Cerita dari Kereta

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2018
Cerita dari Kereta

[ Cerita dari Kereta ]

Aku sudah lupa kapan tepatnya menjadi pengguna setia commuter line, hmmm, let me think for a second… Ah, ya semenjak Pakde Jokowi menaikkan bbm dan makin berat terasa bahwa ongkos kendaraan dinegara kita memang jauh lebih mahal ketimbang harga sesisir pisang lampung :p Well, anyway kita ga bakalan ngomongin tentang Pakde juga sih, we are too young to talk about politics though, or we just dont care about politics? I dont know.

Sebenarnya ada trigger lain yang memacu diriku untuk berpindah moda transportasi, dan apakah itu??? tentu saja jawabannya adalah m-a-c-e-t yang ter-la-lu… (rhyme nya pake suara bang haji rhoma yaaa), dimana-mana macet udah jadi hal yang biasa, tapi bagi saya yang masih belajar sabar, ternyata saya kurang sabar sodara-sodara dalam menunggu antrian kendaraan walau berada di jalan tol sekalipun. Maka, tepatlah jika saya memilih sepur sebagai karpet ajaib yang siap melayang-layang di rel mengantar saya dan ribuan penumpangnya.

Dan, alasan yang ketiga adalah masalah kebersihan. Konon kabarnya, Bp. Ignatius Jonan (silahkan koreksi kalau saya salah menuliskan nama beliau) sudah melakukan banyak “revolusi” terkait kereta. Tak ada lagi pedagang asongan, pengamen dan (mungkin) copet. Yang ada konon kabarnya adalah toilet bersih (dan ga bayar, itu yang paling penting J), tiket bersubsidi dan mungkin para awak kru krl yang unyu-unyu (korban medsos pejabat publik unyu-unyu J). Last but not least, ini yang terpenting diantara yang paling penting, tak ada asap rokok! Bukankah (kita) para perokok pasif jauh lebih “merugi” ketimbang para smoker itu sendiri?

Syahdan, mari kita memulai cerita kita dari rute yang biasa saya lalui. Saya biasa memulai perjalanan dari stasiun Sudimara, stasiun yang membuat bingung para commuter, sebenarnya dia masuk ke wilayah Serpong-Tangerang, Bintaro atau Ciputat, but (again) we won’t argue about this stuff :p Saya biasa memulai perjalanan dengan menggunakan kereta jam 6.45 kalau terlambat ya naik kereta berikutnya, don’t worry be happy tiap sepuluh sampai lima belas menit kereta ada kok. Nah yang jadi masalah kalau keretanya terlambat (walau hanya sepuluh menit) maka dipastikan terjadi penumpukan penumpang. Dalam kesempatan inilah saya biasanya tiba-tiba menjadi manusia “observer” yang mengamati para commuter. Mulai dari ibu-ibu hamil yang menenteng tas selempang berisi susu hamilnya, eksekutif muda yang mempertahankan dandanan exclusive-nya meskipun yakin didalam akan “bertaruh nyawa”, well, inilah tuntutan ibukota (temennya ibutiri J), ada juga yang berdandan ala kadarnya bahkan cenderung mengarah “tak berdandan”. Last but not least, tentu saja golongan para hijabers modis nan manis yang senantiasa mengupdate dan mengupgrade performa mereka supaya tak kalah dengan model-model online shop. Aku bahkan masih tak habis fikir, mereka bangun jam berapa ya agar “tatanan” hijabnya cantik (tapi ribet) begitu rupa ^_^

Tak hanya penampilan bagian atas saja sebenarnya, bagian bawahpun selalu menjadi concern saya sebagai seorang observer. Sepatu!!! Apalagi coba property yang jadi andalan (kami) para kaum hawa hahahaha. Ini “tak habis fikir saia yang ke 2”, bagaimana mungkin mereka masih mau mengenakan sepatu hi-heels padahal didalam PASTI berdiri!!! Tiga puluh menit sih, tapi tetep aja pegel keles :p :p :p Tapi balik lagi, the choices are in your hands. Kalo gue pribadi sih prefer sneakers/flat shoes. Why ??? Trust me, when you are in commuter line from Monday to Friday you won’t feel that you are in a train. Lo bakalan ngerasa ada di Ancol yang naik kora-kora atau ombak banyu pasar malam ketimbang ngerasa ada di dalam kereta!!! Lo harus siap-siap untuk berdiri berhimpit-himpitan, susah gerak, “nebeng” kepala di pundak orang, siap-siap kaki dimana tangan dimana hahahaha. Satire emang, but that’s the reality!!! Kalau sebelah lo ibu-ibu majelis taklim maka bersiaplah berzikir bersama mereka. Kalimat thoyibah “Astagfirullah” dan “Allahu Akbar” akan berkumandang manakala sang masinis bermanuver ketika berhenti di tiap stasiun.

Commuter line, bagi saya adalah dua hal. Etalase ibu kota dan cerminan Indonesia. Jika ingin melihat glamorousnya Jakarta, berhentilah di stasiun Sudirman atau Palmerah. Maka engkau akan mendengar percakapan mengenai promosi jabatan, teman kantor yang digandeng atasan ekspatriat, cerita liburan, kuliner ter Instagrammable dan update film terbaru. Namun jika melihat cerminan Indonesia datanglah ke stasiun Duri. Niscaya yang mereka perbincangkan adalah harga bawang merah, orang-orang udik dengan bakul pecel dan toilet yang tak senyaman Sudirman, Palmerah atau Kebayoran. Toilet jongkoknya oglek-oglekan karena mungkin para ibu-ibu penjual sayur terlalu bersemangat ketika membuang hajat atau hanya sekedar pipis.

Commuter line bagi saya pada akhirnya adalah sebuah episode serial televisi, drama kehidupan. Bayangkan selama tiga puluh menit perjalanan Sudimara-Tanah Abang saya bisa mendengar dengan lengkap cerita seorang ibu tentang menantu perempuannya, from A to Z. Sungguh, maksud hati tak ingin menguping, namun apa daya aku berdiri persis menempel dengan bahu nya. Ibu A curcol kepada Ibu B mengenai tabiat menantu perempuannya dari awal mereka pacaran, menikah, punya anak sampai sekarang diujung perpisahan. Dapat kusimpulkan bahwa sedari awal Ibu A tak setuju dengan hubungan mereka berdua. Sudahlah beda agama, beda suku, adalah dua hal penting bagi si Ibu A untuk alasan ketidaksetujuannya. Ibu B, adalah typical good listener. Dia dengan sabar dan kadang mengangguk (kadang pula menguap) mendengarkan curhat sang sahabat. Kukira mereka berdua teman sekantor. Ini terdengar jelas dari percakapan mereka mengenai anak-anak mereka. Kutaksir dua orang ini berumur sekitar lima puluhan, namun masih bersemangat berbicara mengenai invoice, seminar kantor ataupun resep kue cubit. Tiga puluh menit cukup untuk episode drama kali ini J

Episode lain dari cerita hidup ini adalah tentu saja cerita cinta. Tak terhitung berapa kali saya menangkap teenagers atau adults yang ber-pda ria, seakan dunia milik mereka berdua sementara yang lainnya dianggap hanya pemeran pembantu belaka :p Cinta memang ada dimana-mana, di gerbong wanita, maupun di gerbong pria. Tapi kalo mau lihat yang utuhnya, ya lihat saja waktu mereka sebelum beranjak naik gerbong. Kalau tangannya saja sudah digenggam erat dari sejak sebelum masuk gerbong, maka pastilah itu pasangan jiwanya, tak perduli sudah sah secara syariat ataupun bukan yang jelas jangan coba-coba mengganggu mereka. Namun ada satu kejadian yang membuat saya agak merinding, cuma satu atau dua kali sih, namun saya melihat persis disamping dimana saya berdiri bergelantungan. Dua orang sesama jenis (wanita) saling berpelukan. Berpelukan sambil melingkarkan tangan dipinggang mungkin sudah biasa, but I saw and I felt another thing, I think they have sex desire! Ini kenyataan! Sinar mata dan gesture tak bisa dibohongi, they are in love! Saya bergidik dan melangkah sedikit demi sedikit menjauhi mereka berdua, yang seolah tak peduli sekitarnya. Satu wanita berperawakan sedang, berambut agak cepak, sedang satu nya lagi lebih pendek berpotongan rambut bob. Inikah realita Jakarta? Begitu turun saya langsung menghela nafas.

Dari sekian banyak cerita, tentu saja yang paling banyak tertera diberita adalah pencapaian Nawacita. Kereta adalah salah satu simbol pembangunan infrastruktur yang patut dibanggakan. Kini banyak orang memilih moda transportasi ini ketimbang yang lainnya. Termasuk ketika saya pulang ke rumah di Sukabumi tercinta. Hanya dengan membayar 15.000 di bangku ekonomi kala weekday atau 20.000 kala weekend saya hanya waktu kurang lebih satu setengah jam untuk sampai dirumah dan langsung makan dengan lahap walaupun hanya dengan karedok made in Ceu Eha.

Namun sejatinya kereta Pangrango adalah romantisme bagi para lansia yang dengan senang hati mengenalkan cucu mereka akan bahasa Sunda. Sepanjang perjalanan Paledang-Sukabumi adalah scene demi scene film bagaimana warga Sukabumi yang bekerja dan menetap tinggal bahkan beranak pinak di ibu kota. Sebagai generasi ketiga, tak jarang kudengar mereka sudah tak berbicara bahasa Sunda. Patut dimaklumi karena memang mereka berkembang di ibukota. Bahkan sempat kudengar sekelompok keluarga yang luar biasa. Sang anak perempuan, bocah kecil kira-kira enam tahunan sepanjang perjalanan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Modernisasi!

Kereta dalam perjalannya kini semakin dicintai karena berbagai inovasi. Yang terbaru tentu saja isu integrasi transportasi, which is good! Dibeberapa stasiun kereta sekarang sedang dibangun banyak fasilitas lainnya. Mungkin salah satunya adalah jalur komuter yang menghubungkan dengan bandara Soekarno-Hatta sehingga perjalanan bisa ditempuh lebih singkat dan mudah-mudahan lebih hemat J

Transportasi publik memang sudah seharusnya menjadi prioritas sehingga bisa menunjang aktifitas warga tak hanya di ibu kota tapi juga di desa-desa. Saya membayangkan, tentu akan lebih indah jika setiap kota terhubung melalui jalur komuter line. Jalur yang tak harus selalu booking tiket jika memang jarak dekat seperti Bogor-Sukabumi yang tiketnya selalu habis terjual bahkan beberapa minggu sebelum jadwal keberangkatan.

  

  • view 82