan kiranya ketika kami mengunjungi beberapa bangunan bersejarah yang merupakan perpaduan antara Hindu dan Islam. Disebut-sebut sang Maharaja ingin menandingi kemegahan bangunan-bangunan yang ada di Delhi dan Agra. Kemegahan bangunan-bangunan di Delhi dan Agra yang terletak pada kerumitan design berpadu dengan cita rasa seni yang tinggi menghasilkan outstanding performance dari masing-masing bangunan tersebut. Perpaduan Hindu dan Islam juga terlihat dari beberapa prasasti yang ditulis dalam bahasa Urdu dan Hindi.

 

Rupanya hal ini juga yang ingin di copy oleh sang Maharaja. Setidaknya itu kami buktikan mulai dari Amber Palace, City Palace hingga Hawa Mahal, tiga objek wisata yang menjadi sightseeing kami di Jaipur. Tapi ada satu pertanyaan yang mengganggu benak ku, mengapa kota ini dijuluki Pink City? Padahal rasanya bangunan-bangunan yang kulihat tidak berwarna pink, melainkan orange! Awkward!

 

Amber Palace, adalah tempat pertama yang kami datangi. Jika diperhatikan dari jauh Amber Palace mirip Great Wall di China! Begitu bhaiya auto berhenti didepan Amber Palace kami langsung terkagum-kagum dan tak habis fikir, bagaimana mungkin orang-orang zaman dulu mampu membangun benteng sekaligus istana semegah ini. This is the real fort, the real palace. Didepan benteng kokoh itu terhampar danau nan tenang, sayangnya seperti biasa, banyak sapi yang sedang mandi!  

 

Baru memasuki Amber Palace kami sudah disambut oleh sekumpulan burung hitam yang tak hanya bertengger diatas benteng tapi juga berkerumun mematuki makanan yang disebar dihalaman sekitar Dil Aram Bagh. Dil Aram Bagh (Garden to The Heart) berada disebelah utara Maota Lake yang didesign seperti Char Bagh, Mughal Garden. Air mancur, central pool dan bunga-bunga yang indah membuat Dil Aram Bagh adalah tempat yang teduh untuk beristirahat. Banyak orang yang baru memasuki Amber Palace sudah asyik duduk-duduk di taman ini, padahal ini belum ada apa-apanya. Disini pula banyak orang yang menawarkan jasanya untuk menjadi guide.

 

Kami terus berjalan memasuki Amber Palace. Baru menaiki anak tangga untuk meng- explore Amber Palace, Amal sudah kelelahan. Anemia-nya kambuh. Semangat aku dan Nicky yang tinggi terpaksa harus diturunkan sedikit demi menunggu Amal sampai dia normal, ga kleyengan. Aku juga bingung mengapa aku begitu excited, padahal seperti Amal aku adalah penderita anemia. Pada awalnya Amal ogah-ogahan untuk masuk ke dalam Amber Palace, cuaca panas memang amat sangat menyiksa. Tapi kami meyakinkan dia bahwa kita bisa berjalan pelan-pelan dan dia tinggal bilang saja kalau merasa kecapean, kita akan break. Benar saja akhirnya dia setuju dan menggerakkan kakinya kembali.

 

Singh Pol (Lion Gate) adalah gerbang utama memasuki Amber Palace. Dibangun atas prakarsa Sawai Jai Singh pada tahun 1699 SM, dulunya gerbang ini dijaga ketat oleh para prajurit untuk alasan keamanan. Begitu kami melewati Singh Pol kami semakin amaze dengan apa yang kami lihat didepan mata kami. Bagaimana tidak, istana ini terdiri dari beberapa hall yang ukurannya tak bisa dibilang kecil. Hall-hall tersebut diantaranya adalah Jaleb Chowk, Diwam-i-Aam (Hall of Public Audience), Hammam (Turkish Bath), Latrines, Palace of Raja Man Singh, Diwam-i-Khas (Hall of Private Audience), Bhojanshala (Dining Hall) dan tentu saja Maota Lake.

 

Maota Lake memang banyak menjadi perhatian para pengunjung. Bagaimana tidak, danau ini mengelilingi Amber Palace. Jika kita berdiri diatas Amber Palace kita bisa melihat The Kesar Kyari (Saffron Flowerbeds Garden) ditengahnya. Air yang mengalir dari sumber mata air di bukit-bukit terdekat Jaipur berkumpul di Maota Lake dan danau ini pula yang menjadi sumber mata air untuk keperluan istana.

 

Berdasarkan inskripsi yang ada di Amber Palace, diketahui bahwasannya Raja Man Singh yang memerintah dari 1589-1614 SM menghabiskan 25 tahun masa pemerintahannya untuk membangun istana ini. Konon kabarnya Palace of Raja Man Singh berdiri dengan sendirinya dan menjadi main palace di istana ini. Kemegahan Amber Palace terus berlanjut ketika masa pemerintahan Mirza Raja Jai Singh (1621-1667 SM). Dia mendirikan banyak bangunan diantaranya adalah Diwan-i-Aam. Diselatan hall  yang berfungsi sebagai tempat perayaan kemenangan perang ataupun ulang tahun sang maharaja ini dibangun 27 kachehris (offices).

 

Tak hanya membangun Diwan-i-Aam dan 27 kantor didalam Amber Palace, Mirza Raja Jai Singh juga membangun Diwan-i-Khas, salah satu daya tarik Amber Palace. Diwan-i-Khas disebut juga Sheesh Mahal/Glass Palace. Sheesh Mahal memang tampak berbeda dari bangunan yang lainnya, dia seperti center of Amber Palace bahkan pengunjung tak bisa masuk kedalamnya, hanya bisa menatap saja. Mulai dari pilar hingga atap bangunan semuanya dilapisi dengan kaca dengan pattern yang unik dan berbeda-beda. Tak heran tempat ini dulunya hanya digunakan untuk menemui special guest semisal duta besar, dll. Didepan Sheesh Mahal kita bisa melihat Char Bagh (Four Garden). Lagi-lagi konsep Char Garden ini bentuknya disamakan dengan Mughal Garden. Sama halnya seperti Sheesh Mahal, Char Bagh juga steril dari jamahan pengunjung.

 

Jika Sawai Jai Sing membangun Singh Pol, maka Mirza Raja Jai Singh membuat Ganesh Pol. Ganesh Pol adalah akses rahasia menuju tempat-tempat private di Amber Palace dan yang tak kalah menariknya diseberang Ganesh Pol terdapat satu ruangan khusus untuk Royal Ladies  melihat aktivitas yang terjadi di Diwan-i-Aam melalui kisi-kisi jendela. Ternyata pada zaman dahulu wanita tidak pernah dilibatkan dalam perayaan apapun, bahkan untuk menjadi “penonton” saja mereka harus berkumpul disatu ruangan, itupun melihatnya secara “mengintip” dari kisi-kisi kamar. 

Tongkat kepemimpinan Rajasthani kemudian diteruskan oleh Sawai Jai Singh (1699-1743 SM) dan menjadi Maharaja terakhir.

 

Dari gambaran diatas sekarang kira-kira kawan sudah bisa membayangkan luas Amber Palace kan? Dengan banyak hall, belum termasuk kamar-kamar, hammam (Turkish bath) dan 100 kamar mandi, kami bertiga berlari-lari di gang-gang kecil istana layaknya film India. Touring kami akhirnya diakhiri dengan menonton “pertunjukkan” khas India yaitu, seorang pria yang meniup seruling diiringi dengan gendang dan keluarlah ular cobra. Datang jam 12.21 dan keluar jam 14.32 setidaknya kami memerlukan waktu dua jam untuk mengelilingi Amber Palace. Setelah ini agenda kami adalah mengunjungi City Palace dan Hawa Mahal.

 

The empty City Palace

 

                Sudah menjadi rahasia umum kalau India adalah negera yang membedakan harga antara local people dan foreigner. Kenyataan ini membuat kita semua kadang “sakit hati” karena harga untuk foreigner jauh berkali-kali lipat dari Indian citizen. Dibandingkan dengan Amber Palace dan Hawa Mahal, ticket City Palace memang jauh lebih mahal yaitu, Rs 300. Kalau kawan masih berstatus mahasiswa/pelajar bawalah selalu Student ID Card untuk menghemat harga ticket. Ini adalah sekilas harga ticket yang aku rangkum selama melakukan Golden Triangle Trip (in Rs)

 

Places                                                                 Indian                                 Foreigner

 

Jaipur                                 Amber Palace                                 50                                          200 / 100 (StudentID Card)

                                City Palace                                       75                                           300

                                Hawa Mahal                                    10                                           50

                                Jantar Mantar                                               40                                          200

 

Agra                     Taj Mahal                                          10                                           750

                                Toilet                                                   10                                           free 

 

Delhi                    Red Fort                                            10                                           250

                                Qutb Minar                                     10                                           250

                                Lotus Temple                                 free                                       free

 

Tuh lihat kan beda nya? Nah karena namanya City Palace, ekspektasi kita adalah palace yang lebih grand ketimbang Amber Palace. Tapi betapa kecewa nya kami ketika masuk. Bentuknya memang lebih rapi dan lebih modern walaupun tak seluas Amber Palace yang kami kunjungi sebelumnya. Yang lebih aneh lagi akses menuju City Palace justru digembok! Lha terus kita lihat apa dong? Kami disuguhi Gangajali (Silver Jar) yang terletak di center City Palace. Guci raksasa ini terbuat dari 14.000 Jaipur silver coins dan merupakan the largest silver object in the world menurut Guinness Book of World Records. Govind Ram dan Madhav, sang silversmith membutuhkan waktu dua tahun untuk menyelesaikannya. Wow, what a hard work…

 

Yang menarik dari guci silver ini adalah Maharaja Sawai Madho Singh II mengisi guci dengan 4091 liter air suci Gangga untuk dibawa ke Inggris pada waktu upacara penobatan Raja Edward ke VII tahun 1902.  

 

Tak lama kami berdiam diri disana, jika diperhatikan foreigner yang datang ke City Palace adalah orang-orang yang sudah tua. Mungkin tempat ini cocok untuk para lansia. Tenang, tertib dan jauh dari kata cape seperti di Amber Palace. Sebelum pulang kami mampir ke Mubarak Mahal, melihat koleksi baju para raja.

 

Tak jauh dari City Palace kami berjalan menuju Hawa Mahal, sightseeing terakhir kami. Dibangun tahun 1799 oleh Maharaja Sawai Pratap Singh, Hawa Mahal benar-benar didesign khusus untuk Royal Ladies. Terdiri dari lima tingkat dan setiap tingkat mempunyai nama dan fungsi berbeda-beda. Tingkat pertama bernama Sharad Mandir, tempat dirayakannya autumn. Tingkat kedua adalah Ratan Mandir dan tingkat ke tiga adalah Vichitra Mandir, tempat sang Maharaja memuji Dewa Krishna. Tingkat ke empat dinamakan Prakash Mandir dan tingkat ke lima dinamakan Hawa Mandir.

 

Jika dilihat sekilas Hawa Mahal memang hanya bangunan yang terdiri dari jendela-jendela saja, tak ada yang lain! Hal ini tak lain dan tak bukan karena fungsi utamanya yaitu sebagai tempat bagi para Royal Ladies melihat dan menikmati semua aktivitas yang terjadi diluar istana. Jika kita berdiri di tingkat paling atas, kita bisa melihat Jaipur seutuhnya. Amber Palace dan City Palace menjadi terasa dekat.

 

Tak bisa kubayangkan hanya untuk melihat rakyat yang sedang nongkrong di kedai lassi, makan butter chicken atau sekedar melihat orang berlalu lalang di pasar, seorang Royal Ladies harus datang ke gedung ini dan mengintipnya melalui 152 kisi-kisi jendela istana ini. Ckckck…

 

Rangkaian Jaipur trip kami tutup dengan meneguk segelas mango lassi. Lassi (yogurt) yang dicampur dengan mango shake adalah penawar dahaga yang sempurna dikala summer. Kami tak lapar, seperti unta kami hanya minum, minum dan minum lagi. Di tengah kota Jaipur kami melepas lelah di kedai lassi dan kembali ke hotel. Besok kami harus bersiap menuju Agra, melihat salah satu dari Seven Wonder of the World.

  • view 26