Incredible 46

Incredible 46

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 05 Mei 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible 46

May Tragedy!

Hari ini Jumat 17 May, 2013 aku sebenarnya sudah terbangun dari jam tiga dini hari dan mataku tak bisa terpejam lagi, ada lelehan air mata yang mengalir panas membasahi pipi dan selimut merahku. Tak ada yang aku lakukan selain hanya menerawang mengingat semua hal yang telah terjadi selama tiga bulan kebelakang, terutama sejak awal-awal aku datang kesini, dan aku menyadari betapa cerobohnya aku, terlalu cuek, dan selalu berfikiran bahwa semua orang adalah baik adanya, semua orang yang berada disekelilingku adalah keluarga, karena memang aku tinggal bersama satu keluarga dengan dua generasi.

 

Harmeet Singh yang biasa kupanggil uncle adalah school bus driver dan Kuldeep adalah istrinya yang biasa kupanggil aunty. Seperti sudah kukatakan aunty adalah orang yang mengurusi semua keperluan makan kami mulai dari breakfast, lunch sampai dinner dan dia pula yang bertugas bersih-bersih kamar. Tinggal bersama pasangan suami istri ini adalah anak perempuan mereka yang bernama Raju dan suaminya beserta kedua orang anak laki-laki mereka.

 

Ada lagi satu anak perempuan yang merupakan cucu aunty dari anaknya yang tidak tinggal bersama mereka. Anak itu duduk di bangku TK dan beranjak masuk SD, Gagan namanya. Meskipun duduk dibangku kindergarten tapi parasnya sudah seperti anak SD, bahkan kukira sebelumnya dia anak kelas dua SD. Dia kadang-kadang main kekamarku, terutama ketika aku masih sendiri dan belum ada intern lain yang datang. Melihat Gagan, aku seperti melihat keponakanku sendiri Caca, yang juga sama-sama di TK B dan akan beranjak masuk SD.

 

Jika dia datang ke kamarku, aku senang-senang saja karena merasa ada teman bermain, kadang-kadang dia meminjam buku dan mencorat-coret buku ku dengan pensil warna, kadang juga dia meminta diajari bahasa Inggris. Kepolosan anak TK memang tak terlihat diwajah Gagan, bahkan dia kukira jauh lebih matang dari keponakanku di rumah. Dia menari dengan luwes dan pandai sekali menyanyi. Hal ini membuat aku merasa tak keberatan jika dia berlama-lama dikamarku. Aku memang naïve, tak pernah kuperhatikan signal-signal jika dia mengambil barang-barangku tanpa permisi, misalnya barang-barang kecil seperti pensil, penghapus, pin jilbab ku, dll.

 

Kita memang akan merasa suatu barang berharga jika itu telah hilang. Dan itu terjadi kepadaku kemarin sore, ketika Nicole, aku dan Amal membuat planning untuk trip Agra, Jaipur dan Delhi. Nicole menghitung-hitung budget untuk tiga tempat tersebut dan dia berkata bahwa budget untuk trip bisa lebih dari 5.000 Rupee aku langsung mengecek dompetku dan hanya mendapati 4.500 Rupee, hingga aku berfikiran bahwa inilah saatnya aku untuk exchange dollar ku yang sudah aku persiapkan jauh-jauh hari (bahkan semenjak di Indonesia) jika aku akan trip ke tempat wisata favorit seperti Agra.

 

Aku cukup lama mencari-cari dimana dollar itu aku simpan sebagian karena seingatku aku memang memisahkannya didua tempat, dari $ 1000 aku hanya mendapati $ 271. Kemana sisa nya? Aku melihat kembali slip penukaran uangku, benar aku menukarkan sebanyak $ 1.000 dan aku belum pernah menukarkannya karena trip-trip sebelumnya aku masih menggunakan allowance yang kudapat dan bekal rupee yang aku punya. Seketika aku mulai gelisah, kubuka koper cokelatku, mungkin aku masih menyimpannya disana, tapi tak ada. Kucari-cari ditumpukan baju, tetap tidak ada. Aku perhatikan slip penukaran dan tertera disana nomor-nomor seri uang tersebut, dan ya aku tidak menemukan beberapa lembar dari yang tertera.

 

Aku menyandarkan badanku di bantal, seketika rasanya ingin menangis, ya benar sisanya sebanyak $ 729 tidak ada. Nicole yang keluar dari kamar mandi seusai mencuci terlihat bingung dan bertanya ada apa? Kuceritakan dari awal dan dia menyarankan untuk membongkar semua tempat  mulai dari tas, koper hingga lemari baju. Tapi hasilnya tetap nihil.

 

Aku tak tahu harus berbuat apa, Nicole menyarankan aku untuk memberitahu Sanya, aku hanya terdiam. Dia menyarankan memang hal itu tak akan mengembalikan uangku, tapi at least Local Comitte tahu mengenai hal ini. Akupun menghubunginya tapi aku tak kuasa menceritakan kepada dia, aku minta tolong pada Nicole untuk mengatakannya. Disebelahku Nicole menjelaskan kepada Sanya duduk persoalannya. Aku masih bengong dan linglung. Bagaimana bisa uang itu hilang? Kapan itu terjadi? Bagaimana aku tak menyadarinya padahal uang itu sudah kusimpan baik-baik, di tempat teraman, dibagi dua seperti yang dituliskan dalam tips-tips orang melakukan travelling, dan lain sebagainya…

 

Tak ada yang bisa aku lakukan, selain membisu meratapi kecerobohan dan ketololanku. Aku tak tahu kepada siapa harus mengadu, kepada orang rumah? Aku malah takut mereka lebih khawatir dari hanya sekedar hilangnya uang, kuurungkan niat untuk menelopon kakakku tersayang.

 

Sekarang semuanya berbalik lagi kepadaku, mengapa dari awal aku tidak aware ketika kaus kaki favorit Ha hilang, underwear Salma raib, semua pin jilbab ku dari motif bunga rajut sampai pin kecil-kecil entah kemana perginya, aneka gelang pemberian teman-temanku dari berbagai provinsi sebagai kenang-kenangan dari mereka hanya tersisa dua saja, bahkan dua pasang kaus kaki pun ikut-ikutan hilang tak tahu rimbanya. Dan yang menyedihkan lipstick yang dibeli khusus oleh kakakku tersayang agar aku belajar berdandan juga gone with the wind, bahkan aku baru menyadari bahwa lipstick tersebut hilang satu hari sebelum aku menyadari bahwa uangku juga hilang.   

 

Segera setelah itu aku bertemu dengan Local Committee Chandigarh, tapi jauh diluar perkiraanku, mereka hanya bertemu aku sekedar meminta maaf atas kejadian tersebut dan yang membuatku eneg adalah mereka malah menawari aku untuk bergabung dengan sebuah acara gathering disebuah villa dengan uang donasi beberapa ribu rupee. Jika aku tak mewakili nama bangsa ingin rasanya aku tonjok muka mereka.

 

Bukannya berempati dan memberikan solusi malah meminta sumbangan kepada orang yang baru saja kehilangan uang. Sia-sia saja aku datang jauh-jauh dari Ropar dan bertemu mereka! Sekembalinya dari Chandigarh kuceritakan hasil pertemuanku kepada Nicole dan Amal.

 

“What? That’s what they say about your case?”

Nicole membuka suara dengan nada tinggi. Seketika aku melihat sekelebat muka Hitler diwajahnya. 

 

“They are so rude, sometimes I think that they are rude by nature” giliran Amal yang menimpali.

 

“Pinky, have it”, kali ini Amal memberikan aku sekotak biscuit dan beberapa potong coklat. Aku mengambilnya dengan malas-malasan.

 

“Maybe they have to learn about Moral Science and going back to elementary school”, aku hanya menggantung kalimatku sambil memasukkan satu potong biscuit yang diberikan oleh Amal. Mereka berdua mengangguk.

 

“Should I report to the police?” kataku seperti kehabisan akal

 

“Its up to you, if you think its better, why not” nada suara Nicole terdengar positive dan mengarah pada dukungan. Aku bisa merasakan betul empati Nicole akan apa yang terjadi padaku. Hal itu tak lain karena dia tahu betul darimana uang itu berasal. Sejak dari awal, kali pertama kami bertemu, kami amat sangat terbuka tentang semua hal. Tak ada yang taboo dimata dia.

 

Dari keempat roommate yang aku punya, aku dan Nicole hampir memiliki beberapa kesamaan. Kami berdua bukan berasal dari keluarga the have, kami juga berasal dari kota kecil, small town. Kami adalah dua orang pekerja keras. Aku bekerja untuk mensupport kuliahku dan menjadi orang yang semakin workaholic ketika lolos seleksi untuk ikut internship keluar negeri. Tak lebih dari tiga pekerjaan aku kerjakan sekaligus. Menjadi guru playgroup, mengajar bahasa Inggris paruh waktu dan memberikan les private beberapa mata pelajaran. Sedangkan Nicole bekerja di pabrik biscuit selama kurang lebih empat tahun, menjadi instruktur pilates dan menjadi penari ballet di beberapa company. Hanya saja semua itu dia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya untuk travelling, karena biaya pendidikannya sampai master sudah di cover oleh negara.

 

Hari sudah semakin sore beranjak malam. Ruang chat kami sudah terbuka, kuceritakan semua kronologis yang terjadi, tapi tahukah teman, kalimat-kalimat apa yang aku baca dilayar monitor? Aku sudah berapi-api menceritakan semuanya. Amarah bercampur air mata masih bergejolak dalam dada. Tapi deretan kalimat justru melunturkan itu semua. “Sudahlah, lupakan itu semua, maafkanlah mereka, doakanlah mereka agar mereka tidak berbuat hal yang sama kepada orang lain. Uang bisa dicari kembali, banyak hal yang lebih berharga dari hanya sekedar sekumpulan nominal. Keselamatan diri jauh lebih utama. Kamu sudah memiliki hal yang mungkin kamu tidak punya sebelumnya. Tempat-tempat yang kamu kunjungi. Teman-teman baru yang menyenangkan. Semuanya adalah bagian dari suatu perjalanan dan pembelajaran. Keep them as your memories.”

 

Tapi…

 

“Tak ada tapi, bukankah semuanya telah terjadi. Jadilah pribadi lebih dewasa dan lebih teliti. Tidak ceroboh. Semua yang terjadi pasti memberikan nilai pelajaran yang berarti”

 

Tapi…

Aku masih saja mempertahankan argument ku.

 

“Kalau masih mengganjal, tunaikanlah shalat dengan benar. Bila perlu lakukan meditasi.”

 

Dan aku tertegun membaca kalimat demi kalimat itu. Semakin tertegun membaca kalimat terakhir. Shalat dan meditasi? Kadang kala kita memerlukan air dikala kita benar-benar merasa disiram bensin yang membakar semua bagian tubuh kita. Dan keluarga, adalah air itu. Kakakku tercinta, tepatnya, adalah orang yang selalu tahu apa yang seharusnya dilakukan ketika aku tak tahu harus berbuat apa. Dia adalah orang yang selalu berhasil menentramkan aku. Melihat segala sesuatu bukan hanya karena uang semata. Mungkin dia benar, aku hanya kehilangan sejumlah angka tapi Yang Maha Kuasa memberikan aku banyak pelajaran hidup yang amat sangat berharga.

  • view 24