kata di bulan ketiga

kata di bulan ketiga

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Puisi
dipublikasikan 01 April 2018
kata di bulan ketiga

kata di bulan ketiga

 

kemudian aku menulis,

berjuta huruf,

beribu kata,

beratus kalimat.

 

namun tiba-tiba,

dia,

diarah sebelah utara,

menghentikan goresan penaku,

menatap tajam kearahku,

 

duhai gadis kecilku,

berhentilah mengayunkan penamu,

tak kulihat ada yang baru dalam tulisanmu,

tak pula kurasakan hal yang baik bergerak kearahmu,

sudah berapa lama engkau menunggu,

bukankah tak pernah datang yang engkau tunggu,

berhentilah,

berhentilah,

berhentilah mengejar bayang-bayang,

apa kau puas dengan yang telah kau tulis,

apa kau bahagia dengan semua penderitaanmu,

apa kau tak menyadarinya,

emosimu sudah terkuras,

habis terhempas,

masih belum kah engkau menyadarinya,

lihatlah,

lihatlah yang sudah kau tulis,

tak satupun aku melihat ada perbaikan,

lihatlah kalimat yang kau susun,

kata yang kau pilih,

engkau sungguh masih jauh,

jauh dari ketentuan yang mereka tetapkan,

berpalinglah kearah yang lain,

tengoklah diseberang sana,

kau harus mengubah langkahmu,

mencari celah dilahan yang baru,

kulihat engkau sudah lelah,

 

duh Gusti,

mengapa dia berpanjang kata,

betapa berani dia berceramah,

sungguh aku merasa terkoyak,

tak sadarkah dia sedang berbicara dengan siapa?

 

a little,

innocent girl,

who knew nothing,

about this world!

 

duh Gusti,

tega-teganya dia menghentikan langkahku,

berani sekali dia membuat aku berkaca,

dan membenamkan kepala,

push me into the deep end!

 

duh Gusti,

sungguh aku tak kuasa,

 

sekali ini aku merasa muak mengingatnya,

tak sudi lagi aku menengok kearahnya,

tak peduli aku kepadanya,

aku berlari,

mundur menjauhinya,

bahkan aku tak ingin menyebut namanya,

bulir bening tak terbendung, tak terkata

dia mengalir dengan derasnya,

 

duh Gusti,

aku ingin mengadu kepadaMu,

akan aku katakan semua tentang dia,

 

maka aku bergegas,

mengambil air suci

meraih kain putih,

menutupi ragaku,

aku ingin mengadu kepadaMu,

ya,

hanya,

kepadaMu,

tidak kepada dia lagi.

duh Gusti,

aku ingin menangis,

namun aku tak bisa menangis,

ketika tanganku menengadah,

namun tak jua bibir ini bergerak,

sungguh aku kehilangan kata,

untuk berkata tentang dia,

kemudian sajadahMu menjadi lautan airmata,

aku tak kuasa,

sungguh tak kuasa,

duh Gusti...

 

namun tiba-tiba,

aku teringat pesan Imam Ali,

untuk TIDAK MENCOBA MENYERAH

dan,

TIDAK MENYERAH UNTUK MENCOBA

 

tahukah dia bahwa aku baru belajar berani,

seperti apa yang dikatakan Gandhi,

“The enemy is fear,

We think it is hate,

but it is fear.”

 

akupun mengingat pesan professor jenius,

yang baru tutup usia,

setelah usiaku berkurang dua hari sebelumnya,

Hawking berkata,

“However DIFFICULT  life may seem,

there is always something you can do and succeed at

It MATTERS that you DON’T JUST GIVE UP”

 

kemudian aku teringat,

dua sahabat hebat,

lautan ilmu yang seluas samudera,

dialah Mustofa Bisri dan Quraish Shihab,

syahdan,

suatu hari,

Bisri ditawari sebuah posisi,

Shihab ngotot agar Bisri harus mengambilnya,

namun apa yang dilakukan Bisri?

tergodapun tidak dia pada tawaran itu,

Shihab marah besar,

ketika ditanya mengapa?

Bisri menjawab,

dia memang sahabat baik saya,

dia berhak mempunyai pendapat dan suara,

namun aku pun punya pendirian,

dan keyakinan,

untuk memutuskan,

untuk jalan yang aku ambil,

 

maka kini aku berada disisi Bisri,

kamu boleh berpendapat,

namun akupun punya jalanku sendiri,

I have my own way!

to move forward,

instead of standstill.

 

 

Maret2018

 

 

 

  • view 39