Incredible 47

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 05 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.4 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible 47

Incredible 47

The Golden Triangle Trip

Plan A to Z

 

                Meskipun masih lara dengan “tragedy” yang terjadi, tapi dua orang disampingku, Amal dan Nicole tetap meyakinkan aku bahwa aku harus tetap pergi untuk trip yang sudah kami rencanakan, karena jika tidak aku akan merasa lebih sedih meratapi nasibku. Sempat terfikirkan untuk tetap pergi trip tapi kembali lagi ke McLeodGanj, mungkin menjalani meditasi lebih baik, tapi bukankah aku sudah relieve dengan semua yang terjadi? Shalat adalah tempat mengadu dan berpasrah kepada Sang Maha Pencipta, apalah artinya sejumlah uang yang tak akan kembali jika dibandingkan dengan sejumlah nikmat yang tak bisa dihitung yang diberikan oleh Dia kepadaku. Bukanlah selalu ada “brightside” dari setiap kejadian dalam hidup kita. Bukankah selalu ada hikmah dari setiap peristiwa? Memberi maaf dan belajar ikhlas, itukah ajaran agama yang belum bisa aku amalkan? Dan aku harus memulainya disini, di India…

 

Nicole terlihat senang ketika kuberitahu bahwa aku akan pergi trip bersama dia dan Amal. Aku meminta Nicole untuk kembali menghitung ulang budget yang akan kami keluarkan untuk trip kali ini. Bahkan aku meminta dia mencari tempat termurah untuk makan dan tidur. Nicole bekerja keras membolak-balik Lonely Planet Jerman-nya. melihat dan membacakan hal “termurah” untuk kami dan meminta pendapat kami berdua. Melihat “kegelisahan” ku, Nicole berkali-kali menawarkan bantuannya.

“Irma you can use my money, don’t worry.” Aku begitu menghargai sikapnya.

“I can lend you some and you can return it when you have the allowance, really, I trust in you”. Dia kembali mengulang pernyataannya, kali ini dia berbicara dengan low tone, seperti memahami perasaanku. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan akan memberitahu dia jika aku benar-benar membutuhkan. Itulah bentuk pertemanan kami kawan dan aku terharu dibuatnya…

 

Trip kali ini akan menjadi trip terlama selama aku menjalani internship. Meskipun hanya lima hari tapi tetap saja menurutku trip ini pasti cukup melelahkan karena biasanya kami melakukan trip hanya satu hari dua malam dikala weekend, itupun jika Sabtu adalah hari libur. Tapi dua minggu kedepan anak-anak akan menghadapi exam sehingga tak akan ada kelas, artinya kamipun terbebas dari mengajar.

 

Ternyata ada intern lain yang berminat untuk bergabung bersama kami, yaitu Lana, intern asal Kroasia. Bersama Lana ada juga, dua orang co-worker Lana di kantor, dua-duanya orang India. Maka kamipun gembira, setidaknya ada local people bersama kami. Maka dimulailah brainstorming jarak jauh antara kami bertiga dengan Lana dan dua orang co-worker nya. Karena keterbatasan waktu, Lana dan co-workernya tak bisa bersama kami ke Jaipur. Jadi direncanakan kami hanya bersama mereka di Agra dan Delhi saja. Okay, deal! Mereka juga memberikan saran agar naik bis menuju Delhi malam hari, karena itu akan menghemat biaya hotel, seperti pemikiran kami waktu ke Shimla. Karena berfikiran kami bersama cowok-cowok maka kamipun okay dengan rencana mereka. Mereka juga menawarkan untuk perjalanan menggunakan kereta dari Delhi ke Agra. All set! Tinggal memikirkan planning untuk pergi ke Jaipur.    

 

Tapi sebenarnya rencana mereka membingungkan, mereka tak tahu akan ke Delhi atau ke Agra dulu. Kami hanya mendapat gambaran bahwa mereka akan berangkat dari Chandigarh malam hari, sampai Agra atau Delhi dan kembali pulang ke Chandigarh. Menyadari ada yang tidak “beres” kamipun menyiapkan plan B. Kebetulan Amal mempunyai teman di Delhi yang bersedia “menampung” kami. Tapi kami harus tetap waspada, pengalaman kami dengan cowok-cowok India cukup membuat kami paranoid. Apalagi Amal hanya mengenal cowok itu semasa menjalani internship di Ukraine beberapa tahun yang lalu. Dan yang membuat kami semakin paranoid adalah dia tinggal di flat bersama temannya, artinya tidak ada orang tua bersama mereka. Cukup susah juga kami merencanakan trip kali ini. Tapi bukan orang Jerman namanya kalau tanpa planning. Kami diajarkan untuk membuat segala probability. Kalau plan A tidak berjalan, maka kita siap dengan plan B, kalau plan B tidak berjalan maka kita menjalankan plan C, begitu seterusnya sampai kami menyatakan okay untuk berangkat esok hari.  

     

Change your mind, in a second! (Part 2)

 

                Jumat sore kami berangkat, kami janjian dengan Lana dan teman-temannya akan naik bis malam ke Delhi di sector 17 Chandigarh. Kami antusias dengan trip kali ini, akhirnya kami bisa juga melaksanakan The Golden Triangle Trip. Yup, Jaipur-Agra-Delhi, Delhi-Agra-Jaipur, Agra-Jaipur-Delhi, Agra-Delhi-Jaipur adalah segitiga emas untuk travelling. Rute nya bisa dibolak-balik sesuai selera. Tapi inilah India kawan, segala sesuatu bisa terjadi, apapun itu, baik tempatnya maupun orang-orangnya, semuanya! Termasuk ketika kami hampir tiba di Chandigarh, tiba-tiba Lana menelepon Nicole membatalkan semua rencana travelling bersama. Lana berkali-kali meminta maaf. Kami semua kecewa seketika! Sementara kami sudah tiba di Chandigarh dan termenung di sector 17 bus stand. Tak ada dalam plan kami kalau mereka akan membatalkan trip bersama kami. Dan yang lebih mengecewakan lagi, ide membatalkan trip datang dari dua orang Indian, co-worker Lana. Arghhhhhhhhhhhh, Indian…

 

Segera kami menyusun rencana baru. Mondar-mandir kami mendatangi booth ticket ke Delhi, menanyakan jam berapa saja bis menuju Delhi, sementara hari semakin merangkak malam, meninggalkan senja. Kami tak punya keberanian, tiga orang cewek ke Delhi dimalam hari bukanlah ide yang bagus. Akhirnya terjadi kesepakatan kami akan bermalam di intern house dan besok kembali ke sini, naik bis paling pagi ke Delhi. Kami tak bisa berfikir jernih di bus stand, kami memutuskan untuk menyusun rencana baru sesampainya di intern house.

 

Teman Amal di Delhi yang bernama Harpreet terus menerus menanyakan planning kami. Sementara kami semakin paranoid, mengapa dia begitu bersemangat! Jika biasanya Nicole adalah seorang good planner, tapi malam ini dia seperti kehilangan semangatnya. Akhirnya kami rehat sejenak dan berfikir ulang. Dan dicapailah kesepakatan kalau kita akan memulai perjalanan mulai dari Jaipur kemudian Agra dan berakhir di Delhi. Kami hanya mempunyai short term plan, kami trauma mempersiapkan long term plan, yang pada akhirnya hangus dimakan si Indian hahahaha. Akhirnya kami bisa tertawa lagi mentertawakan diri kami sendiri. This is India, everything could be happen guys and I get used to change my mind in a second now.

 

Kami berangkat pagi-pagi sekali ketika autorickshaw masih jarang terlihat begitu pula dengan bis. Autorickshaw ngebut, kami tak ingin ketinggalan bis paling pagi menuju Delhi. Jam setengah sembilan kami sampai di Kashmir Gate, disinilah pemberhentian terakhir bis menuju Delhi. Begitu kami turun, sopir taksi berebut menawari kami. Kami menepi sedikit menghindari mereka, tapi mereka tetap membuntuti kami. Mengetahui tujuan kami ke Jaipur, mereka semakin agresif memberitahu bahwa tak ada bis langsung ke Jaipur dari Kashmir Gate. Mereka menawarkan taksi sampai Serai Kali Khan, dimana kami bisa mencegat bis menuju Kashmir dengan harga Rs 450. What, no way! Kami lebih percaya “bible” Nicole daripada sopir taksi di Delhi. Dengan alasan ingin mencari toilet, kami terus berusaha menghindari sopir taksi. Gilanya lagi sang sopir taksi berkata bahwa tak ada toilet disini. Kami tetap pede meninggalkan sopir taksi dan menuju mobil polisi yang terparkir diseberang jalan.

 

Dengan menggunakan jembatan penyebrangan, kami menghampiri polisi yang tengah ngobrol-ngobrol santai di pinggir jalan. Dan untunglah kami bertemu polisi “shaleh” yang mengatakan bahwa ada bis langsung dari Kashmir Gate menuju Jaipur. Tak jauh dari Kashmir Gate disitulah bus stand nya. Kami pun tersenyum penuh kemenangan melihat kearah sang sopir taksi. Dan ada toilet disana, itu yang lebih penting! Taxi driver in Delhi is a crook!            

  • view 29